Jumat, 16 Mei 2008

SEJARAH PERTANIAN

Kompas, 14 November 2006
Kebudayaan
MUSEUM PERTANIAN, JENDELA PERADABAN
Oleh Andreas Maryoto

Perjalanan umat manusia selalu terkait dengan pangan. Evolusi pencarian pangan hingga memunculkan teknik budidaya yang disebut pertanian merupakan kisah umat manusia yang sangat panjang. Kisah itu bisa dilihat dan dipahami bila kita memiliki museum pertanian. Sebuah kompleks riset pertanian dimiliki oleh India. Pusat riset itu berada di wilayah Pusa, New Delhi. Kompleks ini memiliki fasilitas yang sangat komplet, baik untuk kepentingan penelitian, studi, maupun konferensi, baik yang bertaraf nasional maupun internasional.
Selain itu, kompleks ini memiliki museum pertanian yang bernama National Agricultural Science Museum (NASM). India mengklaim negara itu merupakan negara pertama yang memiliki museum pertanian di dunia. Museum ini didirikan pada tahun 2004 dan memiliki luas 23.000 kaki persegi.
NASM menampilkan gambaran perkembangan pertanian India sejak zaman prasejarah hingga saat ini serta kemungkinan perkembangannya di masa yang akan datang. Untuk memberi konteks, museum ini menampilkan posisi bumi-tempat peradaban manusia-di tengah alam semesta. Museum ini juga menampilkan evolusi manusia dari Australopithecus sp hingga Homo Sapiens atau manusia sekarang ini. NASM juga menampilkan migrasi suku Arya, salah satu suku besar di India. Untuk menggambarkan semua itu, NASM memamerkan sebanyak 150 tampilan yang terbagi dalam 10 tema utama.
Di dalam museum itu diperlihatkan diorama pertanian di bumi India, dimulai sekitar 10.000 tahun Sebelum Masehi. Budidaya pertama diduga dilakukan di daerah Timur Tengah. Awalnya, pertanian ini dilakukan oleh bangsa nomaden yang kemudian menjadi petani dan tinggal di sebuah wilayah. Selain pertanian, manusia saat itu juga belajar melakukan domestifikasi hewan, membuat keramik, mengolah biji-bijian, dan membuat pakaian.
Berdasarkan penelitian arkeologi, diketahui peradaban pertama di India terdapat di lembah Sungai Indus yang muncul pada 5.000 tahun Sebelum Masehi. Peradaban yang juga disebut peradaban Harappan merupakan peradaban yang telah menggunakan alat yang terbuat dari tembaga dan perunggu. Kereta dan alat bajak sawah merupakan dua temuan gemilang masa itu.
Masyarakat Indus saat itu telah membudidayakan tanaman gandum, kacang-kacangan, padi, dan sejumlah tanaman lainnya. Mereka juga sudah membuat infrastruktur irigasi dan pakaian yang terbuat dari kapas.
Setelah itu era Veda, di mana teknologi logam sudah dikenalkan di India. Bajak yang terbuat dari besi dan juga penggunaan kuda membuat pertanian makin efisien. Masyarakat saat itu sudah menggunakan kalender bulan dan mengkaji keterkaitan revolusi bumi terhadap pertanian. Pada masa Veda berikutnya sejumlah buku penting seperti Artha Shastra oleh Kautilya, Brihat Samhita oleh Barahamihira, dan Krishi Parasara oleh Parasara diterbitkan sehingga bisa memberi gambaran lengkap pertanian saat itu. Kaisar seperti Ashoka dan Harshavardhana mendorong usaha pertanian.
Setelah itu periode Sultan dan Mughal yang diingat melalui reformasi pendataan dan harga tanah. Tindakan ini dilakukan oleh Allaudin Khalji, Feroj ShahTughlak, dan Sher Sahah Souri. Pada periode ini dikenalkan teknik penanaman secara ilmiah dan dilakukan pencatatan flora dan fauna yang ada di India.
Saat itu sejumlah besar tanaman dari luar negeri dikenalkan ke India oleh pendatang bangsa Portugis ketika bangsa Eropa itu mulai memasuki Asia. Salah satu bagian museum menampilkan gambar berukuran besar mengenai ekspedisi bangsa-bangsa Eropa ke Timur Jauh hingga ekspedisi itu memengaruhi pertanian bangsa India. Gambar ini juga memperlihatkan komoditas-komoditas yang disukai oleh pasar Eropa saat itu.
Kedatangan Inggris menandai awal modernisasi pertanian di India. Inggris membawa alat-alat pertanian dan teknologi perbaikan benih. Mereka juga membangun bendungan dan memperkenalkan pendidikan dan riset pertanian.
Akan tetapi, kondisi petani saat itu makin tidak jelas di bawah kendali penguasa Inggris. Kebijakan perdagangan kapitalis menghasilkan keresahan di kalangan petani dan kelaparan di hampir sebagian besar India.
Periode kemerdekaan yang dimulai sejak tahun 1947 merupakan periode yang berat karena perekonomian yang sulit. Para pendiri India langsung membuat rencana pengembangan India. Mereka menargetkan swasembada di bidang pertanian dan pengembangan infrastruktur pertanian serta pendidikan bidang pertanian.
Dibantu oleh kenaikan produktivitas benih, India mengikuti Revolusi Hijau. Sejak awal 1950-an hingga 2000-an, produksi komoditas biji-bijian India meningkat 50 persen menjadi sekitar 200 juta ton. Kemajuan yang sama juga terjadi pada produksi buah-buahan, sayur-sayuran, susu, teh, unggas, dan ikan.
Museum juga menampilkan tantangan pertanian global seperti skenario perubahan dunia, topik-topik baru yang diminati, ledakan penduduk dunia, peningkatan ongkos pertanian, dan penggunaan bioteknologi. Diorama pengembangan ini terdapat di dalam seksi isu global yang terkait pertanian.
Pertanian India menjadi salah satu bukti pertumbuhan dan pengembangan pertanian yang sukses di dunia. India muncul dari negara yang kekurangan pangan pada masa lalu dan sekarang telah menjadi negara swasembada. Negara ini mengekspor beras sebanyak 1,16 juta ton untuk jenis aromatik dan 3,90 juta ton untuk beras non-aromatik pada tahun lalu.
Mereka menjaga dan mengembangkan enam pilar sektor pertanian. Enam pilar itu adalah tanah, air, iklim, benih, peralatan, dan petani. Keenamnya terkait satu sama lain. Pengembangan pertanian di India selalu mengaitkan enam pilar itu. Inilah yang menjadikan pertanian di India maju.
Keadaan seperti itu akan terjadi di suatu negara yang sejak awal berdirinya memang serius menangani pertanian. Pemimpin mereka memahami soal yang satu ini. Pertanian merupakan bukti peradaban manusia yang tidak boleh ditinggalkan sepanjang manusia masih membutuhkan pangan.

Tidak ada komentar: