Kesusastraan
JEJAK INVOLUSI PETANI DALAM PUISI
Kompas 19 April 2008
Oleh Andreas Maryoto
Keindahan sawah dan keriangan petani tinggal kenangan. Ungkapan-ungkapan sentimentil tentang keelokan kampung halaman dengan sawah yang membentang, gunung yang membiru, dan air yang jernih adalah cerita masa lalu. Pemandangan yang indah telah berganti dengan penderitaan petani.
Kini kehidupan petani yang susah yang sebenarnya ada. Setidaknya puisi menjadi cerminan itu. Ketika pejabat masih mengatakan petani sejahtera, puisi telah menyatakan keadaan yang sebenarnya. Ketika data-data produksi padi disodorkan meningkat, puisi telah menyodorkan kabar sesungguhnya tentang derita dan bencana petani. Puisi sesungguhnya berbicara lebih dari sekadar angka-angka.
Adalah angkatan Pujangga Baru (1930-1942) yang boleh dibilang meletakkan alam sebagai sumber inspirasi puisi dalam kesusastraan modern Indonesia. Ketika gaya pantun dan syair mulai ditinggalkan, puisi romantis yang dipelopori angkatan Pujangga Baru menjadi roh baru dalam dunia kesusastraan kala itu.
Angkatan ini dengan kegelisahan zamannya mengangkat tema-tema romantis, di antaranya tentang kampung halaman. Angkatan Pujangga Baru dipengaruhi oleh Angkatan 80 di Belanda yang beraliran romantisme. Meski demikian, Prof Ahmad Samin Siregar dari Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara mengatakan, aliran romantisme masuk ke Indonesia sekitar 30 tahun setelah aliran itu berkembang di Belanda. Siregar mengatakan, puisi-puisi zaman Pujangga Baru memang diwarnai dengan kerinduan terhadap tanah kelahiran dan kampung halaman.
Sutan Takdir Alisjahbana dalam artikel bersambung berjudul Poeisi Indonesia Zaman Baroe di dalam Majalah Poedjangga Baroe, 7 Januari 1935, menyebutkan, "Dalam seni segala masa amat pentinglah perhoeboengan antara manoesia dengan alam sekelilingnja. Sebabnja lain dari pada soember inspirasi, alam jang pelbagai ragam itoe bagi ahli seni adalah teladan jang tiada habis-habisnja".
Sawah dan petani sudah pasti menjadi konteks yang tepat ketika berbicara mengenai alam dalam sastra Indonesia kala itu. Beberapa penulis puisi dengan karya-karyanya yang menyinggung panorama sawah dan kehidupan petani, antara lain penulis dengan inisial Mozasa (kemungkinan Zain Saidi, koresponden Poedjangga Baroe di Kisaran, Sumut) dengan judul Amanat. Pada bait ketiga berbunyi, "hanja sekedjap akoe berpaling/menoleh tanah indah beraloer/dengan mata berair dan silau/serta kening berkeroet maroet/bingkah-bingkah tanah jang besar/tipis soembing dibongkar soengkal/berserak rata gemboer berkilat/gemerlapan mengoeat gairat".
S Yudho (inisial dari S Yudhodipuro, koresponden Poedjangga Baroe di Yogyakarta) pada bait empat sampai enam puisi berjudul Fadjar menulis, "di sawah padi mengaloen diajoen/ Sepoi, menggerosok rimboen dikeboen/ di saat sepi// koetindjau emboen di daoen berkilau/ba' nilam disinar seroja menjilau/di pagi hari//Mendengar akoe peladang berlagoe/ Menoedjoe ke sawah tjangkoel dibahoe/Bersenang hati".
Sawah
Sanusi Pane menulis puisi dengan judul Sawah dan Menumbuk Padi. Ia menjadi sastrawan Pujangga Baru yang banyak mengungkap keindahan panorama sawah dengan kalimat-kalimat yang indah. Sanusi Pane melihat alam selalu gembira dan merupakan sumber inspirasi yang tak pernah habis.
Tema-tema sawah dan pertanian kembali berlanjut setelah perang kemerdekaan. Trisno Sumardjo pada 24 Desember 1951 menulis puisi dengan judul Pinggir Sawah. Salah satu baitnya berbunyi, "dalam bayangan daun mendesau/hati mengaji hikmat yang sedap/alangkah sukur bekerja di sini di tengah rahmat kaum petani/dan di medan kehijauan terlaksana bahagia/manusia pertama di permulaan zaman". Judul puisi ini menjadi judul antologi puisi dwi bahasa Indonesia-Jerman yang berisi kumpulan para sastrawan Indonesia. Buku ini diterbitkan tahun 1990.
Pada tahun 1958 sepulang dari Eropa, Ramadhan KH menerbitkan kumpulan puisi berjudul Priangan si Jelita. Meski tidak menyebut sawah, ia menggambarkan tanah kelahirannya begitu indah. Panorama hijau yang ada di Cianjur-Bandung memesonanya. Inilah konteks ketika Priangan si Jelita ditulis.
Ajib Rosidi dalam Hanya dalam Puisi menulis, "kulempar pandang ke luar/sawah-sawah dan gunung-gunung/lalu sajak-sajak tumbuh/dari setiap butir peluh/para petani yang terbungkuk sejak pagi/melalui hari-hari keras nan Sunyi.
Subagio Sastrowardojo menulis puisi dengan judul Nawang Wulan (yang Melindungi Bumi dan Padi). Pada bait ketiga puisi itu berbunyi, "tapi jaga anak yang menangis tengah malam minta susu/tapi jaga ladang yang baru sehari digaru/anak minta ditimang/ladang minta digenang/lalu panggil aku turun di teratakmu".
Romantisme
Hingga pada masa setelah itu kita masih bisa merasakan romantisme kehidupan petani dan panorama sawah. Sudah pasti aliran romantisme tidak hanya di puisi, tetapi juga pada seni lainnya.
Akan tetapi, belakangan, puisi-puisi yang ada mulai menyadarkan kita pada keadaan petani sesungguhnya. Tema-tema romantika sawah dan petani makin jarang. Yang muncul adalah tema-tema realisme sosial.
Banyak penulis yang gelisah dengan kehidupan petani. Sawah tidak lagi menarik. Kalau toh ada yang mendayu-dayu memuji keelokan sawah, tetap saja puisi mereka menyelipkan hal yang getir. Puja-puji bentang alam nan hijau tidak ada lagi dalam puisi-puisi yang ada pada masa sekarang.
Nanang Suryadi menulis puisi berjudul Pamflet Banten Selatan yang dalam salah satu baitnya tertulis, "hanya berkilometer dari Jakarta/kemiskinan nampak pada wajah saudara yang tak pernah menemukan pendidikan/apa yang kau bayangkan pada ladang dan sawah yang tak bisa mensejahterakan.
Di salah satu situs internet, ada nama Sanak Lembang Alam menulis puisi dengan judul Ketika. Bait ketiga berbunyi, "Air, dimana-mana air melimpah meruah membanjiri lembah/Dan sawah berpuluh, beratus, beribu hektar sawah, kang Cecep/Semua tenggelam ditelan air bah yang sangat dahsyat/Padi yang baru setinggi betis mulai akan berisi umbut/Handam karam tak berdaya, kang Cecep/Tambak udang dan ikan bandeng hilang lenyap tak berbekas".
Sebuah antologi puisi berjudul Bebegig (1998) penuh dengan keresahan di sawah. Puisi Asep GP berjudul Tembang berbunyi, "aku dengar sayup-sayup/kodok-kodok menembang/minta hujan/suaranya tersangkut di tenggorokan//sungai/aswah/di belakang rumah/Kering//Ikan-ikan menggelepar lemas/Kodok-kodok menembang minta hujan.
Ada juga puisi Tias Tatanka yang berjudul Orang-orangan Sawah yang berbunyi, "Orang-orang sawah tak ada lagi/belantara sawah petak-petak padi/mengusir burung-burung/mengusir kantuk petani/mengusik angina-angin//tak ada cerita kencil di badanmu/tak ada topi petani menakuti burung/tak ada rentang tangan kaku/tak ada gubuk/tak ada orang-orangan di sawahku".
Puisi Tias lainnya berjudul Petani Tertawa Karena Buncit Perutnya makin menyiratkan kegetiran yang mendalam. Ia menulis, "petani tertawa buncit perutnya bergoyang/isinya angin dan air mata/desaku kekeringan air mata mata air tak bisa keluar/sawahku hanyut diterpa angin/burung-burung pindah tak punya sarang/gembala melego seruling kerja jadi buruh di kota/petani tertawa anaknya tak sekolah/ikut kerja adalah nomor satu/yang penting ada duitnya/untuk beli beras yang ditanam sendiri/beli gula yang tak bisa dinikmati rasa manisnya/tak ada daging karena sapi tak punya/ayam-ayam hilang ditelan serigala/serigala ada di seluruh penjuru desa/anak-anak tak kenal orang-orangan sawah/petani tertawa melihat orang kota/pakai dasi mengelilingi desa/tertawa tanahnya diincar/"lha, itu artinya tanah saya diharagi mahal!"//(meski tak tahu nanti pindah ke mana).
Kemerosotan petani memang benar-benar sudah terjadi seperti dalam puisi-puisi belakangan ini. Proses itu akan terus terjadi hingga banyak petani mati bila keadaan ini dibiarkan begitu saja.
Puisi telah menjadi cermin kegelisahan itu. Kemerosotan alias involusi petani memang nyata di sekitar kita.
Sabtu, 25 Oktober 2008
PERDAGANGAN KOMODITAS
Komoditas
HARGA PRODUK PERTANIAN BERJATUHAN
Kompas 15 Oktober 2008
Oleh Andreas Maryoto
Hanya dalam hitungan bulan mimpi indah para investor untuk meraup untung besar dengan menanam uang di bisnis pertanian, terutama perkebunan, terhenti untuk waktu yang belum jelas. Krisis keuangan global sudah mulai berdampak pada perdagangan komoditas pertanian. Harga komoditas seperti jagung, kedelai, gula, dan gandum telah turun setelah pasar memperkirakan dalam beberapa bulan ke depan akan terjadi penurunan permintaan. Harga minyak sawit mentah (CPO) yang sudah turun dipastikan akan makin tertekan.
Pasar komoditas dunia dikabarkan tidak terpengaruh oleh upaya-upaya yang dilakukan AS dalam menangani krisis keuangan. Investor merespons situasi ini dengan berjaga-jaga, salah satunya mengurangi permintaan sejumlah komoditas itu untuk beberapa bulan ke depan. Harga jagung di Chicago Board of Trade untuk pengiriman Desember telah turun 6,61 persen (menjadi 4,24 dollar AS per gantang). Harga jagung turun menyusul penurunan permintaan komoditas itu untuk etanol. Penurunan produksi etanol terkait langsung dengan harga minyak yang juga turun.
Kecenderungan harga jagung yang turun akan memukul petani jagung di dalam negeri. Sejak dua tahun lalu petani bergairah menanam jagung karena harga yang terus membaik dari semula sekitar Rp 800 per kg menjadi Rp 2.600 per kg. Sejumlah pemodal besar juga memasuki bisnis ini karena sejak semula bisnis jagung diduga akan terus membaik seiring dengan kenaikan harga minyak.
Proyeksi produksi jagung yang memperkirakan produksi akan naik dipastikan makin menekan harga jagung. Departemen Pertanian AS (USDA) dalam proyeksi produksi jagung di AS yang terbaru menyebutkan, perkiraan produksi tahun ini mencapai 12,2 miliar gantang. Angka ini lebih tinggi dibanding proyeksi sebelumnya yang hanya sekitar 12,1 miliar gantang. USDA sudah mengingatkan soal kemungkinan penurunan harga akibat kenaikan pasokan. Meski demikian, mekanisme pengendalian harga yang dilakukan AS dalam membantu petani mungkin masih bisa mencegah kejatuhan drastis harga jagung.
Harga gula juga mengalami penurunan drastis. Di bursa London (LIFFE) harga gula (white sugar) pada Agustus mencapai puncak mendekati 440 dollar AS per ton, tetapi pada akhir pekan lalu anjlok di bawah 340 dollar AS per ton.
Saat ini Indonesia masih tergantung pada gula impor, maka penurunan harga turut menekan harga gula produksi di dalam negeri. Kemungkinan penyelundupan gula perlu diwaspadai karena harga gula impor menjadi sangat murah. Harga di dalam negeri saat ini sekitar Rp 5.000 per kg. Dengan harga di London setinggi itu, ada insentif besar untuk menyelundupkan gula ke dalam negeri. Harga gandum turun 7,03 persen (5,95 dollar AS per gantang). Harga gandum meski mengalami penurunan tidak langsung akan menurunkan harga terigu dan juga produk turunannya secara langsung di dalam negeri. Kalangan produsen biasanya menunggu hingga harga stabil, baru mereka menyesuaikan harga penjualan.
Harga kedelai untuk pengiriman November turun 7,06 persen (9,22 dollar AS per gantang). Harga kedelai yang turun akan menurunkan harga kedelai di dalam negeri. Hal ini karena sebagian besar kebutuhan kedelai di dalam negeri diimpor. Meski demikian, penurunan harga produk asal kedelai seperti tahu dan tempe tidak akan cepat terjadi.
Kenaikan produksi kedelai juga diperkirakan terjadi pada tahun ini sehingga akan menekan harga kedelai di tengah tekanan akibat penurunan permintaan karena krisis finansial itu. Perkiraan produksi kedelai terbaru di AS naik dari 2,93 miliar gantang ke 2,98 miliar gantang. Untuk harga CPO yang telah menurun sejak beberapa bulan lalu diperkirakan juga kembali turun karena untuk saat ini harga CPO juga sangat terkait dengan harga minyak. Ketika harga minyak dunia turun, harga CPO juga akan turun. Pada Maret lalu harga CPO di bursa Kuala Lumpur, Malaysia, mencapai 3.695 RM (ringgit Malaysia) per ton, tetapi menjadi 2.347 RM per ton pada akhir September lalu.
Sindikat internasional
Jadi, sebelum krisis finansial harga CPO telah menurun. Informasi dari kalangan produsen CPO menyebutkan adanya sindikat internasional yang diduga mendorong kenaikan harga CPO hingga menarik para investor untuk masuk ke bisnis ini sejak beberapa waktu lalu. Harga yang menjulang menjadikan pemilik modal yang tidak tahu-menahu dengan kelapa sawit berlarian menanamkan modal ke perkebunan sawit.
Ketika mereka beramai-ramai masuk, perangkap sindikat ini dimainkan. Harga CPO mulai diturunkan sehingga investor yang sudah terlibat dengan utang perbankan bersiap-siap keluar dari bisnis kelapa sawit. Sindikasi inilah yang nantinya "mengurus" utang dan juga aset-aset milik investor dadakan itu. Pada saatnya nanti, sindikasi ini menguasai bisnis kelapa sawit secara besar-besaran.
Mempercepat kejatuhan
Krisis finansial yang disertai dengan penurunan permintaan CPO dipastikan makin mempercepat jatuhnya aset perkebunan kelapa sawit ke tangan sindikasi ini karena harga jual CPO makin tak menarik lagi. Harga sawit yang makin murah menjadikan investor dadakan tak lagi berniat meneruskan bisnis.
Sindikasi itu yang berpikir jangka panjang dengan senang hati menolong para investor ini, dengan mengucurkan dana. Namun, kelak mereka menjadi raja bisnis kelapa sawit karena telah menguasai aset perkebunan di berbagai tempat. Meski demikian, keberadaan sindikasi ini sulit dideteksi. Dugaan itu hingga sekarang juga sulit dibuktikan dan tetap menjadi rumor. Indonesia perlu mencermati secara khusus perkembangan harga komoditas di pasar dunia karena sejumlah komoditas itu terkait langsung dengan industri dan juga nasib petani di Indonesia. Sayangnya, dibandingkan dengan negara lain, Indonesia relatif "tenang-tenang saja" menangani masalah ini.
Negara tetangga Malaysia sudah sejak awal memantau perkembangan ini dan berusaha mencari cara untuk menekan dampak penurunan itu. Malaysia meyakini dampak penurunan harga yang paling membahayakan adalah kerugian besar yang harus ditanggung petani. Mereka telah memperkirakan dampak sosial ekonomi penurunan harga komoditas akan menyulitkan mereka.
HARGA PRODUK PERTANIAN BERJATUHAN
Kompas 15 Oktober 2008
Oleh Andreas Maryoto
Hanya dalam hitungan bulan mimpi indah para investor untuk meraup untung besar dengan menanam uang di bisnis pertanian, terutama perkebunan, terhenti untuk waktu yang belum jelas. Krisis keuangan global sudah mulai berdampak pada perdagangan komoditas pertanian. Harga komoditas seperti jagung, kedelai, gula, dan gandum telah turun setelah pasar memperkirakan dalam beberapa bulan ke depan akan terjadi penurunan permintaan. Harga minyak sawit mentah (CPO) yang sudah turun dipastikan akan makin tertekan.
Pasar komoditas dunia dikabarkan tidak terpengaruh oleh upaya-upaya yang dilakukan AS dalam menangani krisis keuangan. Investor merespons situasi ini dengan berjaga-jaga, salah satunya mengurangi permintaan sejumlah komoditas itu untuk beberapa bulan ke depan. Harga jagung di Chicago Board of Trade untuk pengiriman Desember telah turun 6,61 persen (menjadi 4,24 dollar AS per gantang). Harga jagung turun menyusul penurunan permintaan komoditas itu untuk etanol. Penurunan produksi etanol terkait langsung dengan harga minyak yang juga turun.
Kecenderungan harga jagung yang turun akan memukul petani jagung di dalam negeri. Sejak dua tahun lalu petani bergairah menanam jagung karena harga yang terus membaik dari semula sekitar Rp 800 per kg menjadi Rp 2.600 per kg. Sejumlah pemodal besar juga memasuki bisnis ini karena sejak semula bisnis jagung diduga akan terus membaik seiring dengan kenaikan harga minyak.
Proyeksi produksi jagung yang memperkirakan produksi akan naik dipastikan makin menekan harga jagung. Departemen Pertanian AS (USDA) dalam proyeksi produksi jagung di AS yang terbaru menyebutkan, perkiraan produksi tahun ini mencapai 12,2 miliar gantang. Angka ini lebih tinggi dibanding proyeksi sebelumnya yang hanya sekitar 12,1 miliar gantang. USDA sudah mengingatkan soal kemungkinan penurunan harga akibat kenaikan pasokan. Meski demikian, mekanisme pengendalian harga yang dilakukan AS dalam membantu petani mungkin masih bisa mencegah kejatuhan drastis harga jagung.
Harga gula juga mengalami penurunan drastis. Di bursa London (LIFFE) harga gula (white sugar) pada Agustus mencapai puncak mendekati 440 dollar AS per ton, tetapi pada akhir pekan lalu anjlok di bawah 340 dollar AS per ton.
Saat ini Indonesia masih tergantung pada gula impor, maka penurunan harga turut menekan harga gula produksi di dalam negeri. Kemungkinan penyelundupan gula perlu diwaspadai karena harga gula impor menjadi sangat murah. Harga di dalam negeri saat ini sekitar Rp 5.000 per kg. Dengan harga di London setinggi itu, ada insentif besar untuk menyelundupkan gula ke dalam negeri. Harga gandum turun 7,03 persen (5,95 dollar AS per gantang). Harga gandum meski mengalami penurunan tidak langsung akan menurunkan harga terigu dan juga produk turunannya secara langsung di dalam negeri. Kalangan produsen biasanya menunggu hingga harga stabil, baru mereka menyesuaikan harga penjualan.
Harga kedelai untuk pengiriman November turun 7,06 persen (9,22 dollar AS per gantang). Harga kedelai yang turun akan menurunkan harga kedelai di dalam negeri. Hal ini karena sebagian besar kebutuhan kedelai di dalam negeri diimpor. Meski demikian, penurunan harga produk asal kedelai seperti tahu dan tempe tidak akan cepat terjadi.
Kenaikan produksi kedelai juga diperkirakan terjadi pada tahun ini sehingga akan menekan harga kedelai di tengah tekanan akibat penurunan permintaan karena krisis finansial itu. Perkiraan produksi kedelai terbaru di AS naik dari 2,93 miliar gantang ke 2,98 miliar gantang. Untuk harga CPO yang telah menurun sejak beberapa bulan lalu diperkirakan juga kembali turun karena untuk saat ini harga CPO juga sangat terkait dengan harga minyak. Ketika harga minyak dunia turun, harga CPO juga akan turun. Pada Maret lalu harga CPO di bursa Kuala Lumpur, Malaysia, mencapai 3.695 RM (ringgit Malaysia) per ton, tetapi menjadi 2.347 RM per ton pada akhir September lalu.
Sindikat internasional
Jadi, sebelum krisis finansial harga CPO telah menurun. Informasi dari kalangan produsen CPO menyebutkan adanya sindikat internasional yang diduga mendorong kenaikan harga CPO hingga menarik para investor untuk masuk ke bisnis ini sejak beberapa waktu lalu. Harga yang menjulang menjadikan pemilik modal yang tidak tahu-menahu dengan kelapa sawit berlarian menanamkan modal ke perkebunan sawit.
Ketika mereka beramai-ramai masuk, perangkap sindikat ini dimainkan. Harga CPO mulai diturunkan sehingga investor yang sudah terlibat dengan utang perbankan bersiap-siap keluar dari bisnis kelapa sawit. Sindikasi inilah yang nantinya "mengurus" utang dan juga aset-aset milik investor dadakan itu. Pada saatnya nanti, sindikasi ini menguasai bisnis kelapa sawit secara besar-besaran.
Mempercepat kejatuhan
Krisis finansial yang disertai dengan penurunan permintaan CPO dipastikan makin mempercepat jatuhnya aset perkebunan kelapa sawit ke tangan sindikasi ini karena harga jual CPO makin tak menarik lagi. Harga sawit yang makin murah menjadikan investor dadakan tak lagi berniat meneruskan bisnis.
Sindikasi itu yang berpikir jangka panjang dengan senang hati menolong para investor ini, dengan mengucurkan dana. Namun, kelak mereka menjadi raja bisnis kelapa sawit karena telah menguasai aset perkebunan di berbagai tempat. Meski demikian, keberadaan sindikasi ini sulit dideteksi. Dugaan itu hingga sekarang juga sulit dibuktikan dan tetap menjadi rumor. Indonesia perlu mencermati secara khusus perkembangan harga komoditas di pasar dunia karena sejumlah komoditas itu terkait langsung dengan industri dan juga nasib petani di Indonesia. Sayangnya, dibandingkan dengan negara lain, Indonesia relatif "tenang-tenang saja" menangani masalah ini.
Negara tetangga Malaysia sudah sejak awal memantau perkembangan ini dan berusaha mencari cara untuk menekan dampak penurunan itu. Malaysia meyakini dampak penurunan harga yang paling membahayakan adalah kerugian besar yang harus ditanggung petani. Mereka telah memperkirakan dampak sosial ekonomi penurunan harga komoditas akan menyulitkan mereka.
PERDAGANGAN KOMODITAS
Skandal Susu
PROBLEM TRANSISI EKONOMI DAN ETIKA DI CHINA
Kompas 3 Oktober 2008
Oleh ANDREAS MARYOTO
Seorang warga negara Indonesia yang tinggal di Shanghai, China, bercerita tentang repotnya mengurus makanan untuk anaknya. Ia mengeluh, banyak produk yang dipalsukan sehingga ia khawatir bahaya produk itu.
Kemudian ia bercerita, di sejumlah media pemalsuan itu mulai terungkap. Para pelaku kemudian dihukum. Meski demikian, ia mengaku tidak lega karena ia merasa setiap saat kasus ini akan terulang lagi.
Kecemasan warga negara Indonesia ini ternyata terbukti. Beberapa waktu yang lalu kita mengetahui pemalsuan telur. Kabarnya bahan baku "telur" itu dari tawas. Kemudian ada juga pasta gigi dan makanan asal laut yang juga dipalsukan.
Terakhir, pada pertengahan September lalu, sejumlah tes dilakukan terhadap produk berbahan baku susu. Hasilnya, ada kandungan melamin dalam produk-produk yang diperiksa itu. Pengungkapan skandal ini bermula dari laporan yang diterima salah satu produsen susu yang menyebutkan produk mereka menyebabkan bayi sakit pada Desember 2007. Kemudian pada Juni 2008 perusahaan ini menemukan kandungan melamin pada produk mereka. Hal ini disusul pengumuman baru bahwa kandungan melamin ditemukan di 22 produk.
Melamin digunakan untuk meningkatkan kadar "protein". Kandungan protein yang ditambah dengan melamin akan menunjukkan kadar "protein" tinggi. Korban pun berjatuhan karena melamin bisa menyebabkan munculnya batu ginjal dan kegagalan fungsi ginjal.
Laporan hingga akhir September menunjukkan sebanyak 53.000 orang sakit, 12.000 orang terpaksa dirawat di rumah sakit, serta empat bayi meninggal dunia setelah mengonsumsi produk yang dicurigai mengandung melamin. Kasus ini juga menjadikan sejumlah negara melarang produk asal China karena diduga mengandung melamin.Faktor perubahan
Di samping mencermati persoalan yang muncul di lapangan, berbagai kalangan juga berpikir mengapa kasus-kasus pemalsuan makanan mudah terjadi. Regulasi keamanan pangan telah mulai dibuat dan diterapkan. Aturan keamanan pangan itu juga terus diperbarui. Akan tetapi, mengapa kasus seperti ini berulang kembali?
"China mempunyai sejumlah masalah terkait dengan transisi ekonomi. Akan tetapi, masalah yang lebih besar adalah minimnya etika bisnis di China," kata Yanzhong Huang, ahli kesehatan global pada Universitas Seton Hall, New Jersey, Amerika Serikat, seperti dikutip The Christian Science Monitor, mengomentari kasus-kasus pemalsuan makanan di China.
Perubahan itu terkait dengan sistem ekonomi dari sosialis menjadi ekonomi yang berorientasi pasar. Ketika sistem sosialis diberlakukan, perusahaan-perusahaan yang ada dikendalikan secara sentral dengan aturan- aturan mikro dan lokal. Ketika ekonomi pasar mulai diperkenalkan, perusahaan itu harus berubah dan tunduk pada aturan-aturan umum atau global. Perubahan ini tak serta-merta bisa diikuti oleh pelaku usaha di negara itu.
Ahli keamanan produk China dari Universitas Oregon, Richard Suttmeier, juga mengatakan, reformasi aturan keamanan pangan tidak begitu saja mudah dijalankan secara cepat. Hal itu mengingat jumlah produsen makanan di China yang mencapai setengah juta. Sebagian besar produsen itu adalah usaha perorangan. Mereka tidak mudah mengikuti aturan-aturan keamanan pangan yang baru.
Pengawas lemah
Di sisi lain, menurut Time, aparat pemerintah yang mengawasi keamanan pangan juga belum memiliki pengetahuan yang memadai. Perubahan sistem ekonomi yang mengharuskan peningkatan kapasitas personel yang terlibat dalam urusan keamanan pangan tidak dapat dilakukan. Para pengawas hanya sedikit mendapat pelatihan dan pendidikan mengenai keamanan pangan.
"Otoritas yang seharusnya menegakkan aturan dengan mudah dikalahkan (oleh kalangan produsen yang tidak mau memahami aturan keamanan pangan). Untuk itu, pemegang otoritas harus mulai berpikir bagaimana membuat kalangan produsen sebagai pihak yang bertanggung jawab terhadap keamanan pangan," katanya.
Masalah lain yang disoroti berbagai ahli adalah minimnya penerapan etika dalam berbisnis. Masih minimnya penegakan hukum menjadikan sejumlah perusahaan bermain-main dengan keamanan pangan. Hal ini terkait pula dengan tekanan biaya produksi yang meningkat. "Kreativitas" pun dilakukan demi mendapat keuntungan yang besar.
Inspeksi fasilitas produksi oleh petugas pemerintah terhadap perusahaan makanan dengan mudah dihindari setelah sogok diberi kepada pejabat pemerintah. Kecurigaan terhadap adanya sogok muncul karena adanya kelambanan penanganan kasus ini.
"Di manakah aparat (yang bertanggung jawab terhadap pemeriksaan makanan) sebelum semuanya ini terjadi," tanya seorang warga.
Rantai produksi makanan, mulai dari pasokan bahan baku hingga menjadi produk olahan, tidak bisa diawasi secara terus- menerus. Dalam kaitan ini, norma-norma sosial seharusnya menjadi "polisi" bagi mereka yang terlibat dalam industri makanan di China.
"Masyarakat China harus mengakui bahwa integritas menjadi hal yang penting," kata Dali Yang, profesor politik dari Universitas Chicago. Integritas akan memberikan kepastian kepada semua pihak bahwa produk yang dihasilkan oleh produsen makanan sesuai dengan aturan yang ditetapkan sehingga aman dikonsumsi.
Terkait dengan tuduhan berbagai pihak, sebenarnya Pemerintah China menyadari persoalan ini. China melihat pentingnya etika dan upaya-upaya yang benar dalam kegiatan usaha.
Perdana Menteri Wen Jiabao, seperti dikutip International Business Time, mengatakan, insiden ini menyatakan kepada China bahwa dalam proses pembangunan, pemerintah harus memberikan perhatian kepada persoalan etika bisnis dan moralitas produsen. Ia juga berjanji tidak menutup-nutupi kasus ini.
Terlepas dari sudut pandang yang menggolongkan kasus ini sebagai tragedi, sejumlah kalangan menyatakan, dengan kasus ini, masyarakat China akan makin menyadari arti penting keamanan pangan. Kesadaran ini bisa memunculkan tuntutan- tuntutan di kalangan konsumen bila kelak ada dampak yang didapat bila mengonsumsi makanan.
"Pemerintah dan masyarakat akan makin memerhatikan masalah seperti ini. Lembaga-lembaga yang menangani masalah ini akan meningkatkan prosedur pemeriksaan dan memperbaiki tingkat keakuratan pemeriksaan," kata Prof Ren Fazheng dari Universitas Pertanian China di Beijing menyebut sisi positif dari kejadian itu.
Di samping itu, peringatan oleh seorang ahli patut menjadi perhatian Pemerintah China. Ia menyebutkan, bila masalah ini tidak ditangani, banyak kasus seperti ini akan terulang kembali. Akibatnya, kasus ini akan merusak ekonomi China, terutama ekspor negara itu.
Sangat boleh jadi, sindrom terhadap produk China (bukan hanya pada makanan) bisa muncul secara global. Minimnya jaminan keamanan dalam produk- produk asal China bisa menjadi senjata yang dilempar oleh lawan-lawan politiknya dalam sengketa perdagangan internasional.
PROBLEM TRANSISI EKONOMI DAN ETIKA DI CHINA
Kompas 3 Oktober 2008
Oleh ANDREAS MARYOTO
Seorang warga negara Indonesia yang tinggal di Shanghai, China, bercerita tentang repotnya mengurus makanan untuk anaknya. Ia mengeluh, banyak produk yang dipalsukan sehingga ia khawatir bahaya produk itu.
Kemudian ia bercerita, di sejumlah media pemalsuan itu mulai terungkap. Para pelaku kemudian dihukum. Meski demikian, ia mengaku tidak lega karena ia merasa setiap saat kasus ini akan terulang lagi.
Kecemasan warga negara Indonesia ini ternyata terbukti. Beberapa waktu yang lalu kita mengetahui pemalsuan telur. Kabarnya bahan baku "telur" itu dari tawas. Kemudian ada juga pasta gigi dan makanan asal laut yang juga dipalsukan.
Terakhir, pada pertengahan September lalu, sejumlah tes dilakukan terhadap produk berbahan baku susu. Hasilnya, ada kandungan melamin dalam produk-produk yang diperiksa itu. Pengungkapan skandal ini bermula dari laporan yang diterima salah satu produsen susu yang menyebutkan produk mereka menyebabkan bayi sakit pada Desember 2007. Kemudian pada Juni 2008 perusahaan ini menemukan kandungan melamin pada produk mereka. Hal ini disusul pengumuman baru bahwa kandungan melamin ditemukan di 22 produk.
Melamin digunakan untuk meningkatkan kadar "protein". Kandungan protein yang ditambah dengan melamin akan menunjukkan kadar "protein" tinggi. Korban pun berjatuhan karena melamin bisa menyebabkan munculnya batu ginjal dan kegagalan fungsi ginjal.
Laporan hingga akhir September menunjukkan sebanyak 53.000 orang sakit, 12.000 orang terpaksa dirawat di rumah sakit, serta empat bayi meninggal dunia setelah mengonsumsi produk yang dicurigai mengandung melamin. Kasus ini juga menjadikan sejumlah negara melarang produk asal China karena diduga mengandung melamin.Faktor perubahan
Di samping mencermati persoalan yang muncul di lapangan, berbagai kalangan juga berpikir mengapa kasus-kasus pemalsuan makanan mudah terjadi. Regulasi keamanan pangan telah mulai dibuat dan diterapkan. Aturan keamanan pangan itu juga terus diperbarui. Akan tetapi, mengapa kasus seperti ini berulang kembali?
"China mempunyai sejumlah masalah terkait dengan transisi ekonomi. Akan tetapi, masalah yang lebih besar adalah minimnya etika bisnis di China," kata Yanzhong Huang, ahli kesehatan global pada Universitas Seton Hall, New Jersey, Amerika Serikat, seperti dikutip The Christian Science Monitor, mengomentari kasus-kasus pemalsuan makanan di China.
Perubahan itu terkait dengan sistem ekonomi dari sosialis menjadi ekonomi yang berorientasi pasar. Ketika sistem sosialis diberlakukan, perusahaan-perusahaan yang ada dikendalikan secara sentral dengan aturan- aturan mikro dan lokal. Ketika ekonomi pasar mulai diperkenalkan, perusahaan itu harus berubah dan tunduk pada aturan-aturan umum atau global. Perubahan ini tak serta-merta bisa diikuti oleh pelaku usaha di negara itu.
Ahli keamanan produk China dari Universitas Oregon, Richard Suttmeier, juga mengatakan, reformasi aturan keamanan pangan tidak begitu saja mudah dijalankan secara cepat. Hal itu mengingat jumlah produsen makanan di China yang mencapai setengah juta. Sebagian besar produsen itu adalah usaha perorangan. Mereka tidak mudah mengikuti aturan-aturan keamanan pangan yang baru.
Pengawas lemah
Di sisi lain, menurut Time, aparat pemerintah yang mengawasi keamanan pangan juga belum memiliki pengetahuan yang memadai. Perubahan sistem ekonomi yang mengharuskan peningkatan kapasitas personel yang terlibat dalam urusan keamanan pangan tidak dapat dilakukan. Para pengawas hanya sedikit mendapat pelatihan dan pendidikan mengenai keamanan pangan.
"Otoritas yang seharusnya menegakkan aturan dengan mudah dikalahkan (oleh kalangan produsen yang tidak mau memahami aturan keamanan pangan). Untuk itu, pemegang otoritas harus mulai berpikir bagaimana membuat kalangan produsen sebagai pihak yang bertanggung jawab terhadap keamanan pangan," katanya.
Masalah lain yang disoroti berbagai ahli adalah minimnya penerapan etika dalam berbisnis. Masih minimnya penegakan hukum menjadikan sejumlah perusahaan bermain-main dengan keamanan pangan. Hal ini terkait pula dengan tekanan biaya produksi yang meningkat. "Kreativitas" pun dilakukan demi mendapat keuntungan yang besar.
Inspeksi fasilitas produksi oleh petugas pemerintah terhadap perusahaan makanan dengan mudah dihindari setelah sogok diberi kepada pejabat pemerintah. Kecurigaan terhadap adanya sogok muncul karena adanya kelambanan penanganan kasus ini.
"Di manakah aparat (yang bertanggung jawab terhadap pemeriksaan makanan) sebelum semuanya ini terjadi," tanya seorang warga.
Rantai produksi makanan, mulai dari pasokan bahan baku hingga menjadi produk olahan, tidak bisa diawasi secara terus- menerus. Dalam kaitan ini, norma-norma sosial seharusnya menjadi "polisi" bagi mereka yang terlibat dalam industri makanan di China.
"Masyarakat China harus mengakui bahwa integritas menjadi hal yang penting," kata Dali Yang, profesor politik dari Universitas Chicago. Integritas akan memberikan kepastian kepada semua pihak bahwa produk yang dihasilkan oleh produsen makanan sesuai dengan aturan yang ditetapkan sehingga aman dikonsumsi.
Terkait dengan tuduhan berbagai pihak, sebenarnya Pemerintah China menyadari persoalan ini. China melihat pentingnya etika dan upaya-upaya yang benar dalam kegiatan usaha.
Perdana Menteri Wen Jiabao, seperti dikutip International Business Time, mengatakan, insiden ini menyatakan kepada China bahwa dalam proses pembangunan, pemerintah harus memberikan perhatian kepada persoalan etika bisnis dan moralitas produsen. Ia juga berjanji tidak menutup-nutupi kasus ini.
Terlepas dari sudut pandang yang menggolongkan kasus ini sebagai tragedi, sejumlah kalangan menyatakan, dengan kasus ini, masyarakat China akan makin menyadari arti penting keamanan pangan. Kesadaran ini bisa memunculkan tuntutan- tuntutan di kalangan konsumen bila kelak ada dampak yang didapat bila mengonsumsi makanan.
"Pemerintah dan masyarakat akan makin memerhatikan masalah seperti ini. Lembaga-lembaga yang menangani masalah ini akan meningkatkan prosedur pemeriksaan dan memperbaiki tingkat keakuratan pemeriksaan," kata Prof Ren Fazheng dari Universitas Pertanian China di Beijing menyebut sisi positif dari kejadian itu.
Di samping itu, peringatan oleh seorang ahli patut menjadi perhatian Pemerintah China. Ia menyebutkan, bila masalah ini tidak ditangani, banyak kasus seperti ini akan terulang kembali. Akibatnya, kasus ini akan merusak ekonomi China, terutama ekspor negara itu.
Sangat boleh jadi, sindrom terhadap produk China (bukan hanya pada makanan) bisa muncul secara global. Minimnya jaminan keamanan dalam produk- produk asal China bisa menjadi senjata yang dilempar oleh lawan-lawan politiknya dalam sengketa perdagangan internasional.
PERDAGANGAN KOMODITAS
Perdagangan
KORSEL MENOLAK PENYAKIT SAPI GILA DARI AS
Kompas 20 Juni 2008
Oleh Andreas Maryoto
Ribuan rakyat Korea Selatan berunjuk rasa sejak Mei lalu, menolak rencana pembukaan impor daging sapi asal Amerika Serikat. Mereka beralasan daging sapi dari AS layak ditolak karena negara itu belum bebas penyakit sapi gila atau bovine spongiform encephalopathy (BSE). Rakyat Korsel cemas karena penyakit sapi gila bisa menular ke manusia. Orang yang mengonsumsi daging sapi yang mengidap prion (agen pembawa penyakit) BSE terkena penyakit dengan nama varian Creutzfeldt-Jakob disease (vCJD). Penyakit tersebut menyerang otak dan bersifat fatal. BSE merupakan penyakit hewan yang dapat ditularkan kepada manusia (zoonosis) melalui konsumsi produk asal hewan yang mengidap BSE. Gejala klinis vCJD akan terlihat dalam waktu lama, tidak seketika. Gejala awal vCJD antara lain depresi, sulit tidur, kelemahan umum, jarang berkomunikasi, mudah lupa, vertigo, halusinasi, dan ataksia. Rakyat Korsel punya hak menolak produk itu karena peraturan Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (OIE) mengatakan, sebuah negara berhak menolak impor hewan atau produk asal hewan dari negara yang tidak bebas penyakit. Korsel masih termasuk negara yang belum bebas dari BSE, tetapi dalam posisi sebagai penerima, mereka bisa menolak produk itu. Saat ini negara yang bebas penyakit BSE ini hanya Indonesia, Australia, dan Selandia Baru. Protes rakyat Korsel bermula dari kesepakatan dagang antara Korsel dan AS pada April lalu. Salah satu butir kesepakatan itu adalah Korsel akan membuka impor daging sapi dari AS. Selama ini Korsel menutup impor daging sapi dari AS menyusul ditemukannya kasus BSE di negara bagian Washington, AS, Desember 2003. Sejak saat itu AS berjuang keras agar komoditas itu bisa diterima negara lain karena pascakejadian itu banyak negara yang menutup impor sapi dan daging sapi dari AS, termasuk Indonesia. Diplomasi dagang terus dilakukan karena AS sangat berkepentingan. Bisnis peternakan dan industri daging sapi serta produk turunannya mencapai 175 miliar dollar AS. Ada 96 juta sapi di sana. Sejak ditemukannya kasus BSE, industri ini terancam. Untuk kembali mendapatkan status bebas penyakit dari OIE, dibutuhkan waktu lama. Setiap diplomasi internasional kerap kali melibatkan perundingan produk ini, termasuk saat berunding dengan Korsel April lalu.Acara televisi Keresahan rakyat Korsel muncul saat sebuah talk show di televisi membahas persoalan itu pertengahan Mei lalu. Tanya jawab soal sapi gila berhasil meyakinkan masyarakat bahwa daging dari AS tersebut berbahaya. Obrolan lewat internet juga kian menggelindingkan soal bahaya produk itu. Sejumlah situs kian gencar mewartakan bahaya penyakit sapi gila. Setelah itu rakyat Korsel dari mulai mahasiswa, biarawan, biarawati, ibu rumah tangga, anak-anak, dan karyawan turun ke jalan. Mereka berharap Presiden Lee Myung-bak membatalkan perjanjian dagang itu. "Apa jadinya kalau anak saya makan daging berbahaya di sebuah restoran," kata Shin Hae-suk, ibu rumah tangga. Isu sapi gila ini kemudian menjadi isu politik. Muncul pernyataan kalau pemerintah cenderung mengorbankan kesehatan rakyatnya terkait dengan rencana impor itu. "Lee memimpin kami seperti ketika dia menjadi CEO dan kami seperti buruhnya," kata Oh Se-young, pekerja di Seoul mengkritik gaya kepemimpinan Lee seperti dikutip Time. Ada juga yang meminta agar Lee segera turun. Unjuk rasa mereka mirip dengan unjuk rasa menentang rezim militer tahun 1970-an dan 1980-an. Pada pekan kedua bulan Juni, Korsel mengirim utusan ke AS untuk merundingkan kembali kesepakatan dagang itu. AS diharapkan tidak mengirim sapi dengan umur lebih dari 30 bulan. Sapi dengan kriteria itu disebut aman dari penyakit sapi gila. Meski demikian amandemen perjanjian itu bila dilaksanakan tetap tidak akan menaikkan pamor pemerintahan Lee yang baru berumur enam bulan. Isu impor sapi ini telah menggerus kepercayaan publik. "Masalah yang serius adalah dia telah kehilangan kepercayaan publik," kata Kang Won-taek, ilmuwan politik dari Universitas Soongsil, Seoul, seperti dikutip International Herald Tribune. Lee memenangi pemilihan presiden pada Desember lalu dengan cukup telak. Akan tetapi, kepercayaan publik turun hingga 20 persen sejak pemerintah menyetujui impor sapi itu. Sejak menjadi presiden, Lee cenderung pragmatis, termasuk langkah membangun kembali hubungan dengan AS yang telah dirintis oleh pendahulunya. Langkah ini dinilai kontroversial di tengah sentimen anti-AS oleh kelompok muda Korsel. Lee dikabarkan memilih kebijakan ini untuk mendapatkan kesempatan menjadi sekutu ekonomi AS di Asia. Korsel ingin mendapatkan manfaat ekonomi lebih besar. Di sisi lain "kehadiran" AS digunakan Korsel untuk menghadapi serangan produk teknologi tinggi dari Jepang. Korsel juga memanfaatkan diplomasi itu untuk menghadapi produk China yang murah. Dengan mengambil kebijakan seperti itu, sepertinya Lee lupa dengan kultur di dalam negeri. Selain kaum muda yang cenderung anti-AS, warga Korsel sangat resisten terhadap liberalisasi pasar. Setidaknya kita diingatkan kasus penolakan terhadap liberalisasi pasar beras Korsel tahun 2005. Petani dan masyarakat Korsel memprotes pembukaan pasar hingga ada dua petani yang bunuh diri untuk mengungkapkan penentangan liberalisasi itu. Warga Korsel melakukan hal tersebut karena mereka memiliki keyakinan bahwa pertanian terkait dengan nenek moyang mereka. Mereka menyadari meski sekarang Korsel telah menjadi negara modern, mereka tidak bisa melupakan nenek moyang mereka yang tak lain adalah petani.
KORSEL MENOLAK PENYAKIT SAPI GILA DARI AS
Kompas 20 Juni 2008
Oleh Andreas Maryoto
Ribuan rakyat Korea Selatan berunjuk rasa sejak Mei lalu, menolak rencana pembukaan impor daging sapi asal Amerika Serikat. Mereka beralasan daging sapi dari AS layak ditolak karena negara itu belum bebas penyakit sapi gila atau bovine spongiform encephalopathy (BSE). Rakyat Korsel cemas karena penyakit sapi gila bisa menular ke manusia. Orang yang mengonsumsi daging sapi yang mengidap prion (agen pembawa penyakit) BSE terkena penyakit dengan nama varian Creutzfeldt-Jakob disease (vCJD). Penyakit tersebut menyerang otak dan bersifat fatal. BSE merupakan penyakit hewan yang dapat ditularkan kepada manusia (zoonosis) melalui konsumsi produk asal hewan yang mengidap BSE. Gejala klinis vCJD akan terlihat dalam waktu lama, tidak seketika. Gejala awal vCJD antara lain depresi, sulit tidur, kelemahan umum, jarang berkomunikasi, mudah lupa, vertigo, halusinasi, dan ataksia. Rakyat Korsel punya hak menolak produk itu karena peraturan Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (OIE) mengatakan, sebuah negara berhak menolak impor hewan atau produk asal hewan dari negara yang tidak bebas penyakit. Korsel masih termasuk negara yang belum bebas dari BSE, tetapi dalam posisi sebagai penerima, mereka bisa menolak produk itu. Saat ini negara yang bebas penyakit BSE ini hanya Indonesia, Australia, dan Selandia Baru. Protes rakyat Korsel bermula dari kesepakatan dagang antara Korsel dan AS pada April lalu. Salah satu butir kesepakatan itu adalah Korsel akan membuka impor daging sapi dari AS. Selama ini Korsel menutup impor daging sapi dari AS menyusul ditemukannya kasus BSE di negara bagian Washington, AS, Desember 2003. Sejak saat itu AS berjuang keras agar komoditas itu bisa diterima negara lain karena pascakejadian itu banyak negara yang menutup impor sapi dan daging sapi dari AS, termasuk Indonesia. Diplomasi dagang terus dilakukan karena AS sangat berkepentingan. Bisnis peternakan dan industri daging sapi serta produk turunannya mencapai 175 miliar dollar AS. Ada 96 juta sapi di sana. Sejak ditemukannya kasus BSE, industri ini terancam. Untuk kembali mendapatkan status bebas penyakit dari OIE, dibutuhkan waktu lama. Setiap diplomasi internasional kerap kali melibatkan perundingan produk ini, termasuk saat berunding dengan Korsel April lalu.Acara televisi Keresahan rakyat Korsel muncul saat sebuah talk show di televisi membahas persoalan itu pertengahan Mei lalu. Tanya jawab soal sapi gila berhasil meyakinkan masyarakat bahwa daging dari AS tersebut berbahaya. Obrolan lewat internet juga kian menggelindingkan soal bahaya produk itu. Sejumlah situs kian gencar mewartakan bahaya penyakit sapi gila. Setelah itu rakyat Korsel dari mulai mahasiswa, biarawan, biarawati, ibu rumah tangga, anak-anak, dan karyawan turun ke jalan. Mereka berharap Presiden Lee Myung-bak membatalkan perjanjian dagang itu. "Apa jadinya kalau anak saya makan daging berbahaya di sebuah restoran," kata Shin Hae-suk, ibu rumah tangga. Isu sapi gila ini kemudian menjadi isu politik. Muncul pernyataan kalau pemerintah cenderung mengorbankan kesehatan rakyatnya terkait dengan rencana impor itu. "Lee memimpin kami seperti ketika dia menjadi CEO dan kami seperti buruhnya," kata Oh Se-young, pekerja di Seoul mengkritik gaya kepemimpinan Lee seperti dikutip Time. Ada juga yang meminta agar Lee segera turun. Unjuk rasa mereka mirip dengan unjuk rasa menentang rezim militer tahun 1970-an dan 1980-an. Pada pekan kedua bulan Juni, Korsel mengirim utusan ke AS untuk merundingkan kembali kesepakatan dagang itu. AS diharapkan tidak mengirim sapi dengan umur lebih dari 30 bulan. Sapi dengan kriteria itu disebut aman dari penyakit sapi gila. Meski demikian amandemen perjanjian itu bila dilaksanakan tetap tidak akan menaikkan pamor pemerintahan Lee yang baru berumur enam bulan. Isu impor sapi ini telah menggerus kepercayaan publik. "Masalah yang serius adalah dia telah kehilangan kepercayaan publik," kata Kang Won-taek, ilmuwan politik dari Universitas Soongsil, Seoul, seperti dikutip International Herald Tribune. Lee memenangi pemilihan presiden pada Desember lalu dengan cukup telak. Akan tetapi, kepercayaan publik turun hingga 20 persen sejak pemerintah menyetujui impor sapi itu. Sejak menjadi presiden, Lee cenderung pragmatis, termasuk langkah membangun kembali hubungan dengan AS yang telah dirintis oleh pendahulunya. Langkah ini dinilai kontroversial di tengah sentimen anti-AS oleh kelompok muda Korsel. Lee dikabarkan memilih kebijakan ini untuk mendapatkan kesempatan menjadi sekutu ekonomi AS di Asia. Korsel ingin mendapatkan manfaat ekonomi lebih besar. Di sisi lain "kehadiran" AS digunakan Korsel untuk menghadapi serangan produk teknologi tinggi dari Jepang. Korsel juga memanfaatkan diplomasi itu untuk menghadapi produk China yang murah. Dengan mengambil kebijakan seperti itu, sepertinya Lee lupa dengan kultur di dalam negeri. Selain kaum muda yang cenderung anti-AS, warga Korsel sangat resisten terhadap liberalisasi pasar. Setidaknya kita diingatkan kasus penolakan terhadap liberalisasi pasar beras Korsel tahun 2005. Petani dan masyarakat Korsel memprotes pembukaan pasar hingga ada dua petani yang bunuh diri untuk mengungkapkan penentangan liberalisasi itu. Warga Korsel melakukan hal tersebut karena mereka memiliki keyakinan bahwa pertanian terkait dengan nenek moyang mereka. Mereka menyadari meski sekarang Korsel telah menjadi negara modern, mereka tidak bisa melupakan nenek moyang mereka yang tak lain adalah petani.
SEJARAH PERTANIAN
PEKARANGAN, PERTAHANAN PANGAN YANG HILANG
Kompas 1 September
Oleh ANDREAS MARYOTO
Lahan yang makin menyempit tak hanya terjadi di sawah, kebun, atau ladang, tetapi juga di pekarangan, lahan yang langsung berdampingan dengan rumah. Fragmentasi lahan menjadikan pekarangan yang merupakan pertahanan pangan terakhir itu nyaris hilang. Kasus kurang gizi sangat boleh jadi akibat dari keadaan ini. Sekarang kita sulit untuk mendapatkan pekarangan di rumah-rumah di Pulau Jawa. Sampai tahun 1980-an para guru masih mengajarkan bercocok tanam di pekarangan kepada murid-muridnya. Sekarang mungkin hal itu masih diajarkan, tetapi tidak mudah diterapkan. Di depan rumah bukan lagi lahan pekarangan, tetapi sudah menjadi jalan raya. Di belakang rumah lahan makin sedikit dan cenderung berimpitan dengan rumah tetangga. Meski demikian, jejak pekarangan masih ada. Pekarangan dengan berbagai aneka tanaman dan juga hewan piaraan masih ditemukan di keluarga-keluarga yang umumnya anak-anaknya bekerja di luar kota dan tidakmenggantungkan pada lahan milik orangtuanya sehingga lahan itu masih terjaga. Di sebuah rumah di Kecamatan Ponjong, Kabupaten Gunung Kidul, DI Yogyakarta, sebuah keluarga masih bisa memanen berbagai tanaman dan hewan dari pekarangan. Di pekarangan ada ubi, pepaya, lele, sapi, dan lebah madu. Tidak jauh dari rumahnya tersedia sawah yang memasok beras. Setidaknya gambaran seperti ini bisa mewakili profil pekarangan. Gambaran pekarangan ini memang lebih sederhana dibandingkan dengan pekarangan pada masa lalu yang lebih komplet, yang di dalamnya ada tanaman obat-obatan, pohon bambu, pohon kelapa, pohon jati, dan lain-lain. Tanaman obat-obatan menjadi apotek hidup sehinggabila suatu saat ada anggota keluarga yang sakit, mereka dengan mudah mendapat obatnya. "Saat ini keanekaragaman hayati pekarangan memang menurun. Peran pekarangan sebagai penopang ekonomi lebih menonjol ketimbang sebagai sumber gizi keluarga. Eksploitasi pekarangan meningkat. Mereka membutuhkan uang untuk kebutuhan sehari-hari," kata Kepala Pusat Pengembangan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, yang juga peneliti pekarangan, Antonius Budisusila. Pada masa lalu, pekarangan lebih berfungsi sebagai basis pangan rumah tangga dibandingkan sebagai sumber ekonomi. Hasil pekarangan baru dijual ke pasar bila sebuah keluarga membutuhkan pangan lain atau alat-alat rumah tangga yang tidak bisa dibuat sendiri. Munculnya pekarangan dalam sistem pertanian di Nusantara tidak mudah didapat. Meski demikian, di dalam tulisan The Javanese Homegarden yang termuat di Journal for Farming Systems Research (1992) Otto Soemarwoto dan GR Conway yang mengutip artikel Terra (1954) menyebutkan, berdasarkan sumber tertulis, pekarangan sudah ada pada 860 Masehi. Meski demikian, pekarangan di Nusantara diperkirakan sudah lama ada. Terra menduga Jawa Tengah merupakan tempat asal usul pekarangan. Akan tetapi, dalam buku Bunga Angin, Portugis di Nusantara (2008) memperlihatkan pelaut-pelaut Portugis yang membuat permukiman di sejumlah tempat juga menanami permukiman atau benteng sekitar dengan berbagai tanaman untuk bertahan hidup. Penulis buku itu, Paramita R Abdurachman, menyebutkan, kedatangan Portugis pada abad ke-16 menjadikan pekarangan penduduk pribumi mulai diolah dan ditanami bunga. Fakta-fakta di atas sepertinya tidak perlu dipertentangkan, tetapi lebih dilihat sebagai saling melengkapi. Kemungkinan pekarangan memang sudah ada sebelum Portugis datang, tetapi kedatangan Portugis melengkapi tanaman di pekarangan, seperti bunga yang disebut di atas. Kedatangan bangsa lain pun, seperti Belanda, diperkirakan juga melengkapi tanaman dan juga hewan di pekarangan. Penelitian mengenai pekarangan sudah banyak dilakukan. Sejak zaman kolonial, para peneliti sudah meminati meneliti pekarangan. Dalam History of Java (1817), Raffles menyebutkan, setidaknya terdapat 10 persen pekarangan dari luas areal pertanian yang ada. Pada tahun 1937 publikasi yang dikeluarkan oleh Ochse memperlihatkan ada hubungan yang kuat antara kualitas pekarangan dan status gizi rumah tangga. Penelitian sebelumnya bersama Terra di Kutowinangun, Kabupaten Purworejo, menunjukkan, sebesar 18 persen asupan kalori dan 14 persen asupan protein penduduk setempat berasal dari pekarangan. Isi pekarangan juga bermacam-macam hewan dan tanaman. Ada penelitian yang menarik, secara umum ciri pekarangan di Jateng selalu ada tanaman obat. Hal ini terkait dengan kebiasaan orang Jawa yang suka minum jamu. Di Jawa Barat pekarangan dicirikan dengan tanaman sayuran karena orang Sunda suka dengan lalapan. Ada juga yang meneliti pekarangan dari sisi antropologi. Penny dan Ginting (1984) menyebutkan, secara umum pekarangan diurus oleh perempuan sehingga pekarangan mudah didapat di daerah yang memiliki pola kekerabatan matriarkal di Jawa, Sumatera Barat, dan Aceh. Pekarangan sulit didapat di daerah dengan kekerabatan patriarkal seperti di Sumatera Utara, khususnya masyarakat Batak. Komoditas pekarangan juga menjadi sarana sosialisasi dengan tetangga. Hasil dari pekarangan tidak sedikit dibagikan kepada tetangga sekitar. Meski demikian, pembagian ini ada juga yang mengandung unsur mistis terkait dengan menghilangkan bahaya atau mengobati penyakit. Sejumlah penelitian yang dikutip oleh Otto Soemarwoto dan GR Conway itu memperlihatkan perubahan-perubahan stabilitas pekarangan pada masa tertentu. Pada kondisi produksi padi menurun atau terjadi paceklik, makanan pokok sekunder, seperti ubi, diambil dari pekarangan. Penjualan bambu dan kelapa yang dipanen dari pekarangan juga meningkat ketika terjadi paceklik. Pemanenan hasil pekarangan juga menunjukkan peningkatan menjelang Idul Fitri pada saat keluarga membutuhkan uang tunai. Kedua peneliti itu menyatakan, ketika Orde Baru mulai bergerak tahun 1969 dengan rencana pembangunan jangkapanjang, terdapat sejumlah kelas menengah dan atas yang membutuhkan gizi yang baik. Ini dipenuhi petani dengan memproduksi komoditas-komoditas yang laku di pasar. Akibatnya, terjadi perubahan jenis komoditas yang ditanam di pekarangan secara drastis. Kecenderungan monokultur mengakibatkan masuknya berbagai penyakit. Akibatnya, bisa dilihat hingga sekarang, sejumlah sentra pertanian bertumbangan dan sulit untuk bangkit. Sementara itu, Budisusila melihat pekarangan muncul ketika pasar dan negara (dan juga kerajaan pada masa lalu) tidak memikirkan pangan rakyat. Rakyat mampu secara mandiri memikirkan ketahanan pangan mereka. "Pasar dan negara sudah terbukti sejak masa lalu hingga hari ini bukan institusi yang baik yang memikirkan ketahanan pangan rakyat. Rakyat mempunyai inisiatif sendiri yang serius melalui pekarangan," katanya. Ia juga menyebutkan, pada masa penjajahan Belanda pekarangan mampu menjadi penopang kebutuhan pangan rakyat. Ideologi kemandirian pangan sebenarnya sudah ada sejak lama di tingkat rakyat. Rakyat mempunyai otoritas untuk memperjuangkan kemandirian pangan, setidaknya melalui pekarangan. Dalam hal ini mestinya negara mendukung, tetapi ada ketidakrelaan negara kalau rakyat mempunyai inisiatif yang kuat sehingga tanpa disadari kemandirian itu terkikis. Di sisi lain ada kepentingan agar kemandirian dirusak karena kalau kemandirian itu kokoh, pelaku pasar alias kekuatan modal tak mampu menawarkan sesuatu kepada masyarakat (konsumen). Di samping itu, Budisusila melihat pekarangan merupakan cermin kebudayaan rakyat dalam berolah pikir. Pekarangan disusun dengan teknik yang memikirkan aspek ketahanan pangan, ekonomi, artistik, dan mengantisipasi persoalan yang mungkin terjadi dalam jangka menengah dan jangka panjang.
Kompas 1 September
Oleh ANDREAS MARYOTO
Lahan yang makin menyempit tak hanya terjadi di sawah, kebun, atau ladang, tetapi juga di pekarangan, lahan yang langsung berdampingan dengan rumah. Fragmentasi lahan menjadikan pekarangan yang merupakan pertahanan pangan terakhir itu nyaris hilang. Kasus kurang gizi sangat boleh jadi akibat dari keadaan ini. Sekarang kita sulit untuk mendapatkan pekarangan di rumah-rumah di Pulau Jawa. Sampai tahun 1980-an para guru masih mengajarkan bercocok tanam di pekarangan kepada murid-muridnya. Sekarang mungkin hal itu masih diajarkan, tetapi tidak mudah diterapkan. Di depan rumah bukan lagi lahan pekarangan, tetapi sudah menjadi jalan raya. Di belakang rumah lahan makin sedikit dan cenderung berimpitan dengan rumah tetangga. Meski demikian, jejak pekarangan masih ada. Pekarangan dengan berbagai aneka tanaman dan juga hewan piaraan masih ditemukan di keluarga-keluarga yang umumnya anak-anaknya bekerja di luar kota dan tidakmenggantungkan pada lahan milik orangtuanya sehingga lahan itu masih terjaga. Di sebuah rumah di Kecamatan Ponjong, Kabupaten Gunung Kidul, DI Yogyakarta, sebuah keluarga masih bisa memanen berbagai tanaman dan hewan dari pekarangan. Di pekarangan ada ubi, pepaya, lele, sapi, dan lebah madu. Tidak jauh dari rumahnya tersedia sawah yang memasok beras. Setidaknya gambaran seperti ini bisa mewakili profil pekarangan. Gambaran pekarangan ini memang lebih sederhana dibandingkan dengan pekarangan pada masa lalu yang lebih komplet, yang di dalamnya ada tanaman obat-obatan, pohon bambu, pohon kelapa, pohon jati, dan lain-lain. Tanaman obat-obatan menjadi apotek hidup sehinggabila suatu saat ada anggota keluarga yang sakit, mereka dengan mudah mendapat obatnya. "Saat ini keanekaragaman hayati pekarangan memang menurun. Peran pekarangan sebagai penopang ekonomi lebih menonjol ketimbang sebagai sumber gizi keluarga. Eksploitasi pekarangan meningkat. Mereka membutuhkan uang untuk kebutuhan sehari-hari," kata Kepala Pusat Pengembangan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, yang juga peneliti pekarangan, Antonius Budisusila. Pada masa lalu, pekarangan lebih berfungsi sebagai basis pangan rumah tangga dibandingkan sebagai sumber ekonomi. Hasil pekarangan baru dijual ke pasar bila sebuah keluarga membutuhkan pangan lain atau alat-alat rumah tangga yang tidak bisa dibuat sendiri. Munculnya pekarangan dalam sistem pertanian di Nusantara tidak mudah didapat. Meski demikian, di dalam tulisan The Javanese Homegarden yang termuat di Journal for Farming Systems Research (1992) Otto Soemarwoto dan GR Conway yang mengutip artikel Terra (1954) menyebutkan, berdasarkan sumber tertulis, pekarangan sudah ada pada 860 Masehi. Meski demikian, pekarangan di Nusantara diperkirakan sudah lama ada. Terra menduga Jawa Tengah merupakan tempat asal usul pekarangan. Akan tetapi, dalam buku Bunga Angin, Portugis di Nusantara (2008) memperlihatkan pelaut-pelaut Portugis yang membuat permukiman di sejumlah tempat juga menanami permukiman atau benteng sekitar dengan berbagai tanaman untuk bertahan hidup. Penulis buku itu, Paramita R Abdurachman, menyebutkan, kedatangan Portugis pada abad ke-16 menjadikan pekarangan penduduk pribumi mulai diolah dan ditanami bunga. Fakta-fakta di atas sepertinya tidak perlu dipertentangkan, tetapi lebih dilihat sebagai saling melengkapi. Kemungkinan pekarangan memang sudah ada sebelum Portugis datang, tetapi kedatangan Portugis melengkapi tanaman di pekarangan, seperti bunga yang disebut di atas. Kedatangan bangsa lain pun, seperti Belanda, diperkirakan juga melengkapi tanaman dan juga hewan di pekarangan. Penelitian mengenai pekarangan sudah banyak dilakukan. Sejak zaman kolonial, para peneliti sudah meminati meneliti pekarangan. Dalam History of Java (1817), Raffles menyebutkan, setidaknya terdapat 10 persen pekarangan dari luas areal pertanian yang ada. Pada tahun 1937 publikasi yang dikeluarkan oleh Ochse memperlihatkan ada hubungan yang kuat antara kualitas pekarangan dan status gizi rumah tangga. Penelitian sebelumnya bersama Terra di Kutowinangun, Kabupaten Purworejo, menunjukkan, sebesar 18 persen asupan kalori dan 14 persen asupan protein penduduk setempat berasal dari pekarangan. Isi pekarangan juga bermacam-macam hewan dan tanaman. Ada penelitian yang menarik, secara umum ciri pekarangan di Jateng selalu ada tanaman obat. Hal ini terkait dengan kebiasaan orang Jawa yang suka minum jamu. Di Jawa Barat pekarangan dicirikan dengan tanaman sayuran karena orang Sunda suka dengan lalapan. Ada juga yang meneliti pekarangan dari sisi antropologi. Penny dan Ginting (1984) menyebutkan, secara umum pekarangan diurus oleh perempuan sehingga pekarangan mudah didapat di daerah yang memiliki pola kekerabatan matriarkal di Jawa, Sumatera Barat, dan Aceh. Pekarangan sulit didapat di daerah dengan kekerabatan patriarkal seperti di Sumatera Utara, khususnya masyarakat Batak. Komoditas pekarangan juga menjadi sarana sosialisasi dengan tetangga. Hasil dari pekarangan tidak sedikit dibagikan kepada tetangga sekitar. Meski demikian, pembagian ini ada juga yang mengandung unsur mistis terkait dengan menghilangkan bahaya atau mengobati penyakit. Sejumlah penelitian yang dikutip oleh Otto Soemarwoto dan GR Conway itu memperlihatkan perubahan-perubahan stabilitas pekarangan pada masa tertentu. Pada kondisi produksi padi menurun atau terjadi paceklik, makanan pokok sekunder, seperti ubi, diambil dari pekarangan. Penjualan bambu dan kelapa yang dipanen dari pekarangan juga meningkat ketika terjadi paceklik. Pemanenan hasil pekarangan juga menunjukkan peningkatan menjelang Idul Fitri pada saat keluarga membutuhkan uang tunai. Kedua peneliti itu menyatakan, ketika Orde Baru mulai bergerak tahun 1969 dengan rencana pembangunan jangkapanjang, terdapat sejumlah kelas menengah dan atas yang membutuhkan gizi yang baik. Ini dipenuhi petani dengan memproduksi komoditas-komoditas yang laku di pasar. Akibatnya, terjadi perubahan jenis komoditas yang ditanam di pekarangan secara drastis. Kecenderungan monokultur mengakibatkan masuknya berbagai penyakit. Akibatnya, bisa dilihat hingga sekarang, sejumlah sentra pertanian bertumbangan dan sulit untuk bangkit. Sementara itu, Budisusila melihat pekarangan muncul ketika pasar dan negara (dan juga kerajaan pada masa lalu) tidak memikirkan pangan rakyat. Rakyat mampu secara mandiri memikirkan ketahanan pangan mereka. "Pasar dan negara sudah terbukti sejak masa lalu hingga hari ini bukan institusi yang baik yang memikirkan ketahanan pangan rakyat. Rakyat mempunyai inisiatif sendiri yang serius melalui pekarangan," katanya. Ia juga menyebutkan, pada masa penjajahan Belanda pekarangan mampu menjadi penopang kebutuhan pangan rakyat. Ideologi kemandirian pangan sebenarnya sudah ada sejak lama di tingkat rakyat. Rakyat mempunyai otoritas untuk memperjuangkan kemandirian pangan, setidaknya melalui pekarangan. Dalam hal ini mestinya negara mendukung, tetapi ada ketidakrelaan negara kalau rakyat mempunyai inisiatif yang kuat sehingga tanpa disadari kemandirian itu terkikis. Di sisi lain ada kepentingan agar kemandirian dirusak karena kalau kemandirian itu kokoh, pelaku pasar alias kekuatan modal tak mampu menawarkan sesuatu kepada masyarakat (konsumen). Di samping itu, Budisusila melihat pekarangan merupakan cermin kebudayaan rakyat dalam berolah pikir. Pekarangan disusun dengan teknik yang memikirkan aspek ketahanan pangan, ekonomi, artistik, dan mengantisipasi persoalan yang mungkin terjadi dalam jangka menengah dan jangka panjang.
POLITIK PANGAN
Startegi Pangan Armada Portugis
Kompas 29 Agustus 2008
Oleh Andreas Maryoto
Portugis adalah bangsa Eropa yang pertama kali berhasil menembus Kepulauan Rempah-rempah. Mereka berhasil menundukkan Malaka sebagai gerbang menuju kepulauan itu pada tahun 1511. Kemudian mereka berlayar ke timur hingga mencapai Maluku. Armada Portugis memiliki strategi pangan sehingga mereka bisa bertahan di permukiman yang didirikan di berbagai tempat yang jauh dari negeri asalnya.
Kisah penjelajahan mereka berawal dari minat mereka terhadap komoditas rempah-rempah. Secara umum orang Eropa sudah lama mengenal rempah-rempah, tetapi informasi asal-usul rempah-rempah tidak pernah diketahui. Orang Portugis termasuk yang penasaran dengan asal-usul itu. Mereka sudah lama memiliki keinginan untuk mencari asal-usul rempah-rempah.
Pada saat yang sama sekitar abad ke-15 motif-motif untuk menguasai wilayah terbentuk ketika Portugis melakukan kolonisasi di beberapa tempat di Laut Atlantik. Dari penguasaan itu mereka menyadari bahwa keuntungan besar bisa didapat bila mereka bisa menguasai suatu wilayah.
Setelah itu, ekspedisi pertama untuk mencari rempah-rempah dilakukan tahun 1488 oleh Bartolomeus Dias. Pada tahun itu ia berhasil menjangkau Tanjung Harapan, Afrika. Setelah itu dilanjutkan oleh Vasco da Gama yang membuka jalan menuju India tahun 1498. Hingga kemudian armada yang dipimpin Alfonso de Albuquerque berhasil mendarat di Malaka.
Dalam sebuah publikasi yang ditulis oleh Eduardo Bueno (2001) disebutkan, dalam setiap pelayaran, pasukan dibekali dengan sejumlah makanan. Di kapal, awak kapal akan menyediakan 15 kg daging bergaram, bawang, vinegar, dan minyak zaitun untuk keperluan setiap anggota pasukan selama sebulan.
Kapten kapal mendapat tambahan daging ayam dan domba untuk meningkatkan nilai gizi ransum. Bila bertepatan dengan masa puasa atau masa berpantang, mereka mendapat tambahan makanan, yaitu beras serta ikan atau keju untuk menggantikan daging sapi. Dalam tradisi Katolik, masa puasa dan berpantang dilakukan 40 hari sebelum hari raya Paskah.
Anggur dan air disediakan setiap pagi. Satu orang mendapat 1,4 liter anggur. Air juga diberikan dalam jumlah yang sama. Air digunakan untuk minum dan memasak. Air disimpan dalam tangki kayu.
Pasokan yang komplet itu diberikan hanya untuk sebulan pelayaran. Setelah itu kualitas ransum menurun. Selanjutnya mereka mengonsumsi ransum yang disebut ”sailing cookie” yang terdiri atas roti kering bergaram. Meski ada upaya pengawetan, makanan ini rusak dan berbau busuk karena kecoak. Sudah bisa dipastikan mereka akan mengalami defisiensi asupan makanan bergizi. Masalah ini ditambah dengan kualitas air yang disimpan di tangki kayu yang menyebabkan air mudah tercemar sehingga menyebarkan penyakit diare dan infeksi. Akibatnya, banyak anggota pasukan yang meninggal dalam perjalanan.
Semisal armada Vasco da Gama yang ketika berangkat beranggotakan 160 orang, tetapi sebanyak 100 orang di antaranya meninggal dunia karena seriawan. (Penyakit ini mulai terpecahkan tahun 1601 oleh armada Inggris ketika Kapten James Lancester yang memimpin konvoi terdiri atas empat kapal menuju India. Ia bereksperimen memberi jeruk untuk pasukan di salah satu kapal. Mereka yang mengonsumsi jeruk sehat walafiat, tetapi pasukan di tiga kapal lainnya yang tidak mengonsumsi jeruk hampir separonya meninggal dunia)
Sejak awal armada Portugis menyadari masalah pangan ini. Akan tetapi, mereka belum bisa menemukan cara agar pasukannya bisa mendapat pasokan makanan yang baik. Bertahun-tahun armada yang dikirim selalu pulang dengan tidak komplet.
Meski belum mendapat cara untuk mengawetkan makanan di kapal, mereka membuat strategi pasokan pangan agar bisa bertahan hidup di berbagai tempat. Setelah bertahun-tahun berpengalaman melayari lautan luas yang jauh dari negerinya, mereka membuat cara agar pasukan Portugis tidak kehabisan pangan. Setidaknya mereka bisa mendapatkan pasokan pangan itu di sejumlah pos perhentian.
Di dalam buku Bunga Angin, Portugis di Nusantara (2008) karya Paramita R Abdurcahman disebutkan adanya keputusan Raja Portugis tertanggal 15 Maret 1518 yang memberikan insentif khusus bagi casado (anggota pasukan Portugis yang menikah dan meninggalkan pengabdiannya dalam pelayaran) untuk tinggal dan bercocok tanam di tanah baru yang ditempatinya.
Sejak awal mereka juga didorong untuk menikah dengan wanita pribumi. Mereka juga didorong untuk menanam komoditas yang bisa diperdagangkan dan juga makanan pokok yang dibutuhkan oleh pasukan. Harapannya, mereka bisa membantu pasukan Portugis yang melakukan pelayaran di berbagai tempat.
Mereka umumnya tidak tinggal jauh dengan benteng atau komunitas Portugis lainnya. Mereka memasok pangan untuk mereka. Dengan cara demikian, bila pasukan Portugis diisolasi oleh musuh, mereka masih memiliki pasokan makanan.
Untuk itu, Portugis sangat mempertimbangkan lokasi-lokasi yang layak untuk tempat tinggal ataupun tempat untuk perhentian. Semisal beberapa tempat di Flores dipilih karena di tempat itu dilaporkan banyak bahan makanan, seperti padi, kacang-kacangan, kambing, dan madu.
Meski demikian, pemilihan ini tak mudah dan kadang pula salah pilih. Salah satu tempat di Flores, yaitu Larantuka, dinilai oleh Portugis mampu menyediakan pangan, tetapi Belanda yang kemudian datang menilai tanah di tempat itu tidak subur.
Untuk memperkaya jenis-jenis pangan di daerah jajahannya, pada masa berikutnya, orang-orang Portugis juga membawa berbagai jenis bibit dan tanaman yang didapat dari sebuah negeri yang berhasil ditaklukkan, baik di Asia maupun di Amerika, untuk ditanam di negeri lainnya yang belum memiliki komoditas itu.
Kedatangan orang Portugis yang dipimpin Antonio Galvao juga membawa sejumlah tanaman, seperti anggur, tomat, avokad, dan ketela, untuk ditanam di Maluku (1536-1539). Sumber pangan ini disebutkan meningkatkan kualitas diet orang Maluku yang sebelumnya dinilai buruk.
Strategi pangan itu setidaknya berhasil menyelamatkan pasukan Portugis di Ambon yang dipimpin oleh Jurdao de Freitas (sekitar tahun 1545). Mereka sempat tidak bisa mendapat pasokan pangan dari luar ketika terjadi perselisihan dengan penduduk setempat. Mereka bisa bertahan hidup karena di sekitar benteng masih ada sumber pangan.
Dari penjelajahan bangsa Portugis, banyak peninggalan kebudayaan Portugis dalam hal pangan dan pertanian yang masih dikenal di berbagai tempat di dunia hingga sekarang. Di Indonesia setidaknya ada peninggalan seperti cara berkebun (menanam bunga di pekarangan), makanan (serikaya, bika, ketela, pastel), cara pengawetan makanan (acar), dan alat-alat rumah tangga seperti garpu.
Sementara itu, kedatangan orang-orang Portugis ke berbagai tempat juga membuat mereka mengenal berbagai sumber pangan yang selama ini tidak dikenal di Portugis. Salah satu yang kemudian terkenal adalah durian. Pasukan Portugis juga mencatat berbagai sumber pangan, cara memasak, dan juga mendiskripsikan rasanya. Berbagai sumber pangan ini, terutama rempah-rempah, memengaruhi kuliner bangsa Portugis yang ada hingga sekarang.
Pengumpulan berbagai komoditas yang ditemukan di berbagai tempat juga dilakukan oleh anggota pasukan yang berada di berbagai tempat.
Kala itu Kerajaan Portugis memang meminta agar berbagai jenis tanaman dan hewan dikumpulkan dan dikirim ke negerinya ketika pasukan kembali ke Lisabon.
Kompas 29 Agustus 2008
Oleh Andreas Maryoto
Portugis adalah bangsa Eropa yang pertama kali berhasil menembus Kepulauan Rempah-rempah. Mereka berhasil menundukkan Malaka sebagai gerbang menuju kepulauan itu pada tahun 1511. Kemudian mereka berlayar ke timur hingga mencapai Maluku. Armada Portugis memiliki strategi pangan sehingga mereka bisa bertahan di permukiman yang didirikan di berbagai tempat yang jauh dari negeri asalnya.
Kisah penjelajahan mereka berawal dari minat mereka terhadap komoditas rempah-rempah. Secara umum orang Eropa sudah lama mengenal rempah-rempah, tetapi informasi asal-usul rempah-rempah tidak pernah diketahui. Orang Portugis termasuk yang penasaran dengan asal-usul itu. Mereka sudah lama memiliki keinginan untuk mencari asal-usul rempah-rempah.
Pada saat yang sama sekitar abad ke-15 motif-motif untuk menguasai wilayah terbentuk ketika Portugis melakukan kolonisasi di beberapa tempat di Laut Atlantik. Dari penguasaan itu mereka menyadari bahwa keuntungan besar bisa didapat bila mereka bisa menguasai suatu wilayah.
Setelah itu, ekspedisi pertama untuk mencari rempah-rempah dilakukan tahun 1488 oleh Bartolomeus Dias. Pada tahun itu ia berhasil menjangkau Tanjung Harapan, Afrika. Setelah itu dilanjutkan oleh Vasco da Gama yang membuka jalan menuju India tahun 1498. Hingga kemudian armada yang dipimpin Alfonso de Albuquerque berhasil mendarat di Malaka.
Dalam sebuah publikasi yang ditulis oleh Eduardo Bueno (2001) disebutkan, dalam setiap pelayaran, pasukan dibekali dengan sejumlah makanan. Di kapal, awak kapal akan menyediakan 15 kg daging bergaram, bawang, vinegar, dan minyak zaitun untuk keperluan setiap anggota pasukan selama sebulan.
Kapten kapal mendapat tambahan daging ayam dan domba untuk meningkatkan nilai gizi ransum. Bila bertepatan dengan masa puasa atau masa berpantang, mereka mendapat tambahan makanan, yaitu beras serta ikan atau keju untuk menggantikan daging sapi. Dalam tradisi Katolik, masa puasa dan berpantang dilakukan 40 hari sebelum hari raya Paskah.
Anggur dan air disediakan setiap pagi. Satu orang mendapat 1,4 liter anggur. Air juga diberikan dalam jumlah yang sama. Air digunakan untuk minum dan memasak. Air disimpan dalam tangki kayu.
Pasokan yang komplet itu diberikan hanya untuk sebulan pelayaran. Setelah itu kualitas ransum menurun. Selanjutnya mereka mengonsumsi ransum yang disebut ”sailing cookie” yang terdiri atas roti kering bergaram. Meski ada upaya pengawetan, makanan ini rusak dan berbau busuk karena kecoak. Sudah bisa dipastikan mereka akan mengalami defisiensi asupan makanan bergizi. Masalah ini ditambah dengan kualitas air yang disimpan di tangki kayu yang menyebabkan air mudah tercemar sehingga menyebarkan penyakit diare dan infeksi. Akibatnya, banyak anggota pasukan yang meninggal dalam perjalanan.
Semisal armada Vasco da Gama yang ketika berangkat beranggotakan 160 orang, tetapi sebanyak 100 orang di antaranya meninggal dunia karena seriawan. (Penyakit ini mulai terpecahkan tahun 1601 oleh armada Inggris ketika Kapten James Lancester yang memimpin konvoi terdiri atas empat kapal menuju India. Ia bereksperimen memberi jeruk untuk pasukan di salah satu kapal. Mereka yang mengonsumsi jeruk sehat walafiat, tetapi pasukan di tiga kapal lainnya yang tidak mengonsumsi jeruk hampir separonya meninggal dunia)
Sejak awal armada Portugis menyadari masalah pangan ini. Akan tetapi, mereka belum bisa menemukan cara agar pasukannya bisa mendapat pasokan makanan yang baik. Bertahun-tahun armada yang dikirim selalu pulang dengan tidak komplet.
Meski belum mendapat cara untuk mengawetkan makanan di kapal, mereka membuat strategi pasokan pangan agar bisa bertahan hidup di berbagai tempat. Setelah bertahun-tahun berpengalaman melayari lautan luas yang jauh dari negerinya, mereka membuat cara agar pasukan Portugis tidak kehabisan pangan. Setidaknya mereka bisa mendapatkan pasokan pangan itu di sejumlah pos perhentian.
Di dalam buku Bunga Angin, Portugis di Nusantara (2008) karya Paramita R Abdurcahman disebutkan adanya keputusan Raja Portugis tertanggal 15 Maret 1518 yang memberikan insentif khusus bagi casado (anggota pasukan Portugis yang menikah dan meninggalkan pengabdiannya dalam pelayaran) untuk tinggal dan bercocok tanam di tanah baru yang ditempatinya.
Sejak awal mereka juga didorong untuk menikah dengan wanita pribumi. Mereka juga didorong untuk menanam komoditas yang bisa diperdagangkan dan juga makanan pokok yang dibutuhkan oleh pasukan. Harapannya, mereka bisa membantu pasukan Portugis yang melakukan pelayaran di berbagai tempat.
Mereka umumnya tidak tinggal jauh dengan benteng atau komunitas Portugis lainnya. Mereka memasok pangan untuk mereka. Dengan cara demikian, bila pasukan Portugis diisolasi oleh musuh, mereka masih memiliki pasokan makanan.
Untuk itu, Portugis sangat mempertimbangkan lokasi-lokasi yang layak untuk tempat tinggal ataupun tempat untuk perhentian. Semisal beberapa tempat di Flores dipilih karena di tempat itu dilaporkan banyak bahan makanan, seperti padi, kacang-kacangan, kambing, dan madu.
Meski demikian, pemilihan ini tak mudah dan kadang pula salah pilih. Salah satu tempat di Flores, yaitu Larantuka, dinilai oleh Portugis mampu menyediakan pangan, tetapi Belanda yang kemudian datang menilai tanah di tempat itu tidak subur.
Untuk memperkaya jenis-jenis pangan di daerah jajahannya, pada masa berikutnya, orang-orang Portugis juga membawa berbagai jenis bibit dan tanaman yang didapat dari sebuah negeri yang berhasil ditaklukkan, baik di Asia maupun di Amerika, untuk ditanam di negeri lainnya yang belum memiliki komoditas itu.
Kedatangan orang Portugis yang dipimpin Antonio Galvao juga membawa sejumlah tanaman, seperti anggur, tomat, avokad, dan ketela, untuk ditanam di Maluku (1536-1539). Sumber pangan ini disebutkan meningkatkan kualitas diet orang Maluku yang sebelumnya dinilai buruk.
Strategi pangan itu setidaknya berhasil menyelamatkan pasukan Portugis di Ambon yang dipimpin oleh Jurdao de Freitas (sekitar tahun 1545). Mereka sempat tidak bisa mendapat pasokan pangan dari luar ketika terjadi perselisihan dengan penduduk setempat. Mereka bisa bertahan hidup karena di sekitar benteng masih ada sumber pangan.
Dari penjelajahan bangsa Portugis, banyak peninggalan kebudayaan Portugis dalam hal pangan dan pertanian yang masih dikenal di berbagai tempat di dunia hingga sekarang. Di Indonesia setidaknya ada peninggalan seperti cara berkebun (menanam bunga di pekarangan), makanan (serikaya, bika, ketela, pastel), cara pengawetan makanan (acar), dan alat-alat rumah tangga seperti garpu.
Sementara itu, kedatangan orang-orang Portugis ke berbagai tempat juga membuat mereka mengenal berbagai sumber pangan yang selama ini tidak dikenal di Portugis. Salah satu yang kemudian terkenal adalah durian. Pasukan Portugis juga mencatat berbagai sumber pangan, cara memasak, dan juga mendiskripsikan rasanya. Berbagai sumber pangan ini, terutama rempah-rempah, memengaruhi kuliner bangsa Portugis yang ada hingga sekarang.
Pengumpulan berbagai komoditas yang ditemukan di berbagai tempat juga dilakukan oleh anggota pasukan yang berada di berbagai tempat.
Kala itu Kerajaan Portugis memang meminta agar berbagai jenis tanaman dan hewan dikumpulkan dan dikirim ke negerinya ketika pasukan kembali ke Lisabon.
Langganan:
Postingan (Atom)