Kompas, 1 Oktober 2007
Pemanasan Global
PERTANIAN PADI HARUS DIKAJI ULANG
Oleh Andreas Maryoto
Berbagai inovasi budidaya tanaman padi terus dilakukan. Perjuangan untuk meningkatkan produksi dan juga meningkatkan kualitas padi terus diupayakan. Akan tetapi, tantangan problem pemanasan global yang muncul membuat para peneliti harus mengkaji ulang pertanian padi sawah yang sudah menjadi tradisi dari waktu ke waktu.
Deputi Menteri Koordinator Perekonomian Bayu Krisnamurti dalam Kongres Nasional Perhimpunan Ekonomi Pertanian (Perhepi) XIV tanggal 3-5 Agustus di Solo, Jawa Tengah, telah memperingatkan hal itu. Persoalan pemanasan global harus menjadi salah satu faktor dalam melihat masalah-masalah pertanian. Pemanasan global akan berpengaruh terhadap produktivitas tanaman pangan dan ketersediaan air.
Studi yang sudah ada menunjukkan produktivitas padi di China akan menurun 5-12 persen apabila suhu mengalami kenaikan 3,6 derajat Celsius. Kasus yang sama juga akan terjadi di Banglades. Produksi beras di negeri itu akan turun sekitar 10 persen. Produksi gandum di Banglades akan turun sepertiganya pada 2050 dibandingkan dengan produksi saat ini jika kenaikan suhu itu terjadi.
Kaitan pemanasan global dengan sektor pertanian, khususnya budidaya padi, juga telahmenjadi perhatian banyak pihak. Konferensi Pemanasan Global yang dilaksanakan di Bangkok, Thailand, beberapa waktu lalu kembali mengingatkan perlunya pengkajian budidaya padi untuk mengurangi produksi gas rumah kaca yang menjadi penyebab pemanasan global itu.
Panel Antar Pemerintah tentang Pemanasan Global seperti diberitakan Environmental News Network menyimpulkan bahwa budidaya padi adalah satu di antara penyebab utama peningkatan emisi metana-salah satu gas rumah kaca yang 21 kali lebih berpotensi menyebabkan efek rumah kaca dibanding karbon dioksida-yang menyebabkan kerusakan ozon dan kenaikan suhu.
Dalam pertemuan itu muncul draf perubahan budidaya padi dan juga perbaikan usaha peternakan yang diharapkan dapat menurunkan emisi metana dari sektor pertanian. Penurunan produksi gas metana itu diharapkan dari sekitar 56 persen dibanding produksi gas metana saat ini apabila perbaikan budidaya padi dilakukan.
"Tidak ada budidaya tanaman yang menyumbang emisi metana terbesar (selain padi)," kata Koordinator Konsorsium Padi dan Perubahan Iklim Reiner Wassman dari International Rice Research Institute (IRRI) Filipina.
Ia mengatakan emisi gas dalam produksi padi adalah unik. Selain memproduksi gas metanayang berasal dari peruraian bahan organik usaha tani padi, juga memproduksi karbon dioksida yang dihasilkan dari pembakaran sisa tanaman padi. Usaha tani padi juga memproduksi nitrogen dioksida dari peruraian pupuk. Semua gas itu merupakan penyebab efek rumah kaca.
Jika warga Asia ingin mengurangi produksi gas rumah kaca, mereka harus melihat produksi padi. Reiner mengatakan pertanian padi bukanlah produsen gas metana terbesar, tetapi di Asia usaha tani padi tidak bisa diabaikan terkait masalah produksi gas metana itu
Peneliti
Di mata para peneliti, hal yang lebih mudah adalah memperbaiki usaha tani daripada menjalankan berbagai rekomendasi lainnya terkait dengan penurunan emisi gas metana di Asia. Hal ini dikarenakan penurunan gas emisi dengan mengurangi penggunaan batu bara dan beralih ke sumber energi lainnya diperkirakan akan mengguncang ekonomi negara-negara di Asia. Berbagai industri akan terguncang jika secara mendadak beralih ke energi alternatif. Mereka tidak siap untuk mengubah sumber energi dalam waktu singkat. Harga energi alternatif juga tidaklah murah, di samping konversi itu juga membutuhkan biaya.
Studi tentang penurunan emisi metana dalam produksi padi telah dilakukan pada tahun2005. Aslam Khalil dan Martha Searer dari Universitas Portland Amerika Serikat telah mencoba perubahan usaha tani untuk menstabilkan emisi gas metana ke udara. Dari penelitian mereka diketahui pengairan sawah secara berlebihan akan mendorong emisi gas metana.
Beberapa negara telah berupaya untuk mengurangi produksi gas metana itu. Persoalan muncul dari teknik budidaya alternatif hingga sosialisasinya agar produksi gas metana bisa berkurang. Tahun ini IRRI membentuk Konsorsium Padi dan Perubahan Iklim untuk menilai dampak langsung dan tidak langsung perubahan iklim terhadap produksi padi. Konsorsium ini, seperti dikutip Rice Today, juga akan mengembangkan strategi dan teknologi produksi padi yang mengadaptasi perubahan iklim serta mencari manajemen yang bisa mereduksi emisi gas melalui intensifikasi. Pada tahap awal IRRI memfokuskan pada perbaikan varietas padi yang tahan terhadap panas. Sejumlah ahli telah dilibatkan dalam proyek ini.
Sementara itu Thailand sudah menyosialisasikan tentang kemungkinan-kemungkinan pengurangan pemanasan global yang bisa dilakukan para petani. Para petani juga mengakui bahwa mereka sudah mendapat sosialiasi dari pemerintah mengenai cara-cara mengurangi emisi gas metana.
Pemerintah Thailand menjelaskan dampak pembakaran sisa tanaman akan menghasilkan karbon dioksida. Pengairan sawah yang berlebihan juga akan menghasilkan gas metana. Gas-gas inilah yang menimbulkan efek rumah kaca.
Indonesia, menurut Direktur Pengairan Departemen Pertanian Gatot Irianto, sebenarnya tidak termasuk negara yang berkewajiban menurunkan emisi gas rumah kaca. Emisi gas rumah kaca Indonesia masih tergolong kecil. Selama ini sumber gas rumah kaca terbesar berasal dari industri yang berada di negara-negara maju.
"Meski demikian, kami telah menerapkan Pengelolaan Tanah dan Tanaman Terpadu maupun Sistem Intensifikasi Padi yang menurunkan pasokan air ke sawah sehingga produksi gas metana berkurang. Kemungkinan mereduksi gas rumah kaca adalah dengan sistem irigasi macak-macak," kata Gatot. Sistem dengan pengairan yang tidak berlebihan itu akan mengurangi produksi gas metana.
Terkait dengan pemanasan global, Gatot mengatakan, Indonesia malah termasuk dalam korban perubahan iklim global. Indonesia terkena dampak dari pemanasan global seperti kekeringan dan banjir yang terjadi selama ini. Saat kemarau akan mengalami kekeringan yang hebat, sedangkan saat musim hujan akan terjadi banjir besar. Di samping itu hutan yang ada karena kekeringan, sebagai dampak pemanasan global, menjadi sensitif terhadap kebakaran. Departemen Pertanian sudah berupaya menurunkan emisi gas rumah kaca seperti meminimalkan pembukaan lahan gambut serta menghindarkan pembakaran sisa tanaman. Badan Litbang Departemen Pertanian mengenalkan sistem terpadu tanaman dengan peternakan yang menggunakan sisa tanaman untuk pakan ternak. Sistem ini meminimalkan pembakaran sisa tanaman yang bisa memproduksi karbon dioksida.
Meski berbagai upaya dilakukan oleh sejumlah negara, diperkirakan sampai 2020 masih akan terjadi peningkatan emisi metana hingga 16 persen dibanding 2005. Persoalan lain menjadi pendorong produksi gas metana.
Di samping negara maju belum banyak mengurangi produksi gas emisi, di negara berkembang perluasan sawah masih terus terjadi. Perluasan sawah masih terus terjadi karena adanya desakan kebutuhan peningkatan produksi pangan negara-negara itu. Seorang peneliti mengingatkan, untuk membicarakan masalah pemanasan global kepada petani, pemerintah tidak bisa membicarakan masalah ini terlepas dari persoalan tradisi, penghasilan, dan juga pemenuhan kebutuhan pokok.
Hal itu masih menjadi kendala upaya pengkajian ulang usaha tani padi menghadapi masalah pemanasan global. Perubahan usaha tani padi sulit dilakukan jika tidak mengaitkannya dengan problem kemiskinan yang ada di pedesaan.
Para petani diperkirakan tidak akan mau mengubah usaha tani mereka yang sudah dilakukan bertahun-tahun tanpa jaminan kejelasan penghasilan. Sistem insentif petani diusulkan agar petani mau mengubah usahatani padi meski hal ini tidak gampang.
Jumat, 16 Mei 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar