Kesusastraan
JEJAK INVOLUSI PETANI DALAM PUISI
Kompas 19 April 2008
Oleh Andreas Maryoto
Keindahan sawah dan keriangan petani tinggal kenangan. Ungkapan-ungkapan sentimentil tentang keelokan kampung halaman dengan sawah yang membentang, gunung yang membiru, dan air yang jernih adalah cerita masa lalu. Pemandangan yang indah telah berganti dengan penderitaan petani.
Kini kehidupan petani yang susah yang sebenarnya ada. Setidaknya puisi menjadi cerminan itu. Ketika pejabat masih mengatakan petani sejahtera, puisi telah menyatakan keadaan yang sebenarnya. Ketika data-data produksi padi disodorkan meningkat, puisi telah menyodorkan kabar sesungguhnya tentang derita dan bencana petani. Puisi sesungguhnya berbicara lebih dari sekadar angka-angka.
Adalah angkatan Pujangga Baru (1930-1942) yang boleh dibilang meletakkan alam sebagai sumber inspirasi puisi dalam kesusastraan modern Indonesia. Ketika gaya pantun dan syair mulai ditinggalkan, puisi romantis yang dipelopori angkatan Pujangga Baru menjadi roh baru dalam dunia kesusastraan kala itu.
Angkatan ini dengan kegelisahan zamannya mengangkat tema-tema romantis, di antaranya tentang kampung halaman. Angkatan Pujangga Baru dipengaruhi oleh Angkatan 80 di Belanda yang beraliran romantisme. Meski demikian, Prof Ahmad Samin Siregar dari Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara mengatakan, aliran romantisme masuk ke Indonesia sekitar 30 tahun setelah aliran itu berkembang di Belanda. Siregar mengatakan, puisi-puisi zaman Pujangga Baru memang diwarnai dengan kerinduan terhadap tanah kelahiran dan kampung halaman.
Sutan Takdir Alisjahbana dalam artikel bersambung berjudul Poeisi Indonesia Zaman Baroe di dalam Majalah Poedjangga Baroe, 7 Januari 1935, menyebutkan, "Dalam seni segala masa amat pentinglah perhoeboengan antara manoesia dengan alam sekelilingnja. Sebabnja lain dari pada soember inspirasi, alam jang pelbagai ragam itoe bagi ahli seni adalah teladan jang tiada habis-habisnja".
Sawah dan petani sudah pasti menjadi konteks yang tepat ketika berbicara mengenai alam dalam sastra Indonesia kala itu. Beberapa penulis puisi dengan karya-karyanya yang menyinggung panorama sawah dan kehidupan petani, antara lain penulis dengan inisial Mozasa (kemungkinan Zain Saidi, koresponden Poedjangga Baroe di Kisaran, Sumut) dengan judul Amanat. Pada bait ketiga berbunyi, "hanja sekedjap akoe berpaling/menoleh tanah indah beraloer/dengan mata berair dan silau/serta kening berkeroet maroet/bingkah-bingkah tanah jang besar/tipis soembing dibongkar soengkal/berserak rata gemboer berkilat/gemerlapan mengoeat gairat".
S Yudho (inisial dari S Yudhodipuro, koresponden Poedjangga Baroe di Yogyakarta) pada bait empat sampai enam puisi berjudul Fadjar menulis, "di sawah padi mengaloen diajoen/ Sepoi, menggerosok rimboen dikeboen/ di saat sepi// koetindjau emboen di daoen berkilau/ba' nilam disinar seroja menjilau/di pagi hari//Mendengar akoe peladang berlagoe/ Menoedjoe ke sawah tjangkoel dibahoe/Bersenang hati".
Sawah
Sanusi Pane menulis puisi dengan judul Sawah dan Menumbuk Padi. Ia menjadi sastrawan Pujangga Baru yang banyak mengungkap keindahan panorama sawah dengan kalimat-kalimat yang indah. Sanusi Pane melihat alam selalu gembira dan merupakan sumber inspirasi yang tak pernah habis.
Tema-tema sawah dan pertanian kembali berlanjut setelah perang kemerdekaan. Trisno Sumardjo pada 24 Desember 1951 menulis puisi dengan judul Pinggir Sawah. Salah satu baitnya berbunyi, "dalam bayangan daun mendesau/hati mengaji hikmat yang sedap/alangkah sukur bekerja di sini di tengah rahmat kaum petani/dan di medan kehijauan terlaksana bahagia/manusia pertama di permulaan zaman". Judul puisi ini menjadi judul antologi puisi dwi bahasa Indonesia-Jerman yang berisi kumpulan para sastrawan Indonesia. Buku ini diterbitkan tahun 1990.
Pada tahun 1958 sepulang dari Eropa, Ramadhan KH menerbitkan kumpulan puisi berjudul Priangan si Jelita. Meski tidak menyebut sawah, ia menggambarkan tanah kelahirannya begitu indah. Panorama hijau yang ada di Cianjur-Bandung memesonanya. Inilah konteks ketika Priangan si Jelita ditulis.
Ajib Rosidi dalam Hanya dalam Puisi menulis, "kulempar pandang ke luar/sawah-sawah dan gunung-gunung/lalu sajak-sajak tumbuh/dari setiap butir peluh/para petani yang terbungkuk sejak pagi/melalui hari-hari keras nan Sunyi.
Subagio Sastrowardojo menulis puisi dengan judul Nawang Wulan (yang Melindungi Bumi dan Padi). Pada bait ketiga puisi itu berbunyi, "tapi jaga anak yang menangis tengah malam minta susu/tapi jaga ladang yang baru sehari digaru/anak minta ditimang/ladang minta digenang/lalu panggil aku turun di teratakmu".
Romantisme
Hingga pada masa setelah itu kita masih bisa merasakan romantisme kehidupan petani dan panorama sawah. Sudah pasti aliran romantisme tidak hanya di puisi, tetapi juga pada seni lainnya.
Akan tetapi, belakangan, puisi-puisi yang ada mulai menyadarkan kita pada keadaan petani sesungguhnya. Tema-tema romantika sawah dan petani makin jarang. Yang muncul adalah tema-tema realisme sosial.
Banyak penulis yang gelisah dengan kehidupan petani. Sawah tidak lagi menarik. Kalau toh ada yang mendayu-dayu memuji keelokan sawah, tetap saja puisi mereka menyelipkan hal yang getir. Puja-puji bentang alam nan hijau tidak ada lagi dalam puisi-puisi yang ada pada masa sekarang.
Nanang Suryadi menulis puisi berjudul Pamflet Banten Selatan yang dalam salah satu baitnya tertulis, "hanya berkilometer dari Jakarta/kemiskinan nampak pada wajah saudara yang tak pernah menemukan pendidikan/apa yang kau bayangkan pada ladang dan sawah yang tak bisa mensejahterakan.
Di salah satu situs internet, ada nama Sanak Lembang Alam menulis puisi dengan judul Ketika. Bait ketiga berbunyi, "Air, dimana-mana air melimpah meruah membanjiri lembah/Dan sawah berpuluh, beratus, beribu hektar sawah, kang Cecep/Semua tenggelam ditelan air bah yang sangat dahsyat/Padi yang baru setinggi betis mulai akan berisi umbut/Handam karam tak berdaya, kang Cecep/Tambak udang dan ikan bandeng hilang lenyap tak berbekas".
Sebuah antologi puisi berjudul Bebegig (1998) penuh dengan keresahan di sawah. Puisi Asep GP berjudul Tembang berbunyi, "aku dengar sayup-sayup/kodok-kodok menembang/minta hujan/suaranya tersangkut di tenggorokan//sungai/aswah/di belakang rumah/Kering//Ikan-ikan menggelepar lemas/Kodok-kodok menembang minta hujan.
Ada juga puisi Tias Tatanka yang berjudul Orang-orangan Sawah yang berbunyi, "Orang-orang sawah tak ada lagi/belantara sawah petak-petak padi/mengusir burung-burung/mengusir kantuk petani/mengusik angina-angin//tak ada cerita kencil di badanmu/tak ada topi petani menakuti burung/tak ada rentang tangan kaku/tak ada gubuk/tak ada orang-orangan di sawahku".
Puisi Tias lainnya berjudul Petani Tertawa Karena Buncit Perutnya makin menyiratkan kegetiran yang mendalam. Ia menulis, "petani tertawa buncit perutnya bergoyang/isinya angin dan air mata/desaku kekeringan air mata mata air tak bisa keluar/sawahku hanyut diterpa angin/burung-burung pindah tak punya sarang/gembala melego seruling kerja jadi buruh di kota/petani tertawa anaknya tak sekolah/ikut kerja adalah nomor satu/yang penting ada duitnya/untuk beli beras yang ditanam sendiri/beli gula yang tak bisa dinikmati rasa manisnya/tak ada daging karena sapi tak punya/ayam-ayam hilang ditelan serigala/serigala ada di seluruh penjuru desa/anak-anak tak kenal orang-orangan sawah/petani tertawa melihat orang kota/pakai dasi mengelilingi desa/tertawa tanahnya diincar/"lha, itu artinya tanah saya diharagi mahal!"//(meski tak tahu nanti pindah ke mana).
Kemerosotan petani memang benar-benar sudah terjadi seperti dalam puisi-puisi belakangan ini. Proses itu akan terus terjadi hingga banyak petani mati bila keadaan ini dibiarkan begitu saja.
Puisi telah menjadi cermin kegelisahan itu. Kemerosotan alias involusi petani memang nyata di sekitar kita.
Sabtu, 25 Oktober 2008
PERDAGANGAN KOMODITAS
Komoditas
HARGA PRODUK PERTANIAN BERJATUHAN
Kompas 15 Oktober 2008
Oleh Andreas Maryoto
Hanya dalam hitungan bulan mimpi indah para investor untuk meraup untung besar dengan menanam uang di bisnis pertanian, terutama perkebunan, terhenti untuk waktu yang belum jelas. Krisis keuangan global sudah mulai berdampak pada perdagangan komoditas pertanian. Harga komoditas seperti jagung, kedelai, gula, dan gandum telah turun setelah pasar memperkirakan dalam beberapa bulan ke depan akan terjadi penurunan permintaan. Harga minyak sawit mentah (CPO) yang sudah turun dipastikan akan makin tertekan.
Pasar komoditas dunia dikabarkan tidak terpengaruh oleh upaya-upaya yang dilakukan AS dalam menangani krisis keuangan. Investor merespons situasi ini dengan berjaga-jaga, salah satunya mengurangi permintaan sejumlah komoditas itu untuk beberapa bulan ke depan. Harga jagung di Chicago Board of Trade untuk pengiriman Desember telah turun 6,61 persen (menjadi 4,24 dollar AS per gantang). Harga jagung turun menyusul penurunan permintaan komoditas itu untuk etanol. Penurunan produksi etanol terkait langsung dengan harga minyak yang juga turun.
Kecenderungan harga jagung yang turun akan memukul petani jagung di dalam negeri. Sejak dua tahun lalu petani bergairah menanam jagung karena harga yang terus membaik dari semula sekitar Rp 800 per kg menjadi Rp 2.600 per kg. Sejumlah pemodal besar juga memasuki bisnis ini karena sejak semula bisnis jagung diduga akan terus membaik seiring dengan kenaikan harga minyak.
Proyeksi produksi jagung yang memperkirakan produksi akan naik dipastikan makin menekan harga jagung. Departemen Pertanian AS (USDA) dalam proyeksi produksi jagung di AS yang terbaru menyebutkan, perkiraan produksi tahun ini mencapai 12,2 miliar gantang. Angka ini lebih tinggi dibanding proyeksi sebelumnya yang hanya sekitar 12,1 miliar gantang. USDA sudah mengingatkan soal kemungkinan penurunan harga akibat kenaikan pasokan. Meski demikian, mekanisme pengendalian harga yang dilakukan AS dalam membantu petani mungkin masih bisa mencegah kejatuhan drastis harga jagung.
Harga gula juga mengalami penurunan drastis. Di bursa London (LIFFE) harga gula (white sugar) pada Agustus mencapai puncak mendekati 440 dollar AS per ton, tetapi pada akhir pekan lalu anjlok di bawah 340 dollar AS per ton.
Saat ini Indonesia masih tergantung pada gula impor, maka penurunan harga turut menekan harga gula produksi di dalam negeri. Kemungkinan penyelundupan gula perlu diwaspadai karena harga gula impor menjadi sangat murah. Harga di dalam negeri saat ini sekitar Rp 5.000 per kg. Dengan harga di London setinggi itu, ada insentif besar untuk menyelundupkan gula ke dalam negeri. Harga gandum turun 7,03 persen (5,95 dollar AS per gantang). Harga gandum meski mengalami penurunan tidak langsung akan menurunkan harga terigu dan juga produk turunannya secara langsung di dalam negeri. Kalangan produsen biasanya menunggu hingga harga stabil, baru mereka menyesuaikan harga penjualan.
Harga kedelai untuk pengiriman November turun 7,06 persen (9,22 dollar AS per gantang). Harga kedelai yang turun akan menurunkan harga kedelai di dalam negeri. Hal ini karena sebagian besar kebutuhan kedelai di dalam negeri diimpor. Meski demikian, penurunan harga produk asal kedelai seperti tahu dan tempe tidak akan cepat terjadi.
Kenaikan produksi kedelai juga diperkirakan terjadi pada tahun ini sehingga akan menekan harga kedelai di tengah tekanan akibat penurunan permintaan karena krisis finansial itu. Perkiraan produksi kedelai terbaru di AS naik dari 2,93 miliar gantang ke 2,98 miliar gantang. Untuk harga CPO yang telah menurun sejak beberapa bulan lalu diperkirakan juga kembali turun karena untuk saat ini harga CPO juga sangat terkait dengan harga minyak. Ketika harga minyak dunia turun, harga CPO juga akan turun. Pada Maret lalu harga CPO di bursa Kuala Lumpur, Malaysia, mencapai 3.695 RM (ringgit Malaysia) per ton, tetapi menjadi 2.347 RM per ton pada akhir September lalu.
Sindikat internasional
Jadi, sebelum krisis finansial harga CPO telah menurun. Informasi dari kalangan produsen CPO menyebutkan adanya sindikat internasional yang diduga mendorong kenaikan harga CPO hingga menarik para investor untuk masuk ke bisnis ini sejak beberapa waktu lalu. Harga yang menjulang menjadikan pemilik modal yang tidak tahu-menahu dengan kelapa sawit berlarian menanamkan modal ke perkebunan sawit.
Ketika mereka beramai-ramai masuk, perangkap sindikat ini dimainkan. Harga CPO mulai diturunkan sehingga investor yang sudah terlibat dengan utang perbankan bersiap-siap keluar dari bisnis kelapa sawit. Sindikasi inilah yang nantinya "mengurus" utang dan juga aset-aset milik investor dadakan itu. Pada saatnya nanti, sindikasi ini menguasai bisnis kelapa sawit secara besar-besaran.
Mempercepat kejatuhan
Krisis finansial yang disertai dengan penurunan permintaan CPO dipastikan makin mempercepat jatuhnya aset perkebunan kelapa sawit ke tangan sindikasi ini karena harga jual CPO makin tak menarik lagi. Harga sawit yang makin murah menjadikan investor dadakan tak lagi berniat meneruskan bisnis.
Sindikasi itu yang berpikir jangka panjang dengan senang hati menolong para investor ini, dengan mengucurkan dana. Namun, kelak mereka menjadi raja bisnis kelapa sawit karena telah menguasai aset perkebunan di berbagai tempat. Meski demikian, keberadaan sindikasi ini sulit dideteksi. Dugaan itu hingga sekarang juga sulit dibuktikan dan tetap menjadi rumor. Indonesia perlu mencermati secara khusus perkembangan harga komoditas di pasar dunia karena sejumlah komoditas itu terkait langsung dengan industri dan juga nasib petani di Indonesia. Sayangnya, dibandingkan dengan negara lain, Indonesia relatif "tenang-tenang saja" menangani masalah ini.
Negara tetangga Malaysia sudah sejak awal memantau perkembangan ini dan berusaha mencari cara untuk menekan dampak penurunan itu. Malaysia meyakini dampak penurunan harga yang paling membahayakan adalah kerugian besar yang harus ditanggung petani. Mereka telah memperkirakan dampak sosial ekonomi penurunan harga komoditas akan menyulitkan mereka.
HARGA PRODUK PERTANIAN BERJATUHAN
Kompas 15 Oktober 2008
Oleh Andreas Maryoto
Hanya dalam hitungan bulan mimpi indah para investor untuk meraup untung besar dengan menanam uang di bisnis pertanian, terutama perkebunan, terhenti untuk waktu yang belum jelas. Krisis keuangan global sudah mulai berdampak pada perdagangan komoditas pertanian. Harga komoditas seperti jagung, kedelai, gula, dan gandum telah turun setelah pasar memperkirakan dalam beberapa bulan ke depan akan terjadi penurunan permintaan. Harga minyak sawit mentah (CPO) yang sudah turun dipastikan akan makin tertekan.
Pasar komoditas dunia dikabarkan tidak terpengaruh oleh upaya-upaya yang dilakukan AS dalam menangani krisis keuangan. Investor merespons situasi ini dengan berjaga-jaga, salah satunya mengurangi permintaan sejumlah komoditas itu untuk beberapa bulan ke depan. Harga jagung di Chicago Board of Trade untuk pengiriman Desember telah turun 6,61 persen (menjadi 4,24 dollar AS per gantang). Harga jagung turun menyusul penurunan permintaan komoditas itu untuk etanol. Penurunan produksi etanol terkait langsung dengan harga minyak yang juga turun.
Kecenderungan harga jagung yang turun akan memukul petani jagung di dalam negeri. Sejak dua tahun lalu petani bergairah menanam jagung karena harga yang terus membaik dari semula sekitar Rp 800 per kg menjadi Rp 2.600 per kg. Sejumlah pemodal besar juga memasuki bisnis ini karena sejak semula bisnis jagung diduga akan terus membaik seiring dengan kenaikan harga minyak.
Proyeksi produksi jagung yang memperkirakan produksi akan naik dipastikan makin menekan harga jagung. Departemen Pertanian AS (USDA) dalam proyeksi produksi jagung di AS yang terbaru menyebutkan, perkiraan produksi tahun ini mencapai 12,2 miliar gantang. Angka ini lebih tinggi dibanding proyeksi sebelumnya yang hanya sekitar 12,1 miliar gantang. USDA sudah mengingatkan soal kemungkinan penurunan harga akibat kenaikan pasokan. Meski demikian, mekanisme pengendalian harga yang dilakukan AS dalam membantu petani mungkin masih bisa mencegah kejatuhan drastis harga jagung.
Harga gula juga mengalami penurunan drastis. Di bursa London (LIFFE) harga gula (white sugar) pada Agustus mencapai puncak mendekati 440 dollar AS per ton, tetapi pada akhir pekan lalu anjlok di bawah 340 dollar AS per ton.
Saat ini Indonesia masih tergantung pada gula impor, maka penurunan harga turut menekan harga gula produksi di dalam negeri. Kemungkinan penyelundupan gula perlu diwaspadai karena harga gula impor menjadi sangat murah. Harga di dalam negeri saat ini sekitar Rp 5.000 per kg. Dengan harga di London setinggi itu, ada insentif besar untuk menyelundupkan gula ke dalam negeri. Harga gandum turun 7,03 persen (5,95 dollar AS per gantang). Harga gandum meski mengalami penurunan tidak langsung akan menurunkan harga terigu dan juga produk turunannya secara langsung di dalam negeri. Kalangan produsen biasanya menunggu hingga harga stabil, baru mereka menyesuaikan harga penjualan.
Harga kedelai untuk pengiriman November turun 7,06 persen (9,22 dollar AS per gantang). Harga kedelai yang turun akan menurunkan harga kedelai di dalam negeri. Hal ini karena sebagian besar kebutuhan kedelai di dalam negeri diimpor. Meski demikian, penurunan harga produk asal kedelai seperti tahu dan tempe tidak akan cepat terjadi.
Kenaikan produksi kedelai juga diperkirakan terjadi pada tahun ini sehingga akan menekan harga kedelai di tengah tekanan akibat penurunan permintaan karena krisis finansial itu. Perkiraan produksi kedelai terbaru di AS naik dari 2,93 miliar gantang ke 2,98 miliar gantang. Untuk harga CPO yang telah menurun sejak beberapa bulan lalu diperkirakan juga kembali turun karena untuk saat ini harga CPO juga sangat terkait dengan harga minyak. Ketika harga minyak dunia turun, harga CPO juga akan turun. Pada Maret lalu harga CPO di bursa Kuala Lumpur, Malaysia, mencapai 3.695 RM (ringgit Malaysia) per ton, tetapi menjadi 2.347 RM per ton pada akhir September lalu.
Sindikat internasional
Jadi, sebelum krisis finansial harga CPO telah menurun. Informasi dari kalangan produsen CPO menyebutkan adanya sindikat internasional yang diduga mendorong kenaikan harga CPO hingga menarik para investor untuk masuk ke bisnis ini sejak beberapa waktu lalu. Harga yang menjulang menjadikan pemilik modal yang tidak tahu-menahu dengan kelapa sawit berlarian menanamkan modal ke perkebunan sawit.
Ketika mereka beramai-ramai masuk, perangkap sindikat ini dimainkan. Harga CPO mulai diturunkan sehingga investor yang sudah terlibat dengan utang perbankan bersiap-siap keluar dari bisnis kelapa sawit. Sindikasi inilah yang nantinya "mengurus" utang dan juga aset-aset milik investor dadakan itu. Pada saatnya nanti, sindikasi ini menguasai bisnis kelapa sawit secara besar-besaran.
Mempercepat kejatuhan
Krisis finansial yang disertai dengan penurunan permintaan CPO dipastikan makin mempercepat jatuhnya aset perkebunan kelapa sawit ke tangan sindikasi ini karena harga jual CPO makin tak menarik lagi. Harga sawit yang makin murah menjadikan investor dadakan tak lagi berniat meneruskan bisnis.
Sindikasi itu yang berpikir jangka panjang dengan senang hati menolong para investor ini, dengan mengucurkan dana. Namun, kelak mereka menjadi raja bisnis kelapa sawit karena telah menguasai aset perkebunan di berbagai tempat. Meski demikian, keberadaan sindikasi ini sulit dideteksi. Dugaan itu hingga sekarang juga sulit dibuktikan dan tetap menjadi rumor. Indonesia perlu mencermati secara khusus perkembangan harga komoditas di pasar dunia karena sejumlah komoditas itu terkait langsung dengan industri dan juga nasib petani di Indonesia. Sayangnya, dibandingkan dengan negara lain, Indonesia relatif "tenang-tenang saja" menangani masalah ini.
Negara tetangga Malaysia sudah sejak awal memantau perkembangan ini dan berusaha mencari cara untuk menekan dampak penurunan itu. Malaysia meyakini dampak penurunan harga yang paling membahayakan adalah kerugian besar yang harus ditanggung petani. Mereka telah memperkirakan dampak sosial ekonomi penurunan harga komoditas akan menyulitkan mereka.
PERDAGANGAN KOMODITAS
Skandal Susu
PROBLEM TRANSISI EKONOMI DAN ETIKA DI CHINA
Kompas 3 Oktober 2008
Oleh ANDREAS MARYOTO
Seorang warga negara Indonesia yang tinggal di Shanghai, China, bercerita tentang repotnya mengurus makanan untuk anaknya. Ia mengeluh, banyak produk yang dipalsukan sehingga ia khawatir bahaya produk itu.
Kemudian ia bercerita, di sejumlah media pemalsuan itu mulai terungkap. Para pelaku kemudian dihukum. Meski demikian, ia mengaku tidak lega karena ia merasa setiap saat kasus ini akan terulang lagi.
Kecemasan warga negara Indonesia ini ternyata terbukti. Beberapa waktu yang lalu kita mengetahui pemalsuan telur. Kabarnya bahan baku "telur" itu dari tawas. Kemudian ada juga pasta gigi dan makanan asal laut yang juga dipalsukan.
Terakhir, pada pertengahan September lalu, sejumlah tes dilakukan terhadap produk berbahan baku susu. Hasilnya, ada kandungan melamin dalam produk-produk yang diperiksa itu. Pengungkapan skandal ini bermula dari laporan yang diterima salah satu produsen susu yang menyebutkan produk mereka menyebabkan bayi sakit pada Desember 2007. Kemudian pada Juni 2008 perusahaan ini menemukan kandungan melamin pada produk mereka. Hal ini disusul pengumuman baru bahwa kandungan melamin ditemukan di 22 produk.
Melamin digunakan untuk meningkatkan kadar "protein". Kandungan protein yang ditambah dengan melamin akan menunjukkan kadar "protein" tinggi. Korban pun berjatuhan karena melamin bisa menyebabkan munculnya batu ginjal dan kegagalan fungsi ginjal.
Laporan hingga akhir September menunjukkan sebanyak 53.000 orang sakit, 12.000 orang terpaksa dirawat di rumah sakit, serta empat bayi meninggal dunia setelah mengonsumsi produk yang dicurigai mengandung melamin. Kasus ini juga menjadikan sejumlah negara melarang produk asal China karena diduga mengandung melamin.Faktor perubahan
Di samping mencermati persoalan yang muncul di lapangan, berbagai kalangan juga berpikir mengapa kasus-kasus pemalsuan makanan mudah terjadi. Regulasi keamanan pangan telah mulai dibuat dan diterapkan. Aturan keamanan pangan itu juga terus diperbarui. Akan tetapi, mengapa kasus seperti ini berulang kembali?
"China mempunyai sejumlah masalah terkait dengan transisi ekonomi. Akan tetapi, masalah yang lebih besar adalah minimnya etika bisnis di China," kata Yanzhong Huang, ahli kesehatan global pada Universitas Seton Hall, New Jersey, Amerika Serikat, seperti dikutip The Christian Science Monitor, mengomentari kasus-kasus pemalsuan makanan di China.
Perubahan itu terkait dengan sistem ekonomi dari sosialis menjadi ekonomi yang berorientasi pasar. Ketika sistem sosialis diberlakukan, perusahaan-perusahaan yang ada dikendalikan secara sentral dengan aturan- aturan mikro dan lokal. Ketika ekonomi pasar mulai diperkenalkan, perusahaan itu harus berubah dan tunduk pada aturan-aturan umum atau global. Perubahan ini tak serta-merta bisa diikuti oleh pelaku usaha di negara itu.
Ahli keamanan produk China dari Universitas Oregon, Richard Suttmeier, juga mengatakan, reformasi aturan keamanan pangan tidak begitu saja mudah dijalankan secara cepat. Hal itu mengingat jumlah produsen makanan di China yang mencapai setengah juta. Sebagian besar produsen itu adalah usaha perorangan. Mereka tidak mudah mengikuti aturan-aturan keamanan pangan yang baru.
Pengawas lemah
Di sisi lain, menurut Time, aparat pemerintah yang mengawasi keamanan pangan juga belum memiliki pengetahuan yang memadai. Perubahan sistem ekonomi yang mengharuskan peningkatan kapasitas personel yang terlibat dalam urusan keamanan pangan tidak dapat dilakukan. Para pengawas hanya sedikit mendapat pelatihan dan pendidikan mengenai keamanan pangan.
"Otoritas yang seharusnya menegakkan aturan dengan mudah dikalahkan (oleh kalangan produsen yang tidak mau memahami aturan keamanan pangan). Untuk itu, pemegang otoritas harus mulai berpikir bagaimana membuat kalangan produsen sebagai pihak yang bertanggung jawab terhadap keamanan pangan," katanya.
Masalah lain yang disoroti berbagai ahli adalah minimnya penerapan etika dalam berbisnis. Masih minimnya penegakan hukum menjadikan sejumlah perusahaan bermain-main dengan keamanan pangan. Hal ini terkait pula dengan tekanan biaya produksi yang meningkat. "Kreativitas" pun dilakukan demi mendapat keuntungan yang besar.
Inspeksi fasilitas produksi oleh petugas pemerintah terhadap perusahaan makanan dengan mudah dihindari setelah sogok diberi kepada pejabat pemerintah. Kecurigaan terhadap adanya sogok muncul karena adanya kelambanan penanganan kasus ini.
"Di manakah aparat (yang bertanggung jawab terhadap pemeriksaan makanan) sebelum semuanya ini terjadi," tanya seorang warga.
Rantai produksi makanan, mulai dari pasokan bahan baku hingga menjadi produk olahan, tidak bisa diawasi secara terus- menerus. Dalam kaitan ini, norma-norma sosial seharusnya menjadi "polisi" bagi mereka yang terlibat dalam industri makanan di China.
"Masyarakat China harus mengakui bahwa integritas menjadi hal yang penting," kata Dali Yang, profesor politik dari Universitas Chicago. Integritas akan memberikan kepastian kepada semua pihak bahwa produk yang dihasilkan oleh produsen makanan sesuai dengan aturan yang ditetapkan sehingga aman dikonsumsi.
Terkait dengan tuduhan berbagai pihak, sebenarnya Pemerintah China menyadari persoalan ini. China melihat pentingnya etika dan upaya-upaya yang benar dalam kegiatan usaha.
Perdana Menteri Wen Jiabao, seperti dikutip International Business Time, mengatakan, insiden ini menyatakan kepada China bahwa dalam proses pembangunan, pemerintah harus memberikan perhatian kepada persoalan etika bisnis dan moralitas produsen. Ia juga berjanji tidak menutup-nutupi kasus ini.
Terlepas dari sudut pandang yang menggolongkan kasus ini sebagai tragedi, sejumlah kalangan menyatakan, dengan kasus ini, masyarakat China akan makin menyadari arti penting keamanan pangan. Kesadaran ini bisa memunculkan tuntutan- tuntutan di kalangan konsumen bila kelak ada dampak yang didapat bila mengonsumsi makanan.
"Pemerintah dan masyarakat akan makin memerhatikan masalah seperti ini. Lembaga-lembaga yang menangani masalah ini akan meningkatkan prosedur pemeriksaan dan memperbaiki tingkat keakuratan pemeriksaan," kata Prof Ren Fazheng dari Universitas Pertanian China di Beijing menyebut sisi positif dari kejadian itu.
Di samping itu, peringatan oleh seorang ahli patut menjadi perhatian Pemerintah China. Ia menyebutkan, bila masalah ini tidak ditangani, banyak kasus seperti ini akan terulang kembali. Akibatnya, kasus ini akan merusak ekonomi China, terutama ekspor negara itu.
Sangat boleh jadi, sindrom terhadap produk China (bukan hanya pada makanan) bisa muncul secara global. Minimnya jaminan keamanan dalam produk- produk asal China bisa menjadi senjata yang dilempar oleh lawan-lawan politiknya dalam sengketa perdagangan internasional.
PROBLEM TRANSISI EKONOMI DAN ETIKA DI CHINA
Kompas 3 Oktober 2008
Oleh ANDREAS MARYOTO
Seorang warga negara Indonesia yang tinggal di Shanghai, China, bercerita tentang repotnya mengurus makanan untuk anaknya. Ia mengeluh, banyak produk yang dipalsukan sehingga ia khawatir bahaya produk itu.
Kemudian ia bercerita, di sejumlah media pemalsuan itu mulai terungkap. Para pelaku kemudian dihukum. Meski demikian, ia mengaku tidak lega karena ia merasa setiap saat kasus ini akan terulang lagi.
Kecemasan warga negara Indonesia ini ternyata terbukti. Beberapa waktu yang lalu kita mengetahui pemalsuan telur. Kabarnya bahan baku "telur" itu dari tawas. Kemudian ada juga pasta gigi dan makanan asal laut yang juga dipalsukan.
Terakhir, pada pertengahan September lalu, sejumlah tes dilakukan terhadap produk berbahan baku susu. Hasilnya, ada kandungan melamin dalam produk-produk yang diperiksa itu. Pengungkapan skandal ini bermula dari laporan yang diterima salah satu produsen susu yang menyebutkan produk mereka menyebabkan bayi sakit pada Desember 2007. Kemudian pada Juni 2008 perusahaan ini menemukan kandungan melamin pada produk mereka. Hal ini disusul pengumuman baru bahwa kandungan melamin ditemukan di 22 produk.
Melamin digunakan untuk meningkatkan kadar "protein". Kandungan protein yang ditambah dengan melamin akan menunjukkan kadar "protein" tinggi. Korban pun berjatuhan karena melamin bisa menyebabkan munculnya batu ginjal dan kegagalan fungsi ginjal.
Laporan hingga akhir September menunjukkan sebanyak 53.000 orang sakit, 12.000 orang terpaksa dirawat di rumah sakit, serta empat bayi meninggal dunia setelah mengonsumsi produk yang dicurigai mengandung melamin. Kasus ini juga menjadikan sejumlah negara melarang produk asal China karena diduga mengandung melamin.Faktor perubahan
Di samping mencermati persoalan yang muncul di lapangan, berbagai kalangan juga berpikir mengapa kasus-kasus pemalsuan makanan mudah terjadi. Regulasi keamanan pangan telah mulai dibuat dan diterapkan. Aturan keamanan pangan itu juga terus diperbarui. Akan tetapi, mengapa kasus seperti ini berulang kembali?
"China mempunyai sejumlah masalah terkait dengan transisi ekonomi. Akan tetapi, masalah yang lebih besar adalah minimnya etika bisnis di China," kata Yanzhong Huang, ahli kesehatan global pada Universitas Seton Hall, New Jersey, Amerika Serikat, seperti dikutip The Christian Science Monitor, mengomentari kasus-kasus pemalsuan makanan di China.
Perubahan itu terkait dengan sistem ekonomi dari sosialis menjadi ekonomi yang berorientasi pasar. Ketika sistem sosialis diberlakukan, perusahaan-perusahaan yang ada dikendalikan secara sentral dengan aturan- aturan mikro dan lokal. Ketika ekonomi pasar mulai diperkenalkan, perusahaan itu harus berubah dan tunduk pada aturan-aturan umum atau global. Perubahan ini tak serta-merta bisa diikuti oleh pelaku usaha di negara itu.
Ahli keamanan produk China dari Universitas Oregon, Richard Suttmeier, juga mengatakan, reformasi aturan keamanan pangan tidak begitu saja mudah dijalankan secara cepat. Hal itu mengingat jumlah produsen makanan di China yang mencapai setengah juta. Sebagian besar produsen itu adalah usaha perorangan. Mereka tidak mudah mengikuti aturan-aturan keamanan pangan yang baru.
Pengawas lemah
Di sisi lain, menurut Time, aparat pemerintah yang mengawasi keamanan pangan juga belum memiliki pengetahuan yang memadai. Perubahan sistem ekonomi yang mengharuskan peningkatan kapasitas personel yang terlibat dalam urusan keamanan pangan tidak dapat dilakukan. Para pengawas hanya sedikit mendapat pelatihan dan pendidikan mengenai keamanan pangan.
"Otoritas yang seharusnya menegakkan aturan dengan mudah dikalahkan (oleh kalangan produsen yang tidak mau memahami aturan keamanan pangan). Untuk itu, pemegang otoritas harus mulai berpikir bagaimana membuat kalangan produsen sebagai pihak yang bertanggung jawab terhadap keamanan pangan," katanya.
Masalah lain yang disoroti berbagai ahli adalah minimnya penerapan etika dalam berbisnis. Masih minimnya penegakan hukum menjadikan sejumlah perusahaan bermain-main dengan keamanan pangan. Hal ini terkait pula dengan tekanan biaya produksi yang meningkat. "Kreativitas" pun dilakukan demi mendapat keuntungan yang besar.
Inspeksi fasilitas produksi oleh petugas pemerintah terhadap perusahaan makanan dengan mudah dihindari setelah sogok diberi kepada pejabat pemerintah. Kecurigaan terhadap adanya sogok muncul karena adanya kelambanan penanganan kasus ini.
"Di manakah aparat (yang bertanggung jawab terhadap pemeriksaan makanan) sebelum semuanya ini terjadi," tanya seorang warga.
Rantai produksi makanan, mulai dari pasokan bahan baku hingga menjadi produk olahan, tidak bisa diawasi secara terus- menerus. Dalam kaitan ini, norma-norma sosial seharusnya menjadi "polisi" bagi mereka yang terlibat dalam industri makanan di China.
"Masyarakat China harus mengakui bahwa integritas menjadi hal yang penting," kata Dali Yang, profesor politik dari Universitas Chicago. Integritas akan memberikan kepastian kepada semua pihak bahwa produk yang dihasilkan oleh produsen makanan sesuai dengan aturan yang ditetapkan sehingga aman dikonsumsi.
Terkait dengan tuduhan berbagai pihak, sebenarnya Pemerintah China menyadari persoalan ini. China melihat pentingnya etika dan upaya-upaya yang benar dalam kegiatan usaha.
Perdana Menteri Wen Jiabao, seperti dikutip International Business Time, mengatakan, insiden ini menyatakan kepada China bahwa dalam proses pembangunan, pemerintah harus memberikan perhatian kepada persoalan etika bisnis dan moralitas produsen. Ia juga berjanji tidak menutup-nutupi kasus ini.
Terlepas dari sudut pandang yang menggolongkan kasus ini sebagai tragedi, sejumlah kalangan menyatakan, dengan kasus ini, masyarakat China akan makin menyadari arti penting keamanan pangan. Kesadaran ini bisa memunculkan tuntutan- tuntutan di kalangan konsumen bila kelak ada dampak yang didapat bila mengonsumsi makanan.
"Pemerintah dan masyarakat akan makin memerhatikan masalah seperti ini. Lembaga-lembaga yang menangani masalah ini akan meningkatkan prosedur pemeriksaan dan memperbaiki tingkat keakuratan pemeriksaan," kata Prof Ren Fazheng dari Universitas Pertanian China di Beijing menyebut sisi positif dari kejadian itu.
Di samping itu, peringatan oleh seorang ahli patut menjadi perhatian Pemerintah China. Ia menyebutkan, bila masalah ini tidak ditangani, banyak kasus seperti ini akan terulang kembali. Akibatnya, kasus ini akan merusak ekonomi China, terutama ekspor negara itu.
Sangat boleh jadi, sindrom terhadap produk China (bukan hanya pada makanan) bisa muncul secara global. Minimnya jaminan keamanan dalam produk- produk asal China bisa menjadi senjata yang dilempar oleh lawan-lawan politiknya dalam sengketa perdagangan internasional.
PERDAGANGAN KOMODITAS
Perdagangan
KORSEL MENOLAK PENYAKIT SAPI GILA DARI AS
Kompas 20 Juni 2008
Oleh Andreas Maryoto
Ribuan rakyat Korea Selatan berunjuk rasa sejak Mei lalu, menolak rencana pembukaan impor daging sapi asal Amerika Serikat. Mereka beralasan daging sapi dari AS layak ditolak karena negara itu belum bebas penyakit sapi gila atau bovine spongiform encephalopathy (BSE). Rakyat Korsel cemas karena penyakit sapi gila bisa menular ke manusia. Orang yang mengonsumsi daging sapi yang mengidap prion (agen pembawa penyakit) BSE terkena penyakit dengan nama varian Creutzfeldt-Jakob disease (vCJD). Penyakit tersebut menyerang otak dan bersifat fatal. BSE merupakan penyakit hewan yang dapat ditularkan kepada manusia (zoonosis) melalui konsumsi produk asal hewan yang mengidap BSE. Gejala klinis vCJD akan terlihat dalam waktu lama, tidak seketika. Gejala awal vCJD antara lain depresi, sulit tidur, kelemahan umum, jarang berkomunikasi, mudah lupa, vertigo, halusinasi, dan ataksia. Rakyat Korsel punya hak menolak produk itu karena peraturan Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (OIE) mengatakan, sebuah negara berhak menolak impor hewan atau produk asal hewan dari negara yang tidak bebas penyakit. Korsel masih termasuk negara yang belum bebas dari BSE, tetapi dalam posisi sebagai penerima, mereka bisa menolak produk itu. Saat ini negara yang bebas penyakit BSE ini hanya Indonesia, Australia, dan Selandia Baru. Protes rakyat Korsel bermula dari kesepakatan dagang antara Korsel dan AS pada April lalu. Salah satu butir kesepakatan itu adalah Korsel akan membuka impor daging sapi dari AS. Selama ini Korsel menutup impor daging sapi dari AS menyusul ditemukannya kasus BSE di negara bagian Washington, AS, Desember 2003. Sejak saat itu AS berjuang keras agar komoditas itu bisa diterima negara lain karena pascakejadian itu banyak negara yang menutup impor sapi dan daging sapi dari AS, termasuk Indonesia. Diplomasi dagang terus dilakukan karena AS sangat berkepentingan. Bisnis peternakan dan industri daging sapi serta produk turunannya mencapai 175 miliar dollar AS. Ada 96 juta sapi di sana. Sejak ditemukannya kasus BSE, industri ini terancam. Untuk kembali mendapatkan status bebas penyakit dari OIE, dibutuhkan waktu lama. Setiap diplomasi internasional kerap kali melibatkan perundingan produk ini, termasuk saat berunding dengan Korsel April lalu.Acara televisi Keresahan rakyat Korsel muncul saat sebuah talk show di televisi membahas persoalan itu pertengahan Mei lalu. Tanya jawab soal sapi gila berhasil meyakinkan masyarakat bahwa daging dari AS tersebut berbahaya. Obrolan lewat internet juga kian menggelindingkan soal bahaya produk itu. Sejumlah situs kian gencar mewartakan bahaya penyakit sapi gila. Setelah itu rakyat Korsel dari mulai mahasiswa, biarawan, biarawati, ibu rumah tangga, anak-anak, dan karyawan turun ke jalan. Mereka berharap Presiden Lee Myung-bak membatalkan perjanjian dagang itu. "Apa jadinya kalau anak saya makan daging berbahaya di sebuah restoran," kata Shin Hae-suk, ibu rumah tangga. Isu sapi gila ini kemudian menjadi isu politik. Muncul pernyataan kalau pemerintah cenderung mengorbankan kesehatan rakyatnya terkait dengan rencana impor itu. "Lee memimpin kami seperti ketika dia menjadi CEO dan kami seperti buruhnya," kata Oh Se-young, pekerja di Seoul mengkritik gaya kepemimpinan Lee seperti dikutip Time. Ada juga yang meminta agar Lee segera turun. Unjuk rasa mereka mirip dengan unjuk rasa menentang rezim militer tahun 1970-an dan 1980-an. Pada pekan kedua bulan Juni, Korsel mengirim utusan ke AS untuk merundingkan kembali kesepakatan dagang itu. AS diharapkan tidak mengirim sapi dengan umur lebih dari 30 bulan. Sapi dengan kriteria itu disebut aman dari penyakit sapi gila. Meski demikian amandemen perjanjian itu bila dilaksanakan tetap tidak akan menaikkan pamor pemerintahan Lee yang baru berumur enam bulan. Isu impor sapi ini telah menggerus kepercayaan publik. "Masalah yang serius adalah dia telah kehilangan kepercayaan publik," kata Kang Won-taek, ilmuwan politik dari Universitas Soongsil, Seoul, seperti dikutip International Herald Tribune. Lee memenangi pemilihan presiden pada Desember lalu dengan cukup telak. Akan tetapi, kepercayaan publik turun hingga 20 persen sejak pemerintah menyetujui impor sapi itu. Sejak menjadi presiden, Lee cenderung pragmatis, termasuk langkah membangun kembali hubungan dengan AS yang telah dirintis oleh pendahulunya. Langkah ini dinilai kontroversial di tengah sentimen anti-AS oleh kelompok muda Korsel. Lee dikabarkan memilih kebijakan ini untuk mendapatkan kesempatan menjadi sekutu ekonomi AS di Asia. Korsel ingin mendapatkan manfaat ekonomi lebih besar. Di sisi lain "kehadiran" AS digunakan Korsel untuk menghadapi serangan produk teknologi tinggi dari Jepang. Korsel juga memanfaatkan diplomasi itu untuk menghadapi produk China yang murah. Dengan mengambil kebijakan seperti itu, sepertinya Lee lupa dengan kultur di dalam negeri. Selain kaum muda yang cenderung anti-AS, warga Korsel sangat resisten terhadap liberalisasi pasar. Setidaknya kita diingatkan kasus penolakan terhadap liberalisasi pasar beras Korsel tahun 2005. Petani dan masyarakat Korsel memprotes pembukaan pasar hingga ada dua petani yang bunuh diri untuk mengungkapkan penentangan liberalisasi itu. Warga Korsel melakukan hal tersebut karena mereka memiliki keyakinan bahwa pertanian terkait dengan nenek moyang mereka. Mereka menyadari meski sekarang Korsel telah menjadi negara modern, mereka tidak bisa melupakan nenek moyang mereka yang tak lain adalah petani.
KORSEL MENOLAK PENYAKIT SAPI GILA DARI AS
Kompas 20 Juni 2008
Oleh Andreas Maryoto
Ribuan rakyat Korea Selatan berunjuk rasa sejak Mei lalu, menolak rencana pembukaan impor daging sapi asal Amerika Serikat. Mereka beralasan daging sapi dari AS layak ditolak karena negara itu belum bebas penyakit sapi gila atau bovine spongiform encephalopathy (BSE). Rakyat Korsel cemas karena penyakit sapi gila bisa menular ke manusia. Orang yang mengonsumsi daging sapi yang mengidap prion (agen pembawa penyakit) BSE terkena penyakit dengan nama varian Creutzfeldt-Jakob disease (vCJD). Penyakit tersebut menyerang otak dan bersifat fatal. BSE merupakan penyakit hewan yang dapat ditularkan kepada manusia (zoonosis) melalui konsumsi produk asal hewan yang mengidap BSE. Gejala klinis vCJD akan terlihat dalam waktu lama, tidak seketika. Gejala awal vCJD antara lain depresi, sulit tidur, kelemahan umum, jarang berkomunikasi, mudah lupa, vertigo, halusinasi, dan ataksia. Rakyat Korsel punya hak menolak produk itu karena peraturan Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (OIE) mengatakan, sebuah negara berhak menolak impor hewan atau produk asal hewan dari negara yang tidak bebas penyakit. Korsel masih termasuk negara yang belum bebas dari BSE, tetapi dalam posisi sebagai penerima, mereka bisa menolak produk itu. Saat ini negara yang bebas penyakit BSE ini hanya Indonesia, Australia, dan Selandia Baru. Protes rakyat Korsel bermula dari kesepakatan dagang antara Korsel dan AS pada April lalu. Salah satu butir kesepakatan itu adalah Korsel akan membuka impor daging sapi dari AS. Selama ini Korsel menutup impor daging sapi dari AS menyusul ditemukannya kasus BSE di negara bagian Washington, AS, Desember 2003. Sejak saat itu AS berjuang keras agar komoditas itu bisa diterima negara lain karena pascakejadian itu banyak negara yang menutup impor sapi dan daging sapi dari AS, termasuk Indonesia. Diplomasi dagang terus dilakukan karena AS sangat berkepentingan. Bisnis peternakan dan industri daging sapi serta produk turunannya mencapai 175 miliar dollar AS. Ada 96 juta sapi di sana. Sejak ditemukannya kasus BSE, industri ini terancam. Untuk kembali mendapatkan status bebas penyakit dari OIE, dibutuhkan waktu lama. Setiap diplomasi internasional kerap kali melibatkan perundingan produk ini, termasuk saat berunding dengan Korsel April lalu.Acara televisi Keresahan rakyat Korsel muncul saat sebuah talk show di televisi membahas persoalan itu pertengahan Mei lalu. Tanya jawab soal sapi gila berhasil meyakinkan masyarakat bahwa daging dari AS tersebut berbahaya. Obrolan lewat internet juga kian menggelindingkan soal bahaya produk itu. Sejumlah situs kian gencar mewartakan bahaya penyakit sapi gila. Setelah itu rakyat Korsel dari mulai mahasiswa, biarawan, biarawati, ibu rumah tangga, anak-anak, dan karyawan turun ke jalan. Mereka berharap Presiden Lee Myung-bak membatalkan perjanjian dagang itu. "Apa jadinya kalau anak saya makan daging berbahaya di sebuah restoran," kata Shin Hae-suk, ibu rumah tangga. Isu sapi gila ini kemudian menjadi isu politik. Muncul pernyataan kalau pemerintah cenderung mengorbankan kesehatan rakyatnya terkait dengan rencana impor itu. "Lee memimpin kami seperti ketika dia menjadi CEO dan kami seperti buruhnya," kata Oh Se-young, pekerja di Seoul mengkritik gaya kepemimpinan Lee seperti dikutip Time. Ada juga yang meminta agar Lee segera turun. Unjuk rasa mereka mirip dengan unjuk rasa menentang rezim militer tahun 1970-an dan 1980-an. Pada pekan kedua bulan Juni, Korsel mengirim utusan ke AS untuk merundingkan kembali kesepakatan dagang itu. AS diharapkan tidak mengirim sapi dengan umur lebih dari 30 bulan. Sapi dengan kriteria itu disebut aman dari penyakit sapi gila. Meski demikian amandemen perjanjian itu bila dilaksanakan tetap tidak akan menaikkan pamor pemerintahan Lee yang baru berumur enam bulan. Isu impor sapi ini telah menggerus kepercayaan publik. "Masalah yang serius adalah dia telah kehilangan kepercayaan publik," kata Kang Won-taek, ilmuwan politik dari Universitas Soongsil, Seoul, seperti dikutip International Herald Tribune. Lee memenangi pemilihan presiden pada Desember lalu dengan cukup telak. Akan tetapi, kepercayaan publik turun hingga 20 persen sejak pemerintah menyetujui impor sapi itu. Sejak menjadi presiden, Lee cenderung pragmatis, termasuk langkah membangun kembali hubungan dengan AS yang telah dirintis oleh pendahulunya. Langkah ini dinilai kontroversial di tengah sentimen anti-AS oleh kelompok muda Korsel. Lee dikabarkan memilih kebijakan ini untuk mendapatkan kesempatan menjadi sekutu ekonomi AS di Asia. Korsel ingin mendapatkan manfaat ekonomi lebih besar. Di sisi lain "kehadiran" AS digunakan Korsel untuk menghadapi serangan produk teknologi tinggi dari Jepang. Korsel juga memanfaatkan diplomasi itu untuk menghadapi produk China yang murah. Dengan mengambil kebijakan seperti itu, sepertinya Lee lupa dengan kultur di dalam negeri. Selain kaum muda yang cenderung anti-AS, warga Korsel sangat resisten terhadap liberalisasi pasar. Setidaknya kita diingatkan kasus penolakan terhadap liberalisasi pasar beras Korsel tahun 2005. Petani dan masyarakat Korsel memprotes pembukaan pasar hingga ada dua petani yang bunuh diri untuk mengungkapkan penentangan liberalisasi itu. Warga Korsel melakukan hal tersebut karena mereka memiliki keyakinan bahwa pertanian terkait dengan nenek moyang mereka. Mereka menyadari meski sekarang Korsel telah menjadi negara modern, mereka tidak bisa melupakan nenek moyang mereka yang tak lain adalah petani.
SEJARAH PERTANIAN
PEKARANGAN, PERTAHANAN PANGAN YANG HILANG
Kompas 1 September
Oleh ANDREAS MARYOTO
Lahan yang makin menyempit tak hanya terjadi di sawah, kebun, atau ladang, tetapi juga di pekarangan, lahan yang langsung berdampingan dengan rumah. Fragmentasi lahan menjadikan pekarangan yang merupakan pertahanan pangan terakhir itu nyaris hilang. Kasus kurang gizi sangat boleh jadi akibat dari keadaan ini. Sekarang kita sulit untuk mendapatkan pekarangan di rumah-rumah di Pulau Jawa. Sampai tahun 1980-an para guru masih mengajarkan bercocok tanam di pekarangan kepada murid-muridnya. Sekarang mungkin hal itu masih diajarkan, tetapi tidak mudah diterapkan. Di depan rumah bukan lagi lahan pekarangan, tetapi sudah menjadi jalan raya. Di belakang rumah lahan makin sedikit dan cenderung berimpitan dengan rumah tetangga. Meski demikian, jejak pekarangan masih ada. Pekarangan dengan berbagai aneka tanaman dan juga hewan piaraan masih ditemukan di keluarga-keluarga yang umumnya anak-anaknya bekerja di luar kota dan tidakmenggantungkan pada lahan milik orangtuanya sehingga lahan itu masih terjaga. Di sebuah rumah di Kecamatan Ponjong, Kabupaten Gunung Kidul, DI Yogyakarta, sebuah keluarga masih bisa memanen berbagai tanaman dan hewan dari pekarangan. Di pekarangan ada ubi, pepaya, lele, sapi, dan lebah madu. Tidak jauh dari rumahnya tersedia sawah yang memasok beras. Setidaknya gambaran seperti ini bisa mewakili profil pekarangan. Gambaran pekarangan ini memang lebih sederhana dibandingkan dengan pekarangan pada masa lalu yang lebih komplet, yang di dalamnya ada tanaman obat-obatan, pohon bambu, pohon kelapa, pohon jati, dan lain-lain. Tanaman obat-obatan menjadi apotek hidup sehinggabila suatu saat ada anggota keluarga yang sakit, mereka dengan mudah mendapat obatnya. "Saat ini keanekaragaman hayati pekarangan memang menurun. Peran pekarangan sebagai penopang ekonomi lebih menonjol ketimbang sebagai sumber gizi keluarga. Eksploitasi pekarangan meningkat. Mereka membutuhkan uang untuk kebutuhan sehari-hari," kata Kepala Pusat Pengembangan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, yang juga peneliti pekarangan, Antonius Budisusila. Pada masa lalu, pekarangan lebih berfungsi sebagai basis pangan rumah tangga dibandingkan sebagai sumber ekonomi. Hasil pekarangan baru dijual ke pasar bila sebuah keluarga membutuhkan pangan lain atau alat-alat rumah tangga yang tidak bisa dibuat sendiri. Munculnya pekarangan dalam sistem pertanian di Nusantara tidak mudah didapat. Meski demikian, di dalam tulisan The Javanese Homegarden yang termuat di Journal for Farming Systems Research (1992) Otto Soemarwoto dan GR Conway yang mengutip artikel Terra (1954) menyebutkan, berdasarkan sumber tertulis, pekarangan sudah ada pada 860 Masehi. Meski demikian, pekarangan di Nusantara diperkirakan sudah lama ada. Terra menduga Jawa Tengah merupakan tempat asal usul pekarangan. Akan tetapi, dalam buku Bunga Angin, Portugis di Nusantara (2008) memperlihatkan pelaut-pelaut Portugis yang membuat permukiman di sejumlah tempat juga menanami permukiman atau benteng sekitar dengan berbagai tanaman untuk bertahan hidup. Penulis buku itu, Paramita R Abdurachman, menyebutkan, kedatangan Portugis pada abad ke-16 menjadikan pekarangan penduduk pribumi mulai diolah dan ditanami bunga. Fakta-fakta di atas sepertinya tidak perlu dipertentangkan, tetapi lebih dilihat sebagai saling melengkapi. Kemungkinan pekarangan memang sudah ada sebelum Portugis datang, tetapi kedatangan Portugis melengkapi tanaman di pekarangan, seperti bunga yang disebut di atas. Kedatangan bangsa lain pun, seperti Belanda, diperkirakan juga melengkapi tanaman dan juga hewan di pekarangan. Penelitian mengenai pekarangan sudah banyak dilakukan. Sejak zaman kolonial, para peneliti sudah meminati meneliti pekarangan. Dalam History of Java (1817), Raffles menyebutkan, setidaknya terdapat 10 persen pekarangan dari luas areal pertanian yang ada. Pada tahun 1937 publikasi yang dikeluarkan oleh Ochse memperlihatkan ada hubungan yang kuat antara kualitas pekarangan dan status gizi rumah tangga. Penelitian sebelumnya bersama Terra di Kutowinangun, Kabupaten Purworejo, menunjukkan, sebesar 18 persen asupan kalori dan 14 persen asupan protein penduduk setempat berasal dari pekarangan. Isi pekarangan juga bermacam-macam hewan dan tanaman. Ada penelitian yang menarik, secara umum ciri pekarangan di Jateng selalu ada tanaman obat. Hal ini terkait dengan kebiasaan orang Jawa yang suka minum jamu. Di Jawa Barat pekarangan dicirikan dengan tanaman sayuran karena orang Sunda suka dengan lalapan. Ada juga yang meneliti pekarangan dari sisi antropologi. Penny dan Ginting (1984) menyebutkan, secara umum pekarangan diurus oleh perempuan sehingga pekarangan mudah didapat di daerah yang memiliki pola kekerabatan matriarkal di Jawa, Sumatera Barat, dan Aceh. Pekarangan sulit didapat di daerah dengan kekerabatan patriarkal seperti di Sumatera Utara, khususnya masyarakat Batak. Komoditas pekarangan juga menjadi sarana sosialisasi dengan tetangga. Hasil dari pekarangan tidak sedikit dibagikan kepada tetangga sekitar. Meski demikian, pembagian ini ada juga yang mengandung unsur mistis terkait dengan menghilangkan bahaya atau mengobati penyakit. Sejumlah penelitian yang dikutip oleh Otto Soemarwoto dan GR Conway itu memperlihatkan perubahan-perubahan stabilitas pekarangan pada masa tertentu. Pada kondisi produksi padi menurun atau terjadi paceklik, makanan pokok sekunder, seperti ubi, diambil dari pekarangan. Penjualan bambu dan kelapa yang dipanen dari pekarangan juga meningkat ketika terjadi paceklik. Pemanenan hasil pekarangan juga menunjukkan peningkatan menjelang Idul Fitri pada saat keluarga membutuhkan uang tunai. Kedua peneliti itu menyatakan, ketika Orde Baru mulai bergerak tahun 1969 dengan rencana pembangunan jangkapanjang, terdapat sejumlah kelas menengah dan atas yang membutuhkan gizi yang baik. Ini dipenuhi petani dengan memproduksi komoditas-komoditas yang laku di pasar. Akibatnya, terjadi perubahan jenis komoditas yang ditanam di pekarangan secara drastis. Kecenderungan monokultur mengakibatkan masuknya berbagai penyakit. Akibatnya, bisa dilihat hingga sekarang, sejumlah sentra pertanian bertumbangan dan sulit untuk bangkit. Sementara itu, Budisusila melihat pekarangan muncul ketika pasar dan negara (dan juga kerajaan pada masa lalu) tidak memikirkan pangan rakyat. Rakyat mampu secara mandiri memikirkan ketahanan pangan mereka. "Pasar dan negara sudah terbukti sejak masa lalu hingga hari ini bukan institusi yang baik yang memikirkan ketahanan pangan rakyat. Rakyat mempunyai inisiatif sendiri yang serius melalui pekarangan," katanya. Ia juga menyebutkan, pada masa penjajahan Belanda pekarangan mampu menjadi penopang kebutuhan pangan rakyat. Ideologi kemandirian pangan sebenarnya sudah ada sejak lama di tingkat rakyat. Rakyat mempunyai otoritas untuk memperjuangkan kemandirian pangan, setidaknya melalui pekarangan. Dalam hal ini mestinya negara mendukung, tetapi ada ketidakrelaan negara kalau rakyat mempunyai inisiatif yang kuat sehingga tanpa disadari kemandirian itu terkikis. Di sisi lain ada kepentingan agar kemandirian dirusak karena kalau kemandirian itu kokoh, pelaku pasar alias kekuatan modal tak mampu menawarkan sesuatu kepada masyarakat (konsumen). Di samping itu, Budisusila melihat pekarangan merupakan cermin kebudayaan rakyat dalam berolah pikir. Pekarangan disusun dengan teknik yang memikirkan aspek ketahanan pangan, ekonomi, artistik, dan mengantisipasi persoalan yang mungkin terjadi dalam jangka menengah dan jangka panjang.
Kompas 1 September
Oleh ANDREAS MARYOTO
Lahan yang makin menyempit tak hanya terjadi di sawah, kebun, atau ladang, tetapi juga di pekarangan, lahan yang langsung berdampingan dengan rumah. Fragmentasi lahan menjadikan pekarangan yang merupakan pertahanan pangan terakhir itu nyaris hilang. Kasus kurang gizi sangat boleh jadi akibat dari keadaan ini. Sekarang kita sulit untuk mendapatkan pekarangan di rumah-rumah di Pulau Jawa. Sampai tahun 1980-an para guru masih mengajarkan bercocok tanam di pekarangan kepada murid-muridnya. Sekarang mungkin hal itu masih diajarkan, tetapi tidak mudah diterapkan. Di depan rumah bukan lagi lahan pekarangan, tetapi sudah menjadi jalan raya. Di belakang rumah lahan makin sedikit dan cenderung berimpitan dengan rumah tetangga. Meski demikian, jejak pekarangan masih ada. Pekarangan dengan berbagai aneka tanaman dan juga hewan piaraan masih ditemukan di keluarga-keluarga yang umumnya anak-anaknya bekerja di luar kota dan tidakmenggantungkan pada lahan milik orangtuanya sehingga lahan itu masih terjaga. Di sebuah rumah di Kecamatan Ponjong, Kabupaten Gunung Kidul, DI Yogyakarta, sebuah keluarga masih bisa memanen berbagai tanaman dan hewan dari pekarangan. Di pekarangan ada ubi, pepaya, lele, sapi, dan lebah madu. Tidak jauh dari rumahnya tersedia sawah yang memasok beras. Setidaknya gambaran seperti ini bisa mewakili profil pekarangan. Gambaran pekarangan ini memang lebih sederhana dibandingkan dengan pekarangan pada masa lalu yang lebih komplet, yang di dalamnya ada tanaman obat-obatan, pohon bambu, pohon kelapa, pohon jati, dan lain-lain. Tanaman obat-obatan menjadi apotek hidup sehinggabila suatu saat ada anggota keluarga yang sakit, mereka dengan mudah mendapat obatnya. "Saat ini keanekaragaman hayati pekarangan memang menurun. Peran pekarangan sebagai penopang ekonomi lebih menonjol ketimbang sebagai sumber gizi keluarga. Eksploitasi pekarangan meningkat. Mereka membutuhkan uang untuk kebutuhan sehari-hari," kata Kepala Pusat Pengembangan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, yang juga peneliti pekarangan, Antonius Budisusila. Pada masa lalu, pekarangan lebih berfungsi sebagai basis pangan rumah tangga dibandingkan sebagai sumber ekonomi. Hasil pekarangan baru dijual ke pasar bila sebuah keluarga membutuhkan pangan lain atau alat-alat rumah tangga yang tidak bisa dibuat sendiri. Munculnya pekarangan dalam sistem pertanian di Nusantara tidak mudah didapat. Meski demikian, di dalam tulisan The Javanese Homegarden yang termuat di Journal for Farming Systems Research (1992) Otto Soemarwoto dan GR Conway yang mengutip artikel Terra (1954) menyebutkan, berdasarkan sumber tertulis, pekarangan sudah ada pada 860 Masehi. Meski demikian, pekarangan di Nusantara diperkirakan sudah lama ada. Terra menduga Jawa Tengah merupakan tempat asal usul pekarangan. Akan tetapi, dalam buku Bunga Angin, Portugis di Nusantara (2008) memperlihatkan pelaut-pelaut Portugis yang membuat permukiman di sejumlah tempat juga menanami permukiman atau benteng sekitar dengan berbagai tanaman untuk bertahan hidup. Penulis buku itu, Paramita R Abdurachman, menyebutkan, kedatangan Portugis pada abad ke-16 menjadikan pekarangan penduduk pribumi mulai diolah dan ditanami bunga. Fakta-fakta di atas sepertinya tidak perlu dipertentangkan, tetapi lebih dilihat sebagai saling melengkapi. Kemungkinan pekarangan memang sudah ada sebelum Portugis datang, tetapi kedatangan Portugis melengkapi tanaman di pekarangan, seperti bunga yang disebut di atas. Kedatangan bangsa lain pun, seperti Belanda, diperkirakan juga melengkapi tanaman dan juga hewan di pekarangan. Penelitian mengenai pekarangan sudah banyak dilakukan. Sejak zaman kolonial, para peneliti sudah meminati meneliti pekarangan. Dalam History of Java (1817), Raffles menyebutkan, setidaknya terdapat 10 persen pekarangan dari luas areal pertanian yang ada. Pada tahun 1937 publikasi yang dikeluarkan oleh Ochse memperlihatkan ada hubungan yang kuat antara kualitas pekarangan dan status gizi rumah tangga. Penelitian sebelumnya bersama Terra di Kutowinangun, Kabupaten Purworejo, menunjukkan, sebesar 18 persen asupan kalori dan 14 persen asupan protein penduduk setempat berasal dari pekarangan. Isi pekarangan juga bermacam-macam hewan dan tanaman. Ada penelitian yang menarik, secara umum ciri pekarangan di Jateng selalu ada tanaman obat. Hal ini terkait dengan kebiasaan orang Jawa yang suka minum jamu. Di Jawa Barat pekarangan dicirikan dengan tanaman sayuran karena orang Sunda suka dengan lalapan. Ada juga yang meneliti pekarangan dari sisi antropologi. Penny dan Ginting (1984) menyebutkan, secara umum pekarangan diurus oleh perempuan sehingga pekarangan mudah didapat di daerah yang memiliki pola kekerabatan matriarkal di Jawa, Sumatera Barat, dan Aceh. Pekarangan sulit didapat di daerah dengan kekerabatan patriarkal seperti di Sumatera Utara, khususnya masyarakat Batak. Komoditas pekarangan juga menjadi sarana sosialisasi dengan tetangga. Hasil dari pekarangan tidak sedikit dibagikan kepada tetangga sekitar. Meski demikian, pembagian ini ada juga yang mengandung unsur mistis terkait dengan menghilangkan bahaya atau mengobati penyakit. Sejumlah penelitian yang dikutip oleh Otto Soemarwoto dan GR Conway itu memperlihatkan perubahan-perubahan stabilitas pekarangan pada masa tertentu. Pada kondisi produksi padi menurun atau terjadi paceklik, makanan pokok sekunder, seperti ubi, diambil dari pekarangan. Penjualan bambu dan kelapa yang dipanen dari pekarangan juga meningkat ketika terjadi paceklik. Pemanenan hasil pekarangan juga menunjukkan peningkatan menjelang Idul Fitri pada saat keluarga membutuhkan uang tunai. Kedua peneliti itu menyatakan, ketika Orde Baru mulai bergerak tahun 1969 dengan rencana pembangunan jangkapanjang, terdapat sejumlah kelas menengah dan atas yang membutuhkan gizi yang baik. Ini dipenuhi petani dengan memproduksi komoditas-komoditas yang laku di pasar. Akibatnya, terjadi perubahan jenis komoditas yang ditanam di pekarangan secara drastis. Kecenderungan monokultur mengakibatkan masuknya berbagai penyakit. Akibatnya, bisa dilihat hingga sekarang, sejumlah sentra pertanian bertumbangan dan sulit untuk bangkit. Sementara itu, Budisusila melihat pekarangan muncul ketika pasar dan negara (dan juga kerajaan pada masa lalu) tidak memikirkan pangan rakyat. Rakyat mampu secara mandiri memikirkan ketahanan pangan mereka. "Pasar dan negara sudah terbukti sejak masa lalu hingga hari ini bukan institusi yang baik yang memikirkan ketahanan pangan rakyat. Rakyat mempunyai inisiatif sendiri yang serius melalui pekarangan," katanya. Ia juga menyebutkan, pada masa penjajahan Belanda pekarangan mampu menjadi penopang kebutuhan pangan rakyat. Ideologi kemandirian pangan sebenarnya sudah ada sejak lama di tingkat rakyat. Rakyat mempunyai otoritas untuk memperjuangkan kemandirian pangan, setidaknya melalui pekarangan. Dalam hal ini mestinya negara mendukung, tetapi ada ketidakrelaan negara kalau rakyat mempunyai inisiatif yang kuat sehingga tanpa disadari kemandirian itu terkikis. Di sisi lain ada kepentingan agar kemandirian dirusak karena kalau kemandirian itu kokoh, pelaku pasar alias kekuatan modal tak mampu menawarkan sesuatu kepada masyarakat (konsumen). Di samping itu, Budisusila melihat pekarangan merupakan cermin kebudayaan rakyat dalam berolah pikir. Pekarangan disusun dengan teknik yang memikirkan aspek ketahanan pangan, ekonomi, artistik, dan mengantisipasi persoalan yang mungkin terjadi dalam jangka menengah dan jangka panjang.
POLITIK PANGAN
Startegi Pangan Armada Portugis
Kompas 29 Agustus 2008
Oleh Andreas Maryoto
Portugis adalah bangsa Eropa yang pertama kali berhasil menembus Kepulauan Rempah-rempah. Mereka berhasil menundukkan Malaka sebagai gerbang menuju kepulauan itu pada tahun 1511. Kemudian mereka berlayar ke timur hingga mencapai Maluku. Armada Portugis memiliki strategi pangan sehingga mereka bisa bertahan di permukiman yang didirikan di berbagai tempat yang jauh dari negeri asalnya.
Kisah penjelajahan mereka berawal dari minat mereka terhadap komoditas rempah-rempah. Secara umum orang Eropa sudah lama mengenal rempah-rempah, tetapi informasi asal-usul rempah-rempah tidak pernah diketahui. Orang Portugis termasuk yang penasaran dengan asal-usul itu. Mereka sudah lama memiliki keinginan untuk mencari asal-usul rempah-rempah.
Pada saat yang sama sekitar abad ke-15 motif-motif untuk menguasai wilayah terbentuk ketika Portugis melakukan kolonisasi di beberapa tempat di Laut Atlantik. Dari penguasaan itu mereka menyadari bahwa keuntungan besar bisa didapat bila mereka bisa menguasai suatu wilayah.
Setelah itu, ekspedisi pertama untuk mencari rempah-rempah dilakukan tahun 1488 oleh Bartolomeus Dias. Pada tahun itu ia berhasil menjangkau Tanjung Harapan, Afrika. Setelah itu dilanjutkan oleh Vasco da Gama yang membuka jalan menuju India tahun 1498. Hingga kemudian armada yang dipimpin Alfonso de Albuquerque berhasil mendarat di Malaka.
Dalam sebuah publikasi yang ditulis oleh Eduardo Bueno (2001) disebutkan, dalam setiap pelayaran, pasukan dibekali dengan sejumlah makanan. Di kapal, awak kapal akan menyediakan 15 kg daging bergaram, bawang, vinegar, dan minyak zaitun untuk keperluan setiap anggota pasukan selama sebulan.
Kapten kapal mendapat tambahan daging ayam dan domba untuk meningkatkan nilai gizi ransum. Bila bertepatan dengan masa puasa atau masa berpantang, mereka mendapat tambahan makanan, yaitu beras serta ikan atau keju untuk menggantikan daging sapi. Dalam tradisi Katolik, masa puasa dan berpantang dilakukan 40 hari sebelum hari raya Paskah.
Anggur dan air disediakan setiap pagi. Satu orang mendapat 1,4 liter anggur. Air juga diberikan dalam jumlah yang sama. Air digunakan untuk minum dan memasak. Air disimpan dalam tangki kayu.
Pasokan yang komplet itu diberikan hanya untuk sebulan pelayaran. Setelah itu kualitas ransum menurun. Selanjutnya mereka mengonsumsi ransum yang disebut ”sailing cookie” yang terdiri atas roti kering bergaram. Meski ada upaya pengawetan, makanan ini rusak dan berbau busuk karena kecoak. Sudah bisa dipastikan mereka akan mengalami defisiensi asupan makanan bergizi. Masalah ini ditambah dengan kualitas air yang disimpan di tangki kayu yang menyebabkan air mudah tercemar sehingga menyebarkan penyakit diare dan infeksi. Akibatnya, banyak anggota pasukan yang meninggal dalam perjalanan.
Semisal armada Vasco da Gama yang ketika berangkat beranggotakan 160 orang, tetapi sebanyak 100 orang di antaranya meninggal dunia karena seriawan. (Penyakit ini mulai terpecahkan tahun 1601 oleh armada Inggris ketika Kapten James Lancester yang memimpin konvoi terdiri atas empat kapal menuju India. Ia bereksperimen memberi jeruk untuk pasukan di salah satu kapal. Mereka yang mengonsumsi jeruk sehat walafiat, tetapi pasukan di tiga kapal lainnya yang tidak mengonsumsi jeruk hampir separonya meninggal dunia)
Sejak awal armada Portugis menyadari masalah pangan ini. Akan tetapi, mereka belum bisa menemukan cara agar pasukannya bisa mendapat pasokan makanan yang baik. Bertahun-tahun armada yang dikirim selalu pulang dengan tidak komplet.
Meski belum mendapat cara untuk mengawetkan makanan di kapal, mereka membuat strategi pasokan pangan agar bisa bertahan hidup di berbagai tempat. Setelah bertahun-tahun berpengalaman melayari lautan luas yang jauh dari negerinya, mereka membuat cara agar pasukan Portugis tidak kehabisan pangan. Setidaknya mereka bisa mendapatkan pasokan pangan itu di sejumlah pos perhentian.
Di dalam buku Bunga Angin, Portugis di Nusantara (2008) karya Paramita R Abdurcahman disebutkan adanya keputusan Raja Portugis tertanggal 15 Maret 1518 yang memberikan insentif khusus bagi casado (anggota pasukan Portugis yang menikah dan meninggalkan pengabdiannya dalam pelayaran) untuk tinggal dan bercocok tanam di tanah baru yang ditempatinya.
Sejak awal mereka juga didorong untuk menikah dengan wanita pribumi. Mereka juga didorong untuk menanam komoditas yang bisa diperdagangkan dan juga makanan pokok yang dibutuhkan oleh pasukan. Harapannya, mereka bisa membantu pasukan Portugis yang melakukan pelayaran di berbagai tempat.
Mereka umumnya tidak tinggal jauh dengan benteng atau komunitas Portugis lainnya. Mereka memasok pangan untuk mereka. Dengan cara demikian, bila pasukan Portugis diisolasi oleh musuh, mereka masih memiliki pasokan makanan.
Untuk itu, Portugis sangat mempertimbangkan lokasi-lokasi yang layak untuk tempat tinggal ataupun tempat untuk perhentian. Semisal beberapa tempat di Flores dipilih karena di tempat itu dilaporkan banyak bahan makanan, seperti padi, kacang-kacangan, kambing, dan madu.
Meski demikian, pemilihan ini tak mudah dan kadang pula salah pilih. Salah satu tempat di Flores, yaitu Larantuka, dinilai oleh Portugis mampu menyediakan pangan, tetapi Belanda yang kemudian datang menilai tanah di tempat itu tidak subur.
Untuk memperkaya jenis-jenis pangan di daerah jajahannya, pada masa berikutnya, orang-orang Portugis juga membawa berbagai jenis bibit dan tanaman yang didapat dari sebuah negeri yang berhasil ditaklukkan, baik di Asia maupun di Amerika, untuk ditanam di negeri lainnya yang belum memiliki komoditas itu.
Kedatangan orang Portugis yang dipimpin Antonio Galvao juga membawa sejumlah tanaman, seperti anggur, tomat, avokad, dan ketela, untuk ditanam di Maluku (1536-1539). Sumber pangan ini disebutkan meningkatkan kualitas diet orang Maluku yang sebelumnya dinilai buruk.
Strategi pangan itu setidaknya berhasil menyelamatkan pasukan Portugis di Ambon yang dipimpin oleh Jurdao de Freitas (sekitar tahun 1545). Mereka sempat tidak bisa mendapat pasokan pangan dari luar ketika terjadi perselisihan dengan penduduk setempat. Mereka bisa bertahan hidup karena di sekitar benteng masih ada sumber pangan.
Dari penjelajahan bangsa Portugis, banyak peninggalan kebudayaan Portugis dalam hal pangan dan pertanian yang masih dikenal di berbagai tempat di dunia hingga sekarang. Di Indonesia setidaknya ada peninggalan seperti cara berkebun (menanam bunga di pekarangan), makanan (serikaya, bika, ketela, pastel), cara pengawetan makanan (acar), dan alat-alat rumah tangga seperti garpu.
Sementara itu, kedatangan orang-orang Portugis ke berbagai tempat juga membuat mereka mengenal berbagai sumber pangan yang selama ini tidak dikenal di Portugis. Salah satu yang kemudian terkenal adalah durian. Pasukan Portugis juga mencatat berbagai sumber pangan, cara memasak, dan juga mendiskripsikan rasanya. Berbagai sumber pangan ini, terutama rempah-rempah, memengaruhi kuliner bangsa Portugis yang ada hingga sekarang.
Pengumpulan berbagai komoditas yang ditemukan di berbagai tempat juga dilakukan oleh anggota pasukan yang berada di berbagai tempat.
Kala itu Kerajaan Portugis memang meminta agar berbagai jenis tanaman dan hewan dikumpulkan dan dikirim ke negerinya ketika pasukan kembali ke Lisabon.
Kompas 29 Agustus 2008
Oleh Andreas Maryoto
Portugis adalah bangsa Eropa yang pertama kali berhasil menembus Kepulauan Rempah-rempah. Mereka berhasil menundukkan Malaka sebagai gerbang menuju kepulauan itu pada tahun 1511. Kemudian mereka berlayar ke timur hingga mencapai Maluku. Armada Portugis memiliki strategi pangan sehingga mereka bisa bertahan di permukiman yang didirikan di berbagai tempat yang jauh dari negeri asalnya.
Kisah penjelajahan mereka berawal dari minat mereka terhadap komoditas rempah-rempah. Secara umum orang Eropa sudah lama mengenal rempah-rempah, tetapi informasi asal-usul rempah-rempah tidak pernah diketahui. Orang Portugis termasuk yang penasaran dengan asal-usul itu. Mereka sudah lama memiliki keinginan untuk mencari asal-usul rempah-rempah.
Pada saat yang sama sekitar abad ke-15 motif-motif untuk menguasai wilayah terbentuk ketika Portugis melakukan kolonisasi di beberapa tempat di Laut Atlantik. Dari penguasaan itu mereka menyadari bahwa keuntungan besar bisa didapat bila mereka bisa menguasai suatu wilayah.
Setelah itu, ekspedisi pertama untuk mencari rempah-rempah dilakukan tahun 1488 oleh Bartolomeus Dias. Pada tahun itu ia berhasil menjangkau Tanjung Harapan, Afrika. Setelah itu dilanjutkan oleh Vasco da Gama yang membuka jalan menuju India tahun 1498. Hingga kemudian armada yang dipimpin Alfonso de Albuquerque berhasil mendarat di Malaka.
Dalam sebuah publikasi yang ditulis oleh Eduardo Bueno (2001) disebutkan, dalam setiap pelayaran, pasukan dibekali dengan sejumlah makanan. Di kapal, awak kapal akan menyediakan 15 kg daging bergaram, bawang, vinegar, dan minyak zaitun untuk keperluan setiap anggota pasukan selama sebulan.
Kapten kapal mendapat tambahan daging ayam dan domba untuk meningkatkan nilai gizi ransum. Bila bertepatan dengan masa puasa atau masa berpantang, mereka mendapat tambahan makanan, yaitu beras serta ikan atau keju untuk menggantikan daging sapi. Dalam tradisi Katolik, masa puasa dan berpantang dilakukan 40 hari sebelum hari raya Paskah.
Anggur dan air disediakan setiap pagi. Satu orang mendapat 1,4 liter anggur. Air juga diberikan dalam jumlah yang sama. Air digunakan untuk minum dan memasak. Air disimpan dalam tangki kayu.
Pasokan yang komplet itu diberikan hanya untuk sebulan pelayaran. Setelah itu kualitas ransum menurun. Selanjutnya mereka mengonsumsi ransum yang disebut ”sailing cookie” yang terdiri atas roti kering bergaram. Meski ada upaya pengawetan, makanan ini rusak dan berbau busuk karena kecoak. Sudah bisa dipastikan mereka akan mengalami defisiensi asupan makanan bergizi. Masalah ini ditambah dengan kualitas air yang disimpan di tangki kayu yang menyebabkan air mudah tercemar sehingga menyebarkan penyakit diare dan infeksi. Akibatnya, banyak anggota pasukan yang meninggal dalam perjalanan.
Semisal armada Vasco da Gama yang ketika berangkat beranggotakan 160 orang, tetapi sebanyak 100 orang di antaranya meninggal dunia karena seriawan. (Penyakit ini mulai terpecahkan tahun 1601 oleh armada Inggris ketika Kapten James Lancester yang memimpin konvoi terdiri atas empat kapal menuju India. Ia bereksperimen memberi jeruk untuk pasukan di salah satu kapal. Mereka yang mengonsumsi jeruk sehat walafiat, tetapi pasukan di tiga kapal lainnya yang tidak mengonsumsi jeruk hampir separonya meninggal dunia)
Sejak awal armada Portugis menyadari masalah pangan ini. Akan tetapi, mereka belum bisa menemukan cara agar pasukannya bisa mendapat pasokan makanan yang baik. Bertahun-tahun armada yang dikirim selalu pulang dengan tidak komplet.
Meski belum mendapat cara untuk mengawetkan makanan di kapal, mereka membuat strategi pasokan pangan agar bisa bertahan hidup di berbagai tempat. Setelah bertahun-tahun berpengalaman melayari lautan luas yang jauh dari negerinya, mereka membuat cara agar pasukan Portugis tidak kehabisan pangan. Setidaknya mereka bisa mendapatkan pasokan pangan itu di sejumlah pos perhentian.
Di dalam buku Bunga Angin, Portugis di Nusantara (2008) karya Paramita R Abdurcahman disebutkan adanya keputusan Raja Portugis tertanggal 15 Maret 1518 yang memberikan insentif khusus bagi casado (anggota pasukan Portugis yang menikah dan meninggalkan pengabdiannya dalam pelayaran) untuk tinggal dan bercocok tanam di tanah baru yang ditempatinya.
Sejak awal mereka juga didorong untuk menikah dengan wanita pribumi. Mereka juga didorong untuk menanam komoditas yang bisa diperdagangkan dan juga makanan pokok yang dibutuhkan oleh pasukan. Harapannya, mereka bisa membantu pasukan Portugis yang melakukan pelayaran di berbagai tempat.
Mereka umumnya tidak tinggal jauh dengan benteng atau komunitas Portugis lainnya. Mereka memasok pangan untuk mereka. Dengan cara demikian, bila pasukan Portugis diisolasi oleh musuh, mereka masih memiliki pasokan makanan.
Untuk itu, Portugis sangat mempertimbangkan lokasi-lokasi yang layak untuk tempat tinggal ataupun tempat untuk perhentian. Semisal beberapa tempat di Flores dipilih karena di tempat itu dilaporkan banyak bahan makanan, seperti padi, kacang-kacangan, kambing, dan madu.
Meski demikian, pemilihan ini tak mudah dan kadang pula salah pilih. Salah satu tempat di Flores, yaitu Larantuka, dinilai oleh Portugis mampu menyediakan pangan, tetapi Belanda yang kemudian datang menilai tanah di tempat itu tidak subur.
Untuk memperkaya jenis-jenis pangan di daerah jajahannya, pada masa berikutnya, orang-orang Portugis juga membawa berbagai jenis bibit dan tanaman yang didapat dari sebuah negeri yang berhasil ditaklukkan, baik di Asia maupun di Amerika, untuk ditanam di negeri lainnya yang belum memiliki komoditas itu.
Kedatangan orang Portugis yang dipimpin Antonio Galvao juga membawa sejumlah tanaman, seperti anggur, tomat, avokad, dan ketela, untuk ditanam di Maluku (1536-1539). Sumber pangan ini disebutkan meningkatkan kualitas diet orang Maluku yang sebelumnya dinilai buruk.
Strategi pangan itu setidaknya berhasil menyelamatkan pasukan Portugis di Ambon yang dipimpin oleh Jurdao de Freitas (sekitar tahun 1545). Mereka sempat tidak bisa mendapat pasokan pangan dari luar ketika terjadi perselisihan dengan penduduk setempat. Mereka bisa bertahan hidup karena di sekitar benteng masih ada sumber pangan.
Dari penjelajahan bangsa Portugis, banyak peninggalan kebudayaan Portugis dalam hal pangan dan pertanian yang masih dikenal di berbagai tempat di dunia hingga sekarang. Di Indonesia setidaknya ada peninggalan seperti cara berkebun (menanam bunga di pekarangan), makanan (serikaya, bika, ketela, pastel), cara pengawetan makanan (acar), dan alat-alat rumah tangga seperti garpu.
Sementara itu, kedatangan orang-orang Portugis ke berbagai tempat juga membuat mereka mengenal berbagai sumber pangan yang selama ini tidak dikenal di Portugis. Salah satu yang kemudian terkenal adalah durian. Pasukan Portugis juga mencatat berbagai sumber pangan, cara memasak, dan juga mendiskripsikan rasanya. Berbagai sumber pangan ini, terutama rempah-rempah, memengaruhi kuliner bangsa Portugis yang ada hingga sekarang.
Pengumpulan berbagai komoditas yang ditemukan di berbagai tempat juga dilakukan oleh anggota pasukan yang berada di berbagai tempat.
Kala itu Kerajaan Portugis memang meminta agar berbagai jenis tanaman dan hewan dikumpulkan dan dikirim ke negerinya ketika pasukan kembali ke Lisabon.
Senin, 18 Agustus 2008
RIWAYAT KULINER
Kompas 9 Juni 2008
BON MAKANAN TERPANJANG ADA DI ACEH
Oleh Andreas Maryoto
Kadang bon makanan dianggap sepele. Bukti pengambilan makanan itu, dan juga menjadi bukti pembayaran, kadang dibuang percuma. Paling banter kalau kita mengajak relasi makanan siang atau malam terkait urusan dinas, bon makanan itu baru dirawat sesuai dengan "harkat dan martabatnya", untuk kemudian diuangkan kembali ke kantor. Padahal, bon makanan menyimpan banyak kisah. Sejak kapan bon makanan digunakan? Tidak ada yang mengetahui secara pasti. Sangat mungkin munculnya bon makanan terkait dengan munculnya restoran. Di salah satu literatur, jika kemunculan restoran dikaitkan dengan munculnya penginapan, kita harus meninjau hingga 18 abad sebelum masehi di tanah Mediterania. Di Indonesia, nama "bon" berasal dari bahasa Belanda. Dalam kamus Kramers' Nieuw Engelsch Woordenboek (1917), "bon" berarti tiket untuk pembayaran makanan seperti sup. Arti kedua "bon" dalam kamus itu adalah cek atau voucher untuk pembayaran uang. Sudah pasti bahwa sekarang bon menjadi bukti pembayaran untuk makanan karena maknanya makin luas. Yang penting, bon tetap menjadi bukti pengambilan barang atau pembayaran. Ketika penulis berjalan hingga ke pelosok di berbagai daerah di Sumatera bagian utara, seperti Kepulauan Riau, Sumatera Utara, dan Nanggroe Aceh Darussalam, muncul ide untuk mengumpulkan bon makanan. Adalah keunikan-keunikan yang muncul dalam bon makanan itu yang menjadi alasan penulis mengumpulkan bon makanan dan menganalisis keunikan yang muncul dalam secuil kertas itu. Sebenarnya, bila kita menyepelekan bon makanan, itu tidaklah mengherankan karena kadang kita perlu dan kadang tidak diperlukan. Akan tetapi, kalau pemilik rumah makan menyepelekan, agak aneh! Saking terbiasa menyepelekan bon makanan, mereka kadang tidak siap untuk menyediakan bon makanan, hingga kadang tergagap-gagap bila pembeli memintanya. Penulis pernah mengalami hal ini di Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau. Seusai makan di sebuah rumah makan, penulis minta bon makanan. Mereka kaget. Mereka bingung, hingga penulis harus menunggu sekitar 10 menit hanya untuk mendapatkan bon makanan. Ketika bon didapat, di dalamnya pun hanya tertulis, "1 Piring Nasi + Teh". Sangat sederhana dan tidak lengkap. Rumah makan ini mungkin tak terbiasa dengan permintaan bon makanan. Akan tetapi, ada juga rumah makan yang sengaja menulis makanan yang dibeli dalam bon seenaknya sendiri. Penulis mengalami kejadian ini di Kota Sabang, NAD, dan Berastagi, Sumut. Di bon rumah makan di Kota Sabang itu tertulis "3-makan malam" sedangkan di rumah makan di Berastagi tertulis, "2 org makan + minum". Bon yang digunakan pun bon cetakan kosong yang bisa dibeli kodian di toko alat tulis. Bon kodian ini bukan hanya untuk bon makanan, tetapi untuk transaksi barang apa pun. Kadang menjengkelkan, tetapi kadang bikin geli saja. Untuk menghibur, penulis mengingat pepatah, "Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya". Meski seenaknya, mereka tetap mencantumkan identitas berikut alamat dengan menggunakan stempel rumah makan itu. Meski demikian, banyak rumah makan tradisional yang selalu mencantumkan identitas dengan jelas. Selain alamat dan nomor telepon, gambar rumah adat ada di bagian atas bon makanan, mulai dari rumah adat Batak, rumah adat Minang, hingga rumah adat Aceh. Penggunaan rumah adat itu untuk menegaskan rumah makan itu spesifik menu daerah. Identitas rumah makan itu ada yang detail alias jelimet dengan berbagai ornamen, tetapi ada juga yang simbolis seperti di beberapa rumah makan yang hanya memunculkan ujung rumah gadang yang mirip tanduk kerbau. Meski hanya secuil, gambar tanduk kerbau itu sudah cukup untuk menyatakan itu rumah makan minang. "Kami mencantumkan gambar rumah khas Aceh untuk menegaskan rumah makan kami menyediakan makanan khas Aceh," kata Sela yang mengelola Rumah Makan Khas Aceh Rayeuk I. Rumah makan ini mencantumkan gambar rumah adat secara detail.Unik Isi berbagai bon makanan pun sangat unik. Isi standar dari bon itu adalah tanggal transaksi, alamat tujuan nota diberikan, nomor nota, banyaknya makanan, menu, hingga harga dan jumlah pembayaran. Di samping itu, tidak sedikit tambahan isi dalam nota menjadikan bon makanan itu unik. Beberapa rumah makan di Aceh mencantumkan kata "panjar" atau "pembayaran I" di atas jumlah pembayaran. Tambahan ini kemungkinan untuk makanan yang dipesan atau tidak dimakan di tempat sehingga pembeli harus membayar uang muka terlebih dahulu. Rumah makan tradisional lebih memberi sentuhan pelayanan dan keakraban dengan mencantumkan kalimat seper- ti "Motto Kami 'Kepuasan Anda Kebahagiaan Kami'", "Anda puas beri tahu teman, Anda kurang puas beri tahu kami," dan "Ndang tumagon halak, adong do hita (Kalau ada di tempat kita, mengapa di tempat lain)". Sebaliknya dengan bon di rumah makan modern (Istilah ini kurang tepat. Istilah ini hanya untuk menunjukkan rumah makan yang menyediakan menu populer) lebih banyak memberi kesan urusan jual beli semata dengan mencantumkan kalimat, "Barang yang sudah dibeli tidak dapat dikembalikan!" Paling banter hanya ucapan "terima kasih". Tiap-tiap suku memiliki kekhasan masing-masing dalam pencantuman identitas rumah makan yang tecermin dalam nota. Rumah makan toba biasanya menggunakan gambar rumah adat dan juga kalimat-kalimat khas Toba di dalam nota. Rumah makan yang diusahakan oleh orang beretnis Tionghoa tidak sedikit menggunakan angka untuk nama rumah makan, seperti 8 dan 9. Beberapa restoran Tionghoa juga mencantumkan menu makanan dengan huruf China. "Bon makanan menjadi perwujudan politik identitas. Restoran bukan hanya untuk tempat makan, tetapi juga menjadi arena perpanjangan identitas," kata Ketua Program Studi Antropologi Sosial Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Medan Ichwan Azhari. Ia menambahkan, politik identitas perlu dikukuhkan di tempat-tempat dengan tingkat heterogenitas yang kuat. Politik ini dilakukan ketika berhadapan dengan etnik lain. Bila identitas seperti di dalam bon makanan banyak ditemukan di Sumatera, itu karena kota-kota di Sumatera sangat heterogen.Bervariasi Ukuran bon makanan juga bervariasi. Ada yang sangat pendek, sekitar 10 sentimeter, dan ada yang tergolong sangat panjang. Anehnya, semakin modern menu makanan yang disajikan, makin pendek pula ukuran bon makanan. Bahkan, ada bon rumah makan modern yang hanya mencantumkan nilai makanan tanpa menyebut menu makanan. Mungkin semakin modern berarti semakin efisien. Dari puluhan bon makanan yang terkumpul, ternyata bon makanan terpanjang ditemukan di Aceh, tepatnya di Rumah Makan Khas Aceh Rayeuk I di Jalan Banda Aceh-Medan Km 1 Lueang Bata, Kota Banda Aceh. Panjang bon makanan mencapai 33 sentimeter. "Kami terpaksa membuat bon panjang karena menunya banyak. Hurufnya juga besar-besar agar terlihat," kata Sela menceritakan asal muasal pembuatan nota yang panjang itu. Namun, kalau diukur dari jumlah menu yang disajikan, bon makanan terpanjang ada di Rumah Makan Aceh Spesifik II di Jalan T Hasan Dek No 14, Kota Banda Aceh, dengan menu makanan dan minuman sebanyak 38 buah. Apabila pemilik rumah makan tidak memiliki bon makanan dengan identitas yang komplet, sebenarnya ia sendiri akan rugi. Identitas rumah makan pada bon makanan paling tidak akan mengingatkan orang mengenai nama rumah makan itu. Kedua, orang yang ingin kembali ke rumah makan itu akan mudah mengingat kalau pemilik mencantumkan alamat dan nomor telepon dengan jelas. Orang bisa mengingat kekhasan rumah makan itu jika pemilik mencantumkan menu makan yang disediakan dalam bon makanan. Pelanggan akan mudah teringat dengan menu khas rumah makan jika nama itu tercantum di nota. Suatu saat pembeli lupa, bon itu bisa dibuka, hingga ia akan terkenang dengan menu yang namanya kadang sulit diingat dan aneh. Coba saja, bagaimana Anda bisa mudah mengingat nama-nama menu di rumah makan Aceh, seperti sie reuboh, gule pliek, dan keumamah. Anggapan berikut ini tidak sepenuhnya benar, tetapi tanpa disadari kadang muncul dalam benak, bon makanan dari sebuah rumah makan yang dibuat seadanya akan memberi kesan bahwa menu makanan dan pelayanan di rumah makan itu juga seadanya. Silakan dicek!
BON MAKANAN TERPANJANG ADA DI ACEH
Oleh Andreas Maryoto
Kadang bon makanan dianggap sepele. Bukti pengambilan makanan itu, dan juga menjadi bukti pembayaran, kadang dibuang percuma. Paling banter kalau kita mengajak relasi makanan siang atau malam terkait urusan dinas, bon makanan itu baru dirawat sesuai dengan "harkat dan martabatnya", untuk kemudian diuangkan kembali ke kantor. Padahal, bon makanan menyimpan banyak kisah. Sejak kapan bon makanan digunakan? Tidak ada yang mengetahui secara pasti. Sangat mungkin munculnya bon makanan terkait dengan munculnya restoran. Di salah satu literatur, jika kemunculan restoran dikaitkan dengan munculnya penginapan, kita harus meninjau hingga 18 abad sebelum masehi di tanah Mediterania. Di Indonesia, nama "bon" berasal dari bahasa Belanda. Dalam kamus Kramers' Nieuw Engelsch Woordenboek (1917), "bon" berarti tiket untuk pembayaran makanan seperti sup. Arti kedua "bon" dalam kamus itu adalah cek atau voucher untuk pembayaran uang. Sudah pasti bahwa sekarang bon menjadi bukti pembayaran untuk makanan karena maknanya makin luas. Yang penting, bon tetap menjadi bukti pengambilan barang atau pembayaran. Ketika penulis berjalan hingga ke pelosok di berbagai daerah di Sumatera bagian utara, seperti Kepulauan Riau, Sumatera Utara, dan Nanggroe Aceh Darussalam, muncul ide untuk mengumpulkan bon makanan. Adalah keunikan-keunikan yang muncul dalam bon makanan itu yang menjadi alasan penulis mengumpulkan bon makanan dan menganalisis keunikan yang muncul dalam secuil kertas itu. Sebenarnya, bila kita menyepelekan bon makanan, itu tidaklah mengherankan karena kadang kita perlu dan kadang tidak diperlukan. Akan tetapi, kalau pemilik rumah makan menyepelekan, agak aneh! Saking terbiasa menyepelekan bon makanan, mereka kadang tidak siap untuk menyediakan bon makanan, hingga kadang tergagap-gagap bila pembeli memintanya. Penulis pernah mengalami hal ini di Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau. Seusai makan di sebuah rumah makan, penulis minta bon makanan. Mereka kaget. Mereka bingung, hingga penulis harus menunggu sekitar 10 menit hanya untuk mendapatkan bon makanan. Ketika bon didapat, di dalamnya pun hanya tertulis, "1 Piring Nasi + Teh". Sangat sederhana dan tidak lengkap. Rumah makan ini mungkin tak terbiasa dengan permintaan bon makanan. Akan tetapi, ada juga rumah makan yang sengaja menulis makanan yang dibeli dalam bon seenaknya sendiri. Penulis mengalami kejadian ini di Kota Sabang, NAD, dan Berastagi, Sumut. Di bon rumah makan di Kota Sabang itu tertulis "3-makan malam" sedangkan di rumah makan di Berastagi tertulis, "2 org makan + minum". Bon yang digunakan pun bon cetakan kosong yang bisa dibeli kodian di toko alat tulis. Bon kodian ini bukan hanya untuk bon makanan, tetapi untuk transaksi barang apa pun. Kadang menjengkelkan, tetapi kadang bikin geli saja. Untuk menghibur, penulis mengingat pepatah, "Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya". Meski seenaknya, mereka tetap mencantumkan identitas berikut alamat dengan menggunakan stempel rumah makan itu. Meski demikian, banyak rumah makan tradisional yang selalu mencantumkan identitas dengan jelas. Selain alamat dan nomor telepon, gambar rumah adat ada di bagian atas bon makanan, mulai dari rumah adat Batak, rumah adat Minang, hingga rumah adat Aceh. Penggunaan rumah adat itu untuk menegaskan rumah makan itu spesifik menu daerah. Identitas rumah makan itu ada yang detail alias jelimet dengan berbagai ornamen, tetapi ada juga yang simbolis seperti di beberapa rumah makan yang hanya memunculkan ujung rumah gadang yang mirip tanduk kerbau. Meski hanya secuil, gambar tanduk kerbau itu sudah cukup untuk menyatakan itu rumah makan minang. "Kami mencantumkan gambar rumah khas Aceh untuk menegaskan rumah makan kami menyediakan makanan khas Aceh," kata Sela yang mengelola Rumah Makan Khas Aceh Rayeuk I. Rumah makan ini mencantumkan gambar rumah adat secara detail.Unik Isi berbagai bon makanan pun sangat unik. Isi standar dari bon itu adalah tanggal transaksi, alamat tujuan nota diberikan, nomor nota, banyaknya makanan, menu, hingga harga dan jumlah pembayaran. Di samping itu, tidak sedikit tambahan isi dalam nota menjadikan bon makanan itu unik. Beberapa rumah makan di Aceh mencantumkan kata "panjar" atau "pembayaran I" di atas jumlah pembayaran. Tambahan ini kemungkinan untuk makanan yang dipesan atau tidak dimakan di tempat sehingga pembeli harus membayar uang muka terlebih dahulu. Rumah makan tradisional lebih memberi sentuhan pelayanan dan keakraban dengan mencantumkan kalimat seper- ti "Motto Kami 'Kepuasan Anda Kebahagiaan Kami'", "Anda puas beri tahu teman, Anda kurang puas beri tahu kami," dan "Ndang tumagon halak, adong do hita (Kalau ada di tempat kita, mengapa di tempat lain)". Sebaliknya dengan bon di rumah makan modern (Istilah ini kurang tepat. Istilah ini hanya untuk menunjukkan rumah makan yang menyediakan menu populer) lebih banyak memberi kesan urusan jual beli semata dengan mencantumkan kalimat, "Barang yang sudah dibeli tidak dapat dikembalikan!" Paling banter hanya ucapan "terima kasih". Tiap-tiap suku memiliki kekhasan masing-masing dalam pencantuman identitas rumah makan yang tecermin dalam nota. Rumah makan toba biasanya menggunakan gambar rumah adat dan juga kalimat-kalimat khas Toba di dalam nota. Rumah makan yang diusahakan oleh orang beretnis Tionghoa tidak sedikit menggunakan angka untuk nama rumah makan, seperti 8 dan 9. Beberapa restoran Tionghoa juga mencantumkan menu makanan dengan huruf China. "Bon makanan menjadi perwujudan politik identitas. Restoran bukan hanya untuk tempat makan, tetapi juga menjadi arena perpanjangan identitas," kata Ketua Program Studi Antropologi Sosial Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Medan Ichwan Azhari. Ia menambahkan, politik identitas perlu dikukuhkan di tempat-tempat dengan tingkat heterogenitas yang kuat. Politik ini dilakukan ketika berhadapan dengan etnik lain. Bila identitas seperti di dalam bon makanan banyak ditemukan di Sumatera, itu karena kota-kota di Sumatera sangat heterogen.Bervariasi Ukuran bon makanan juga bervariasi. Ada yang sangat pendek, sekitar 10 sentimeter, dan ada yang tergolong sangat panjang. Anehnya, semakin modern menu makanan yang disajikan, makin pendek pula ukuran bon makanan. Bahkan, ada bon rumah makan modern yang hanya mencantumkan nilai makanan tanpa menyebut menu makanan. Mungkin semakin modern berarti semakin efisien. Dari puluhan bon makanan yang terkumpul, ternyata bon makanan terpanjang ditemukan di Aceh, tepatnya di Rumah Makan Khas Aceh Rayeuk I di Jalan Banda Aceh-Medan Km 1 Lueang Bata, Kota Banda Aceh. Panjang bon makanan mencapai 33 sentimeter. "Kami terpaksa membuat bon panjang karena menunya banyak. Hurufnya juga besar-besar agar terlihat," kata Sela menceritakan asal muasal pembuatan nota yang panjang itu. Namun, kalau diukur dari jumlah menu yang disajikan, bon makanan terpanjang ada di Rumah Makan Aceh Spesifik II di Jalan T Hasan Dek No 14, Kota Banda Aceh, dengan menu makanan dan minuman sebanyak 38 buah. Apabila pemilik rumah makan tidak memiliki bon makanan dengan identitas yang komplet, sebenarnya ia sendiri akan rugi. Identitas rumah makan pada bon makanan paling tidak akan mengingatkan orang mengenai nama rumah makan itu. Kedua, orang yang ingin kembali ke rumah makan itu akan mudah mengingat kalau pemilik mencantumkan alamat dan nomor telepon dengan jelas. Orang bisa mengingat kekhasan rumah makan itu jika pemilik mencantumkan menu makan yang disediakan dalam bon makanan. Pelanggan akan mudah teringat dengan menu khas rumah makan jika nama itu tercantum di nota. Suatu saat pembeli lupa, bon itu bisa dibuka, hingga ia akan terkenang dengan menu yang namanya kadang sulit diingat dan aneh. Coba saja, bagaimana Anda bisa mudah mengingat nama-nama menu di rumah makan Aceh, seperti sie reuboh, gule pliek, dan keumamah. Anggapan berikut ini tidak sepenuhnya benar, tetapi tanpa disadari kadang muncul dalam benak, bon makanan dari sebuah rumah makan yang dibuat seadanya akan memberi kesan bahwa menu makanan dan pelayanan di rumah makan itu juga seadanya. Silakan dicek!
Minggu, 17 Agustus 2008
POLITIK PANGAN
Kompas 15 Juli 2008
Kepemimpinan
Soekarno Menghadapi Krisis Pangan
Oleh Andreas Maryoto
Sejarah kepemimpinan di negeri ini bisa memberi banyak inspirasi. Kisah hidup dan juga perjuangan seseorang ketika menghadapi masalah bisa menjadi cermin bagi kita. Di antara rentang waktu hidupnya, pengalaman saat-saat menghadapi krisis mungkin yang paling banyak dicari untuk diambil hikmahnya.
Keputusan-keputusan dan pandangan hidup presiden RI pertama, Soekarno, telah banyak digali. Salah satu yang belum banyak digali adalah pandangan dan keputusan Soekarno ketika menghadapi krisis pangan. Hal ini menjadi aktual ketika dunia (dan juga Indonesia) tengah menghadapi krisis pangan.
Setidaknya ada tiga babak yang bisa dipelajari dari Soekarno ketika menghadapi krisis pangan, mulai dari Soekarno muda hingga diturunkan sebagai presiden pada tahun 1967.
Babak pertama
Babak pertama ketika Soekarno menjadi aktivis politik selepas mahasiswa. Sejumlah tulisannya, yang diterbitkan menjadi buku berjudul Di Bawah Bendera Revolusi, menyiratkan kegelisahannya terhadap rakyat yang kesulitan pangan pada tahun 1932-1933.
Soekarno membaca penderitaan rakyat melalui sejumlah media, seperti Darmokondo, Pertja Selatan, Aksi, Siang Po, Pewarta Deli, dan Sin Po.
Ia juga mengutip beberapa berita surat kabar dan majalah itu dalam beberapa tulisannya. Kutipan-kutipan itu memperlihatkan betapa rakyat menderita karena kekurangan pangan. Ia mengutip Pewarta Deli (7 Desember 1932), ”Di kota sering ada orang jang menjamperi pintu bui, minta dirawat dibui sadja, sebab merasa tidak kuat sengsara. Di bui misih kenjang makan, sedang di luar belum tentu sekali sehari….” Sementara dari Sin Po (27 Maret 1933) ia mengutip, ”Menjuri ajam sebab lapar. Dihukum djuga sembilan bulan.”
Dalam babak ini Soekarno tidak banyak melakukan aksi. Ia lebih banyak memotret penderitaan masyarakat yang sejak awal memang tertancap dalam batinnya. Keprihatinan seperti ini muncul yang di banyak buku diakuinya karena latar belakang keluarganya yang diakui miskin.
Cerita mengenai pertemuannya dengan petani bernama Kang Marhaen di Bandung selatan makin menunjukkan keberpihakannya. Nama Marhaen sendiri akhirnya dipakai oleh Soekarno untuk mencirikan petani Indonesia yang miskin tanpa tanah.
Di samping itu, di antara berbagai diskusi yang dilakukan setiap malam Minggu dalam pengasingan di Bengkulu (1938-1942), Soekarno memunculkan topik persoalan pangan. Salah satu topik yang sempat diperdebatkan adalah, ”Mana jang lebih baik, beras atau djagung, dan mengapa?”
Babak kedua Soekarno menghadapi krisis pangan adalah ketika ia ”bekerja sama” dengan Jepang menghadapi masalah ekonomi. ”Kerja sama” yang acap kali dituduh oleh banyak kalangan sebagai berkolaborasi dan tidak nasionalis itu mengharuskan Soekarno mencari akal di tengah upaya Jepang untuk mengambil beras milik rakyat sebagai logistik perang.
Masalah pertama
Masalah pertama yang muncul tak lama setelah Jepang mendarat adalah pasokan pangan bagi mereka. Ketika itu Soekarno berada di Padang, seperti dalam Bung Karno Penjambung Lidah Rakjat. Pasukan Jepang mengaku menghadapi persoalan beras yang rumit. Jepang meminta bantuan Soekarno sehingga bukan jalan kekerasan yang ditempuh.
Soekarno berpikir, lebih baik menyediakan beras itu dibanding menolaknya. Ia beralasan, bila permintaan itu ditolak, siksa akan menimpa rakyat. Ia kemudian meminta para saudagar beras agar menyediakan beras itu. Dalam waktu singkat, beras bisa didapat dan ia mengatakan, Jepang tidak kelaparan dan rakyat terhindar dari siksa.
Saat itu kesulitan pangan muncul di mana-mana. Jepang berusaha merampas beras milik rakyat. Akibatnya, hanya segelintir orang yang bisa memiliki beras. Setiap kali ada rakyat yang menyimpan beras, Jepang berusaha merampasnya.
Ketika di Jakarta, Soekarno yang telah menjadi Ketua Pusat Tenaga Rakyat (Putera) terdorong untuk meringankan penderitaan rakyat. Mengetahui masalah itu, Soekarno berpikir keras untuk mencari cara meringankan penderitaan rakyat.
”Aku berhasil mengumpulkan sedjumlah besar biji papaja dan membagikannja kepada setiap orang masing-masing dua butir. Buah-buahan jang enak ini kemudian tumbuh di setiap pendjuru pulau,” katanya menyebut salah satu upaya mengurangi penderitaan rakyat.
Melalui radio yang dilengkapi dengan pengeras suara (yang sengaja dibuat Jepang agar rakyat mendengarkan seruan Soekarno) di berbagai desa, Soekarno mengimbau rakyat agar memproduksi pangan selain beras.
”Saudara-saudara kaum wanita, dalam waktu saudara jang terluang, kerdjakanlah seperti jang dikerdjakan oleh Ibu Inggit dan saja sendiri. Tanamlah djagung. Di halaman muka saudara sendiri saudara dapat menanamnya tjukup untuk menambah kebutuhan keluarga saudara,” katanya. Menurut Soekarno, imbauannya ini manjur. ”Dan di setiap halaman bertunaslah buah djagung. Usaha ini ada ketolongannya,” katanya.
Pada masa menjelang akhir kepemimpinan Soekarno, 1960-an, ia juga menghadapi krisis pangan yang berat. Babak ketiga ini memperlihatkan Soekarno gagal menangani krisis pangan yang terjadi pada masa itu.
Dalam buku Bung Karno Penjambung Lidah Rakjat dikisahkan, di antara kesibukan-kesibukannya pada masa itu, Soekarno juga mempelajari angka- angka terakhir produksi beras.
Mengenai masalah pangan yang muncul saat itu, Soekarno beralasan, ”Dalam peperangan melawan kelaparan, produksi beras kami meningkat dua kali lipat, tetapi di samping itu pemerintah harus mengimpor lebih dari sejuta ton beras seharga hampir 1 juta dollar AS setahun. Ini akibat dari meningkatnya jumlah penduduk yang tidak seimbang dengan pertambahan produksi beras.”
Ia juga beralasan, pada zaman Belanda penduduk makan nasi sehari, tetapi setelah penjajahan, penduduk memerlukan makan tiga kali sehari. ”Setiap kemajuan menciptakan lebih banyak persoalan yang memusingkan kepala,” katanya.
Soekarno juga mulai menghadapi para spekulan. Saat itu Soekarno pun tak segan untuk menghadapi mereka. Ia mengatakan, ”Baru-baru ini aku mengeluarkan ancaman hukuman mati terhadap pengacau ekonomi. Seorang pemilik penggilingan padi menaikkan harga beras hingga membubung tinggi dengan melakukan penumpukan sebanyak enam ribu ton. Apabila nanti ternyata bersalah, maka aku, aku sendiri, akan menandatangani hukuman matinya.”
Krisis pangan yang melanda tidak mendorong Soekarno membuat program bantuan. Ia tetap berpendapat, ”menderita adalah memperkuat diri”. Ia menambahkan, ”Aku harus memberi makanan jiwa rakyatku, tidak saja memberi makan perutnya. Kalau aku menggunakan semua uang untuk membeli beras, mungkin aku dapat memerangi kelaparan mereka. Tapi, tidak. Apabila aku memperoleh uang lima dollar AS, aku harus mengeluarkan 2,5 dollar AS untuk tulang punggungnya. Dan mendidik suatu bangsa adalah sangat kompleks.”
Kemerosotan
Menurut Ketua Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial Universitas Negeri Medan Ichwan Azhari, awal dari krisis pangan saat itu adalah involusi atau kemerosotan pertanian yang telah terjadi sejak 1950-an, tetapi tidak ditangani pemerintah. Fragmentasi lahan mulai terjadi hingga produktivitas lahan merosot. Krisis pangan dinilai sebagai akibat dari masalah itu.
Masalah itu memuncak pada tahun 1960-an. Ichwan mengatakan, Soekarno tidak mengambil langkah strategis, tetapi malah terjebak pada berbagai retorika politik untuk mempertahankan kekuasaannya. Akibatnya, energi yang ada bukan untuk mencari cara menyelamatkan tekanan pertanian, tetapi malah membuat retorika politik.
”Retorika tidak mengimpor beras memang memperlihatkan sebuah upaya untuk kemandirian pangan. Semangat tidak mengimpor memang tinggi, tetapi tidak ada upaya untuk menyelamatkan lumbung padi. Dari sisi strategi, relatif tak ada penanganan yang memadai terhadap krisis pangan,” katanya.
Di luar berbagai spekulasi soal penyebab peristiwa G30S tanggal 30 September 1965 hingga kemudian Soekarno diturunkan dari kekuasaannya 1967, masalah pangan (khususnya beras) saat itu memang sangat berat. Inflasi kelompok makanan mencapai 685,36 persen. Harga beras naik 900 persen.
Soekarno terkesan sangat percaya diri dengan kebijakannya di tengah antrean-antrean rakyat yang menanti jatah beras. Soekarno sempat memarahi wartawan ketika ia melihat foto yang memperlihatkan rakyat tengah berebut beras. Soekarno diturunkan di tengah krisis pangan yang berat. (ANDREAS MARYOTO)
Kepemimpinan
Soekarno Menghadapi Krisis Pangan
Oleh Andreas Maryoto
Sejarah kepemimpinan di negeri ini bisa memberi banyak inspirasi. Kisah hidup dan juga perjuangan seseorang ketika menghadapi masalah bisa menjadi cermin bagi kita. Di antara rentang waktu hidupnya, pengalaman saat-saat menghadapi krisis mungkin yang paling banyak dicari untuk diambil hikmahnya.
Keputusan-keputusan dan pandangan hidup presiden RI pertama, Soekarno, telah banyak digali. Salah satu yang belum banyak digali adalah pandangan dan keputusan Soekarno ketika menghadapi krisis pangan. Hal ini menjadi aktual ketika dunia (dan juga Indonesia) tengah menghadapi krisis pangan.
Setidaknya ada tiga babak yang bisa dipelajari dari Soekarno ketika menghadapi krisis pangan, mulai dari Soekarno muda hingga diturunkan sebagai presiden pada tahun 1967.
Babak pertama
Babak pertama ketika Soekarno menjadi aktivis politik selepas mahasiswa. Sejumlah tulisannya, yang diterbitkan menjadi buku berjudul Di Bawah Bendera Revolusi, menyiratkan kegelisahannya terhadap rakyat yang kesulitan pangan pada tahun 1932-1933.
Soekarno membaca penderitaan rakyat melalui sejumlah media, seperti Darmokondo, Pertja Selatan, Aksi, Siang Po, Pewarta Deli, dan Sin Po.
Ia juga mengutip beberapa berita surat kabar dan majalah itu dalam beberapa tulisannya. Kutipan-kutipan itu memperlihatkan betapa rakyat menderita karena kekurangan pangan. Ia mengutip Pewarta Deli (7 Desember 1932), ”Di kota sering ada orang jang menjamperi pintu bui, minta dirawat dibui sadja, sebab merasa tidak kuat sengsara. Di bui misih kenjang makan, sedang di luar belum tentu sekali sehari….” Sementara dari Sin Po (27 Maret 1933) ia mengutip, ”Menjuri ajam sebab lapar. Dihukum djuga sembilan bulan.”
Dalam babak ini Soekarno tidak banyak melakukan aksi. Ia lebih banyak memotret penderitaan masyarakat yang sejak awal memang tertancap dalam batinnya. Keprihatinan seperti ini muncul yang di banyak buku diakuinya karena latar belakang keluarganya yang diakui miskin.
Cerita mengenai pertemuannya dengan petani bernama Kang Marhaen di Bandung selatan makin menunjukkan keberpihakannya. Nama Marhaen sendiri akhirnya dipakai oleh Soekarno untuk mencirikan petani Indonesia yang miskin tanpa tanah.
Di samping itu, di antara berbagai diskusi yang dilakukan setiap malam Minggu dalam pengasingan di Bengkulu (1938-1942), Soekarno memunculkan topik persoalan pangan. Salah satu topik yang sempat diperdebatkan adalah, ”Mana jang lebih baik, beras atau djagung, dan mengapa?”
Babak kedua Soekarno menghadapi krisis pangan adalah ketika ia ”bekerja sama” dengan Jepang menghadapi masalah ekonomi. ”Kerja sama” yang acap kali dituduh oleh banyak kalangan sebagai berkolaborasi dan tidak nasionalis itu mengharuskan Soekarno mencari akal di tengah upaya Jepang untuk mengambil beras milik rakyat sebagai logistik perang.
Masalah pertama
Masalah pertama yang muncul tak lama setelah Jepang mendarat adalah pasokan pangan bagi mereka. Ketika itu Soekarno berada di Padang, seperti dalam Bung Karno Penjambung Lidah Rakjat. Pasukan Jepang mengaku menghadapi persoalan beras yang rumit. Jepang meminta bantuan Soekarno sehingga bukan jalan kekerasan yang ditempuh.
Soekarno berpikir, lebih baik menyediakan beras itu dibanding menolaknya. Ia beralasan, bila permintaan itu ditolak, siksa akan menimpa rakyat. Ia kemudian meminta para saudagar beras agar menyediakan beras itu. Dalam waktu singkat, beras bisa didapat dan ia mengatakan, Jepang tidak kelaparan dan rakyat terhindar dari siksa.
Saat itu kesulitan pangan muncul di mana-mana. Jepang berusaha merampas beras milik rakyat. Akibatnya, hanya segelintir orang yang bisa memiliki beras. Setiap kali ada rakyat yang menyimpan beras, Jepang berusaha merampasnya.
Ketika di Jakarta, Soekarno yang telah menjadi Ketua Pusat Tenaga Rakyat (Putera) terdorong untuk meringankan penderitaan rakyat. Mengetahui masalah itu, Soekarno berpikir keras untuk mencari cara meringankan penderitaan rakyat.
”Aku berhasil mengumpulkan sedjumlah besar biji papaja dan membagikannja kepada setiap orang masing-masing dua butir. Buah-buahan jang enak ini kemudian tumbuh di setiap pendjuru pulau,” katanya menyebut salah satu upaya mengurangi penderitaan rakyat.
Melalui radio yang dilengkapi dengan pengeras suara (yang sengaja dibuat Jepang agar rakyat mendengarkan seruan Soekarno) di berbagai desa, Soekarno mengimbau rakyat agar memproduksi pangan selain beras.
”Saudara-saudara kaum wanita, dalam waktu saudara jang terluang, kerdjakanlah seperti jang dikerdjakan oleh Ibu Inggit dan saja sendiri. Tanamlah djagung. Di halaman muka saudara sendiri saudara dapat menanamnya tjukup untuk menambah kebutuhan keluarga saudara,” katanya. Menurut Soekarno, imbauannya ini manjur. ”Dan di setiap halaman bertunaslah buah djagung. Usaha ini ada ketolongannya,” katanya.
Pada masa menjelang akhir kepemimpinan Soekarno, 1960-an, ia juga menghadapi krisis pangan yang berat. Babak ketiga ini memperlihatkan Soekarno gagal menangani krisis pangan yang terjadi pada masa itu.
Dalam buku Bung Karno Penjambung Lidah Rakjat dikisahkan, di antara kesibukan-kesibukannya pada masa itu, Soekarno juga mempelajari angka- angka terakhir produksi beras.
Mengenai masalah pangan yang muncul saat itu, Soekarno beralasan, ”Dalam peperangan melawan kelaparan, produksi beras kami meningkat dua kali lipat, tetapi di samping itu pemerintah harus mengimpor lebih dari sejuta ton beras seharga hampir 1 juta dollar AS setahun. Ini akibat dari meningkatnya jumlah penduduk yang tidak seimbang dengan pertambahan produksi beras.”
Ia juga beralasan, pada zaman Belanda penduduk makan nasi sehari, tetapi setelah penjajahan, penduduk memerlukan makan tiga kali sehari. ”Setiap kemajuan menciptakan lebih banyak persoalan yang memusingkan kepala,” katanya.
Soekarno juga mulai menghadapi para spekulan. Saat itu Soekarno pun tak segan untuk menghadapi mereka. Ia mengatakan, ”Baru-baru ini aku mengeluarkan ancaman hukuman mati terhadap pengacau ekonomi. Seorang pemilik penggilingan padi menaikkan harga beras hingga membubung tinggi dengan melakukan penumpukan sebanyak enam ribu ton. Apabila nanti ternyata bersalah, maka aku, aku sendiri, akan menandatangani hukuman matinya.”
Krisis pangan yang melanda tidak mendorong Soekarno membuat program bantuan. Ia tetap berpendapat, ”menderita adalah memperkuat diri”. Ia menambahkan, ”Aku harus memberi makanan jiwa rakyatku, tidak saja memberi makan perutnya. Kalau aku menggunakan semua uang untuk membeli beras, mungkin aku dapat memerangi kelaparan mereka. Tapi, tidak. Apabila aku memperoleh uang lima dollar AS, aku harus mengeluarkan 2,5 dollar AS untuk tulang punggungnya. Dan mendidik suatu bangsa adalah sangat kompleks.”
Kemerosotan
Menurut Ketua Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial Universitas Negeri Medan Ichwan Azhari, awal dari krisis pangan saat itu adalah involusi atau kemerosotan pertanian yang telah terjadi sejak 1950-an, tetapi tidak ditangani pemerintah. Fragmentasi lahan mulai terjadi hingga produktivitas lahan merosot. Krisis pangan dinilai sebagai akibat dari masalah itu.
Masalah itu memuncak pada tahun 1960-an. Ichwan mengatakan, Soekarno tidak mengambil langkah strategis, tetapi malah terjebak pada berbagai retorika politik untuk mempertahankan kekuasaannya. Akibatnya, energi yang ada bukan untuk mencari cara menyelamatkan tekanan pertanian, tetapi malah membuat retorika politik.
”Retorika tidak mengimpor beras memang memperlihatkan sebuah upaya untuk kemandirian pangan. Semangat tidak mengimpor memang tinggi, tetapi tidak ada upaya untuk menyelamatkan lumbung padi. Dari sisi strategi, relatif tak ada penanganan yang memadai terhadap krisis pangan,” katanya.
Di luar berbagai spekulasi soal penyebab peristiwa G30S tanggal 30 September 1965 hingga kemudian Soekarno diturunkan dari kekuasaannya 1967, masalah pangan (khususnya beras) saat itu memang sangat berat. Inflasi kelompok makanan mencapai 685,36 persen. Harga beras naik 900 persen.
Soekarno terkesan sangat percaya diri dengan kebijakannya di tengah antrean-antrean rakyat yang menanti jatah beras. Soekarno sempat memarahi wartawan ketika ia melihat foto yang memperlihatkan rakyat tengah berebut beras. Soekarno diturunkan di tengah krisis pangan yang berat. (ANDREAS MARYOTO)
Senin, 16 Juni 2008
POLITIK PANGAN
Kompas 6 Maret 2008
Kepemimpinan
STRATEGI PANGAN ISKANDAR MUDA
Oleh Andreas Maryoto
Pada suatu masa Kesultanan Aceh sangatlah masyhur. Aceh menjadi pelabuhan persilangan yang banyak didatangi pedagang, mulai dari Asia hingga Eropa. Ketika dipimpin Iskandar Muda, Aceh mencapai masa keemasan. Dua strategi yang digunakan untuk mencapainya adalah dengan berusaha agar Aceh selalu unggul dibanding kerajaan tetangga dan menstabilkan pasokan pangan.
Kajian mengenai Kesultanan Aceh dan Iskandar Muda yang dilakukan oleh ahli sejarah asal Perancis, Denys Lombard, dalam disertasi berjudul Le Sultanat d'Atjeh au temps d'Iskandar Muda (1607-1636) yang diterbitkan tahun 1967 (kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berjudul Kerajaan Aceh Zaman Sultan Iskandar Muda 1607-1636) telah membalikkan pikiran-pikiran sebelumnya yang terutama terpengaruh oleh laporan peneliti Belanda, Snouck Hurgronje. Semula kemegahan Aceh dan kehebatan Iskandar Muda tak lebih dari sekadar dongeng.
Setelah muncul disertasi Lombard itu, kajian-kajian mengenai Kesultanan Aceh maupun Iskandar Muda menjadi lebih berwarna. Di samping kajian mengenai sejarah yang tidak akan habis, kajian politik yang dijalankan Iskandar Muda tidak bisa dikesampingkan.
Lumbung yang kuat
Ketua Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial Universitas Negeri Medan Ichwan Azhari mengatakan, Kesultanan Aceh semasa Iskandar Muda memiliki lumbung yang kuat sekali. Mereka menyelesaikan dulu masalah pangan ketika memperkuat kekuasaan. Kesultanan Aceh mempunyai strategi yang sangat bagus dengan memiliki logistik yang kuat sebelum melakukan ekspedisi. Iskandar Muda berhasil merumuskan politik pangan selama masa kepemimpinannya yang sekitar 30 tahun.
Munculnya Aceh terkait dengan menurunnya peran Kerajaan Samudera Pasai. Berdirinya Aceh tidak diketahui pasti, tetapi laporan Tome Pires dalam Suma Oriental (1512-1515) menyebutkan, di samping Pasai telah ada kekuatan baru yang masih muda. Kekuatan baru ini adalah Aceh. Aceh kemudian mendapat manfaat dari perdagangan rempah-rempah. Pergantian kekuasaan terjadi di Aceh. Kadang negeri ini kuat, kadang pula lemah. Bahkan, ada periode gelap seperti disebut oleh Lombard hingga kemudian muncul Iskandar Muda yang kuat saat memimpin Aceh.
Kondisi sebelum Iskandar Muda tergolong memprihatinkan. Ketika ia mulai memimpin, ada hal-hal yang dirasa bisa mengancam kekuasaannya bila tidak dibenahi. Ada orang-orang kaya yang mempunyai hak-hak istimewa. Salah satunya, mereka memiliki lumbung-lumbung pangan. Orang kaya itu memiliki cadangan beras yang dengan mudah digunakan untuk berspekulasi hingga bisa dijual dengan harga setinggi mungkin.
Di kelas lainnya terdapat kelompok orang miskin. Untuk sekadar mendapatkan beras mereka terpaksa harus menjadi budak. Sejak awal, Iskandar Muda mengetahui masalah ini. Ia sadar bahwa bila masalah ini dibiarkan, akan memperlemah kekuasaannya. Kelak, ia berusaha mengurangi peran orang kaya ini. Problem pangan di dalam negeri harus segera diselesaikan. Di sisi lain, kenyataan posisi Aceh yang menjadi tempat persilangan lalu lintas perdagangan dunia mengharuskan mereka tidak hanya memasok beras untuk kebutuhan sendiri, tetapi juga untuk kebutuhan awak kapal asing. Kelemahan dalam pasokan beras akan menjadikan para awak kapal dari berbagai negara lari dan berpindah ke pelabuhan lain yang bisa menjamin pasokan pangan.
Masalah pasokan
Pasokan pangan menjadi masalah utama Kesultanan Aceh. Kita tidak bisa membayangkan Aceh seperti Kerajaan Mataram yang dikepung oleh sawah ataupun kerajaan-kerajaan lain di Pulau Jawa yang memang tidak jauh dari pusat produksi padi sehingga relatif aman. Bahkan, menurut Ichwan, beras dari Jawa diekspor ke Malaka. Sejak awal, Aceh bergantung pada pasokan dari luar Kota Aceh dan hanya sedikit yang diproduksi di sekitarnya.
Meski sebenarnya dari laporan para pelaut yang paham tentang pertanian menyebutkan kondisi tanah dilaporkan subur. Sejumlah tanaman tumbuh, seperti padi-padian dan buah-buahan yang ditemukan setelah kawasan rawa-rawa di pinggir pantai. Pasokan rumput untuk kerbau yang digunakan membajak sawah juga dilaporkan memadai.
Pelaut-pelaut Eropa menyatakan kekecewaannya karena tidak semua lahan ditanami. Penduduk Aceh menyerahkan urusan penanaman kepada para budak. Mereka tidak tertarik untuk bekerja sebagai petani. Lingkungan Aceh yang mungkin dipengaruhi oleh kelompok penduduk yang tidak terbiasa bertani sehingga mereka tidak menanam padi. Kota Aceh merupakan kota dagang bukan merupakan wilayah agraris.
Dalam hal ini, Aceh sangat tergantung pada kemampuan budak-budak yang harus menanam padi dan di sisi lain tergantung pada kiriman padi dari daerah lain sehingga sejak awal dipahami bila kendali terhadap pasokan beras mengendur, maka problem kelaparan akan muncul. Hal ini pernah terjadi tahun 1605 sebelum Iskandar Muda berkuasa, dilaporkan terjadi kemarau besar hingga terjadi kelaparan.
Semasa kepemimpinan Iskandar Muda, situasi ini berhasil dikendalikan. Dari laporan yang ada disebutkan, ia mampu memberi kemungkinan rakyatnya makan hingga kenyang. Peran orang kaya yang mengendalikan pasokan beras dikurangi. Beras didatangkan dari sejumlah tempat, seperti Pidir dan Daya. Ketika jumlah itu belum memadai, beras didatangkan dari Semenanjung Melayu melalui laut. Untuk mendapatkan beras, Aceh juga menukar emas dengan komoditas tersebut ketika bertemu dengan orang Minangkabau yang menghasilkan beras.
Penguasa Aceh selalu memastikan pengadaan pangan Aceh tidak boleh lengah terhadap saingan mereka seperti Pahang, Johor, dan Perak. Untuk itu, di samping politik maritim, Iskandar Muda juga mengembangkan politik pertanian (di dalam salah satu sumber disebut politik daratan) dengan merangsang produksi. Budak dikirim ke pedalaman untuk menanam padi. Pembagian beras kadang dilakukan untuk menjamin ketersediaan pangan meski diawasi ketat.
Menyadari masalah pangan selalu muncul, Iskandar Muda selalu berusaha memperkuat stok pangan. Di tengah kesulitan mendapatkan petani, Iskandar Muda menambah tenaga kerja untuk menanam padi dengan cara menambah penduduk yang didatangkan dari daerah-daerah taklukan.
Ichwan juga mengatakan, daerah-daerah yang ditaklukkan memberi upeti berupa pangan. Meski daerah taklukan itu tunduk dan menyerahkan penduduknya untuk bekerja menanam padi di Aceh, urusan daerah taklukan tidak seluruhnya dikendalikan oleh Aceh. Aceh hanya ingin jaminan pasokan pangan.
Dalam era penaklukan terhadap sejumlah kerajaan di sekitarnya, armada Aceh selalu mempersiapkan diri. Mereka menyiapkan logistik pangan untuk kebutuhan selama tiga bulan. Sayangnya, tidak ada sumber yang merinci mengenai persiapan logistik yang tergolong lama itu.
Iskandar Muda yang kuat (dan tidak sedikit disebut kejam) sejak awal mengetahui bahwa pangan merupakan salah satu pilarnya. Secara disiplin, ia mengendalikan pasokan beras. Ia juga menekan peran-peran spekulan yang tidak hanya merongrong kekuasaannya, tetapi juga menyengsarakan rakyat.
Politik pangan Iskandar Muda menjadi pelajaran bagi penguasa di republik ini yang mudah dipermainkan oleh spekulan beras, spekulan pupuk, dan juga spekulan benih di tengah krisis pangan yang tengah terjadi. Membiarkan permainan para spekulan itu tak lebih membiarkan mereka merongrong kekuasaan.
Bagi Susan George dalam buku Pangan, dari Penindasan sampai ke Ketahanan Pangan, tidak ada kelaparan (krisis pangan) kalau ada keputusan politik yang tepat dari pemerintah. Kewibawaan penguasa ditentukan oleh kemampuan mereka mengambil keputusan politik mengenai pangan.
Kepemimpinan
STRATEGI PANGAN ISKANDAR MUDA
Oleh Andreas Maryoto
Pada suatu masa Kesultanan Aceh sangatlah masyhur. Aceh menjadi pelabuhan persilangan yang banyak didatangi pedagang, mulai dari Asia hingga Eropa. Ketika dipimpin Iskandar Muda, Aceh mencapai masa keemasan. Dua strategi yang digunakan untuk mencapainya adalah dengan berusaha agar Aceh selalu unggul dibanding kerajaan tetangga dan menstabilkan pasokan pangan.
Kajian mengenai Kesultanan Aceh dan Iskandar Muda yang dilakukan oleh ahli sejarah asal Perancis, Denys Lombard, dalam disertasi berjudul Le Sultanat d'Atjeh au temps d'Iskandar Muda (1607-1636) yang diterbitkan tahun 1967 (kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berjudul Kerajaan Aceh Zaman Sultan Iskandar Muda 1607-1636) telah membalikkan pikiran-pikiran sebelumnya yang terutama terpengaruh oleh laporan peneliti Belanda, Snouck Hurgronje. Semula kemegahan Aceh dan kehebatan Iskandar Muda tak lebih dari sekadar dongeng.
Setelah muncul disertasi Lombard itu, kajian-kajian mengenai Kesultanan Aceh maupun Iskandar Muda menjadi lebih berwarna. Di samping kajian mengenai sejarah yang tidak akan habis, kajian politik yang dijalankan Iskandar Muda tidak bisa dikesampingkan.
Lumbung yang kuat
Ketua Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial Universitas Negeri Medan Ichwan Azhari mengatakan, Kesultanan Aceh semasa Iskandar Muda memiliki lumbung yang kuat sekali. Mereka menyelesaikan dulu masalah pangan ketika memperkuat kekuasaan. Kesultanan Aceh mempunyai strategi yang sangat bagus dengan memiliki logistik yang kuat sebelum melakukan ekspedisi. Iskandar Muda berhasil merumuskan politik pangan selama masa kepemimpinannya yang sekitar 30 tahun.
Munculnya Aceh terkait dengan menurunnya peran Kerajaan Samudera Pasai. Berdirinya Aceh tidak diketahui pasti, tetapi laporan Tome Pires dalam Suma Oriental (1512-1515) menyebutkan, di samping Pasai telah ada kekuatan baru yang masih muda. Kekuatan baru ini adalah Aceh. Aceh kemudian mendapat manfaat dari perdagangan rempah-rempah. Pergantian kekuasaan terjadi di Aceh. Kadang negeri ini kuat, kadang pula lemah. Bahkan, ada periode gelap seperti disebut oleh Lombard hingga kemudian muncul Iskandar Muda yang kuat saat memimpin Aceh.
Kondisi sebelum Iskandar Muda tergolong memprihatinkan. Ketika ia mulai memimpin, ada hal-hal yang dirasa bisa mengancam kekuasaannya bila tidak dibenahi. Ada orang-orang kaya yang mempunyai hak-hak istimewa. Salah satunya, mereka memiliki lumbung-lumbung pangan. Orang kaya itu memiliki cadangan beras yang dengan mudah digunakan untuk berspekulasi hingga bisa dijual dengan harga setinggi mungkin.
Di kelas lainnya terdapat kelompok orang miskin. Untuk sekadar mendapatkan beras mereka terpaksa harus menjadi budak. Sejak awal, Iskandar Muda mengetahui masalah ini. Ia sadar bahwa bila masalah ini dibiarkan, akan memperlemah kekuasaannya. Kelak, ia berusaha mengurangi peran orang kaya ini. Problem pangan di dalam negeri harus segera diselesaikan. Di sisi lain, kenyataan posisi Aceh yang menjadi tempat persilangan lalu lintas perdagangan dunia mengharuskan mereka tidak hanya memasok beras untuk kebutuhan sendiri, tetapi juga untuk kebutuhan awak kapal asing. Kelemahan dalam pasokan beras akan menjadikan para awak kapal dari berbagai negara lari dan berpindah ke pelabuhan lain yang bisa menjamin pasokan pangan.
Masalah pasokan
Pasokan pangan menjadi masalah utama Kesultanan Aceh. Kita tidak bisa membayangkan Aceh seperti Kerajaan Mataram yang dikepung oleh sawah ataupun kerajaan-kerajaan lain di Pulau Jawa yang memang tidak jauh dari pusat produksi padi sehingga relatif aman. Bahkan, menurut Ichwan, beras dari Jawa diekspor ke Malaka. Sejak awal, Aceh bergantung pada pasokan dari luar Kota Aceh dan hanya sedikit yang diproduksi di sekitarnya.
Meski sebenarnya dari laporan para pelaut yang paham tentang pertanian menyebutkan kondisi tanah dilaporkan subur. Sejumlah tanaman tumbuh, seperti padi-padian dan buah-buahan yang ditemukan setelah kawasan rawa-rawa di pinggir pantai. Pasokan rumput untuk kerbau yang digunakan membajak sawah juga dilaporkan memadai.
Pelaut-pelaut Eropa menyatakan kekecewaannya karena tidak semua lahan ditanami. Penduduk Aceh menyerahkan urusan penanaman kepada para budak. Mereka tidak tertarik untuk bekerja sebagai petani. Lingkungan Aceh yang mungkin dipengaruhi oleh kelompok penduduk yang tidak terbiasa bertani sehingga mereka tidak menanam padi. Kota Aceh merupakan kota dagang bukan merupakan wilayah agraris.
Dalam hal ini, Aceh sangat tergantung pada kemampuan budak-budak yang harus menanam padi dan di sisi lain tergantung pada kiriman padi dari daerah lain sehingga sejak awal dipahami bila kendali terhadap pasokan beras mengendur, maka problem kelaparan akan muncul. Hal ini pernah terjadi tahun 1605 sebelum Iskandar Muda berkuasa, dilaporkan terjadi kemarau besar hingga terjadi kelaparan.
Semasa kepemimpinan Iskandar Muda, situasi ini berhasil dikendalikan. Dari laporan yang ada disebutkan, ia mampu memberi kemungkinan rakyatnya makan hingga kenyang. Peran orang kaya yang mengendalikan pasokan beras dikurangi. Beras didatangkan dari sejumlah tempat, seperti Pidir dan Daya. Ketika jumlah itu belum memadai, beras didatangkan dari Semenanjung Melayu melalui laut. Untuk mendapatkan beras, Aceh juga menukar emas dengan komoditas tersebut ketika bertemu dengan orang Minangkabau yang menghasilkan beras.
Penguasa Aceh selalu memastikan pengadaan pangan Aceh tidak boleh lengah terhadap saingan mereka seperti Pahang, Johor, dan Perak. Untuk itu, di samping politik maritim, Iskandar Muda juga mengembangkan politik pertanian (di dalam salah satu sumber disebut politik daratan) dengan merangsang produksi. Budak dikirim ke pedalaman untuk menanam padi. Pembagian beras kadang dilakukan untuk menjamin ketersediaan pangan meski diawasi ketat.
Menyadari masalah pangan selalu muncul, Iskandar Muda selalu berusaha memperkuat stok pangan. Di tengah kesulitan mendapatkan petani, Iskandar Muda menambah tenaga kerja untuk menanam padi dengan cara menambah penduduk yang didatangkan dari daerah-daerah taklukan.
Ichwan juga mengatakan, daerah-daerah yang ditaklukkan memberi upeti berupa pangan. Meski daerah taklukan itu tunduk dan menyerahkan penduduknya untuk bekerja menanam padi di Aceh, urusan daerah taklukan tidak seluruhnya dikendalikan oleh Aceh. Aceh hanya ingin jaminan pasokan pangan.
Dalam era penaklukan terhadap sejumlah kerajaan di sekitarnya, armada Aceh selalu mempersiapkan diri. Mereka menyiapkan logistik pangan untuk kebutuhan selama tiga bulan. Sayangnya, tidak ada sumber yang merinci mengenai persiapan logistik yang tergolong lama itu.
Iskandar Muda yang kuat (dan tidak sedikit disebut kejam) sejak awal mengetahui bahwa pangan merupakan salah satu pilarnya. Secara disiplin, ia mengendalikan pasokan beras. Ia juga menekan peran-peran spekulan yang tidak hanya merongrong kekuasaannya, tetapi juga menyengsarakan rakyat.
Politik pangan Iskandar Muda menjadi pelajaran bagi penguasa di republik ini yang mudah dipermainkan oleh spekulan beras, spekulan pupuk, dan juga spekulan benih di tengah krisis pangan yang tengah terjadi. Membiarkan permainan para spekulan itu tak lebih membiarkan mereka merongrong kekuasaan.
Bagi Susan George dalam buku Pangan, dari Penindasan sampai ke Ketahanan Pangan, tidak ada kelaparan (krisis pangan) kalau ada keputusan politik yang tepat dari pemerintah. Kewibawaan penguasa ditentukan oleh kemampuan mereka mengambil keputusan politik mengenai pangan.
Sabtu, 17 Mei 2008
RIWAYAT KULINER
Kompas, 10 September 2007
Perdagangan
EVOLUSI FUNGSI WARUNG
Oleh Andreas Maryoto
Kampung Seni Lerep di lereng Gunung Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, tengah dibangun. Di tempat itu ada bangunan unik berupa warung yang terbuat dari kayu jati selain berbagai jenis bangunan lainnya. Ukurannya sekitar 1 meter x 2 meter dengan tinggi sekitar 2 meter. Warung menjadi unik karena tanpa kita sadari memiliki sejarah panjang terkait dengan jaringan perdagangan di negeri ini.
Pengelola Kampung Seni Lerep, Handoko, mengatakan, bangunan dari kayu jati itudiperkirakan berusia 80 tahun. Setahun lalu, Handoko mendapatkan warung ini di Kampung Karawangwulan di Kota Semarang. Warung yang masih dikonservasi ini berupa warung kelontong yang menjual berbagai jenis barang. Beberapa bagian warung itu bergaya art deco.
Penggunaan kayu jati untuk sebuah warung menunjukkan masa di mana kayu jati masih tergolong murah. Menyebut murah untuk kayu jati tentu bukan untuk kurun waktu 10 atau 20 tahun lalu. Peneng yang ada di bangunan itu sayang sekali sudah tak terlihat angka tahunnya meski lempeng besinya masih ada. Penggunaan peneng untuk warung juga mengindikasikan penerapan pajak pada masa Hindia Belanda.
Trias Yusuf, ahli ilmu naskah dan budaya kuno dari Universitas Diponegoro, mengatakan, berdasarkan pelacakan naskah lama, kata "warung" banyak ditemukan pada masa akhir Kerajaan Majapahit. Kata warung bisa ditemukan di beberapa kitab seperti Negarakertagama dan beberapa babad, salah satunya dalam Babad Tanah Jawi. Kitab Serat Centhini yang ditulis pada tahun 1814 juga menyebut warung sebagai tempat untuk tempat makan.
"Warung tidak ada yang bertembok. Di dalamnya hanya ada lincak kayu. Ada penutup di bagian atasnya. Pada awalnya tempat untuk tukar-menukar palawija yang terletak di pedalaman," katanya.
Keberadaan warung di Pulau Jawa juga bisa dilacak dari kisah orang tua kita. Semisal di Kecamatan Pundong, Kabupaten Gunung Kidul, hingga sekitar tahun 1960-an masih ada penduduk yang bepergian ke luar daerah untuk berdagang dengan menggunakan kuda. Salah seorang penduduk di Pundong masih memelihara kuda. Ia ingin mengenang masa-masa berat ketika mereka harus bepergian dengan hewan itu.
Jarak yang jauh mengharuskan mereka beristirahat di tengah perjalanan. Tempat istirahat itu biasanya di persimpangan jalan. Di situlah terdapat warung yang menjual makanan dan minuman. Tempat istirahat itu biasanya kemudian berkembang menjadi pasar. Hingga saat ini pasar-pasar tradisional di Jawa salah satunya berada di persimpangan jalan.
Kedatangan orang India dan China ke Nusantara menambah jenis tempat untuk berdagang selain warung. Satu catatan dari Edmund Scott yang tinggal di Banten tahun 1603-1604 menyebutkan, di daerah pedalaman orang China tidak hanya membudidayakan lada, tetapi juga membudidayakan padi untuk konsumsi kota. Dari informasi ini terlihat bahwa ada tempat untuk berjualan.
Catatan Belanda pada tahun 1611 telah menyebutkan keberadaan Pecinan mapan yang mengkhususkan dalam perdagangan beras. Akan tetapi, tempat berdagang itu tidak disebutkan. Bila tempat yang dimaksud adalah toko, maka gambarannya adalah sembarang ruangan tempat barang dagangan ditumpuk tanpa aturan atau paling tidak berada di rak di sepanjang dinding. Di tempat itu pula pemilik tidur. Toko langsung menghadap ke ruang umum dan merupakan perpanjangan dari jalan. Penutup toko terbuat sejumlah papan kayu (Lombard, 1990).
Dalam masa berikutnya, gambar-gambar mengenai toko-toko milik orang Tionghoa mudah ditemui. Ciri-ciri pokoknya adalah di bagian depan terdapat teras. Tumpukan barang di bagian depan untuk menarik pembeli. Bila warung itu berjualan beras, maka akan ada kotak kayu yang biasa disebut tong yang diisi dengan beras menggunung. Deskripsi warung seperti ini masih dijumpai hingga sekarang.
Sumber lainnya yang menyebut warung adalah buku The History of Java karya Thomas Stamford Raffles (1811-1816). Ia menyebut warongs yang merupakan tempat untuk membeli makanan dan minuman yang berada di pinggir jalan. Istilah ini muncul dalam konteks, orang Jawa jarang memiliki kebiasaan makan pagi.
Orang Jawa mengenal mangan awan (makan siang) dan mangan wengi (makan malam). Makan pagi biasanya dilakukan di kebun atau sawah. Untuk itu, penduduk di Jawa biasanya membawa minuman dan makanan dari rumah dan baru memakannya ketika di sawah.
Bila mereka tidak sempat membawa, maka mereka akan membeli di jalan. Tempat untuk membeli makanan itu disebut warongs. Sayang sekali Raffles tidak menyebut makanan yang biasa dijual di tempat itu.
Berdasar dari buku itu, kita bisa menduga penggunaan kata warung sudah berubah dari tempat barter palawija menjadi tempat untuk menjual makanan dan minuman. Istilah ini selanjutnya melekat untuk dengan penyebutan warung makan, warung tegal, warung nasi, warung kopi, dan lain-lain yang sampai sekarang masih akrab terdengar di telinga kita.
Penggunaan istilah warung kemudian bercampur baur karena ada istilah lainnya seperti kios, depot, toko, kedai, dan lain-lain. Kios berasal dari bahasa Belanda yang diambil dari bahasa Perancis yaitu kiosk. Bila dicari akarnya, kata ini berasal dari bahasa Arab kiosque. Depot berasal dari bahasa Inggris yang artinya tempat untuk menyimpan. Toko berasal dari bahasa Hokian (China) dan kedai berasal dari bahasa Tamil.
Trias Yusuf mengatakan, warung adalah istilah khas Jawa. Ia yakin dengan hal ini karena beberapa naskah kuno telah menyebut kata itu. Kata warung diduga terkait dengan wawang dan wuwung yang merupakan bagian dari rumah. Kemudian karena konsep bahasa orang Jawa kata itu menjadi warung. Ia menduga kata warung termasuk dalam kosakata Jawa Pertengahan. Sekarang kita tidak mudah membedakan bangunan untuk berdagang. Semisal ada kedai kopi tetapi ada juga warung kopi. Ada toko kelontong ada pula warung kelontong. Meski demikian, sedikit pembedaan bisa dilakukan semisal ada toko obat tetapi tidak ada warung obat. Ada kesan, toko lebih modern dibandingkan dengan warung, toko memiliki etalase sedangkan warung tidak memiliki etalase. Pembedaan ini bisa ditambah lagi, misalnya soal ukuran, posisi pembeli, dan lain-lain. Akan tetapi, pembedaan ini tidak akan memuaskan karena kata-kata itu telah bercampur baur.
Meski demikian, di antara berbagai kata itu kata warung termasuk kata yang banyak dipakai. Bila berikutnya kemudian kita mengenal warung kelontong, kemudian warung telepon, dan belakangan muncul warung internet, maka fungsi warung telah berubah banyak.
Dari hanya untuk tempat barter palawija, tempat menjual makanan (seperti disebut Raffles) menjadi tempat untuk berjualan barang kelontong (berdasarkan kata kelontong, maka warung ini berisi produk dari logam yang kemudian juga berisi produk berbahan baku plastik) hingga warung sebagai tempat berkomunikasi global menggunakan telepon ataupun internet. Keberadaan warung seperti yang dimiliki Kampung Seni Lerep sepertinya tinggal menunggu waktu. Keberadaan minimarket hingga menusuk ke pedesaan menjadi pesaing langsung dari warung-warung yang bertebaran di pinggir jalan hingga di dalam kampung. Warung yang merupakan pertahanan ekonomi rakyat kecil bisa musnah. Bila ini terjadi, warung tinggal kenangan.
Perdagangan
EVOLUSI FUNGSI WARUNG
Oleh Andreas Maryoto
Kampung Seni Lerep di lereng Gunung Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, tengah dibangun. Di tempat itu ada bangunan unik berupa warung yang terbuat dari kayu jati selain berbagai jenis bangunan lainnya. Ukurannya sekitar 1 meter x 2 meter dengan tinggi sekitar 2 meter. Warung menjadi unik karena tanpa kita sadari memiliki sejarah panjang terkait dengan jaringan perdagangan di negeri ini.
Pengelola Kampung Seni Lerep, Handoko, mengatakan, bangunan dari kayu jati itudiperkirakan berusia 80 tahun. Setahun lalu, Handoko mendapatkan warung ini di Kampung Karawangwulan di Kota Semarang. Warung yang masih dikonservasi ini berupa warung kelontong yang menjual berbagai jenis barang. Beberapa bagian warung itu bergaya art deco.
Penggunaan kayu jati untuk sebuah warung menunjukkan masa di mana kayu jati masih tergolong murah. Menyebut murah untuk kayu jati tentu bukan untuk kurun waktu 10 atau 20 tahun lalu. Peneng yang ada di bangunan itu sayang sekali sudah tak terlihat angka tahunnya meski lempeng besinya masih ada. Penggunaan peneng untuk warung juga mengindikasikan penerapan pajak pada masa Hindia Belanda.
Trias Yusuf, ahli ilmu naskah dan budaya kuno dari Universitas Diponegoro, mengatakan, berdasarkan pelacakan naskah lama, kata "warung" banyak ditemukan pada masa akhir Kerajaan Majapahit. Kata warung bisa ditemukan di beberapa kitab seperti Negarakertagama dan beberapa babad, salah satunya dalam Babad Tanah Jawi. Kitab Serat Centhini yang ditulis pada tahun 1814 juga menyebut warung sebagai tempat untuk tempat makan.
"Warung tidak ada yang bertembok. Di dalamnya hanya ada lincak kayu. Ada penutup di bagian atasnya. Pada awalnya tempat untuk tukar-menukar palawija yang terletak di pedalaman," katanya.
Keberadaan warung di Pulau Jawa juga bisa dilacak dari kisah orang tua kita. Semisal di Kecamatan Pundong, Kabupaten Gunung Kidul, hingga sekitar tahun 1960-an masih ada penduduk yang bepergian ke luar daerah untuk berdagang dengan menggunakan kuda. Salah seorang penduduk di Pundong masih memelihara kuda. Ia ingin mengenang masa-masa berat ketika mereka harus bepergian dengan hewan itu.
Jarak yang jauh mengharuskan mereka beristirahat di tengah perjalanan. Tempat istirahat itu biasanya di persimpangan jalan. Di situlah terdapat warung yang menjual makanan dan minuman. Tempat istirahat itu biasanya kemudian berkembang menjadi pasar. Hingga saat ini pasar-pasar tradisional di Jawa salah satunya berada di persimpangan jalan.
Kedatangan orang India dan China ke Nusantara menambah jenis tempat untuk berdagang selain warung. Satu catatan dari Edmund Scott yang tinggal di Banten tahun 1603-1604 menyebutkan, di daerah pedalaman orang China tidak hanya membudidayakan lada, tetapi juga membudidayakan padi untuk konsumsi kota. Dari informasi ini terlihat bahwa ada tempat untuk berjualan.
Catatan Belanda pada tahun 1611 telah menyebutkan keberadaan Pecinan mapan yang mengkhususkan dalam perdagangan beras. Akan tetapi, tempat berdagang itu tidak disebutkan. Bila tempat yang dimaksud adalah toko, maka gambarannya adalah sembarang ruangan tempat barang dagangan ditumpuk tanpa aturan atau paling tidak berada di rak di sepanjang dinding. Di tempat itu pula pemilik tidur. Toko langsung menghadap ke ruang umum dan merupakan perpanjangan dari jalan. Penutup toko terbuat sejumlah papan kayu (Lombard, 1990).
Dalam masa berikutnya, gambar-gambar mengenai toko-toko milik orang Tionghoa mudah ditemui. Ciri-ciri pokoknya adalah di bagian depan terdapat teras. Tumpukan barang di bagian depan untuk menarik pembeli. Bila warung itu berjualan beras, maka akan ada kotak kayu yang biasa disebut tong yang diisi dengan beras menggunung. Deskripsi warung seperti ini masih dijumpai hingga sekarang.
Sumber lainnya yang menyebut warung adalah buku The History of Java karya Thomas Stamford Raffles (1811-1816). Ia menyebut warongs yang merupakan tempat untuk membeli makanan dan minuman yang berada di pinggir jalan. Istilah ini muncul dalam konteks, orang Jawa jarang memiliki kebiasaan makan pagi.
Orang Jawa mengenal mangan awan (makan siang) dan mangan wengi (makan malam). Makan pagi biasanya dilakukan di kebun atau sawah. Untuk itu, penduduk di Jawa biasanya membawa minuman dan makanan dari rumah dan baru memakannya ketika di sawah.
Bila mereka tidak sempat membawa, maka mereka akan membeli di jalan. Tempat untuk membeli makanan itu disebut warongs. Sayang sekali Raffles tidak menyebut makanan yang biasa dijual di tempat itu.
Berdasar dari buku itu, kita bisa menduga penggunaan kata warung sudah berubah dari tempat barter palawija menjadi tempat untuk menjual makanan dan minuman. Istilah ini selanjutnya melekat untuk dengan penyebutan warung makan, warung tegal, warung nasi, warung kopi, dan lain-lain yang sampai sekarang masih akrab terdengar di telinga kita.
Penggunaan istilah warung kemudian bercampur baur karena ada istilah lainnya seperti kios, depot, toko, kedai, dan lain-lain. Kios berasal dari bahasa Belanda yang diambil dari bahasa Perancis yaitu kiosk. Bila dicari akarnya, kata ini berasal dari bahasa Arab kiosque. Depot berasal dari bahasa Inggris yang artinya tempat untuk menyimpan. Toko berasal dari bahasa Hokian (China) dan kedai berasal dari bahasa Tamil.
Trias Yusuf mengatakan, warung adalah istilah khas Jawa. Ia yakin dengan hal ini karena beberapa naskah kuno telah menyebut kata itu. Kata warung diduga terkait dengan wawang dan wuwung yang merupakan bagian dari rumah. Kemudian karena konsep bahasa orang Jawa kata itu menjadi warung. Ia menduga kata warung termasuk dalam kosakata Jawa Pertengahan. Sekarang kita tidak mudah membedakan bangunan untuk berdagang. Semisal ada kedai kopi tetapi ada juga warung kopi. Ada toko kelontong ada pula warung kelontong. Meski demikian, sedikit pembedaan bisa dilakukan semisal ada toko obat tetapi tidak ada warung obat. Ada kesan, toko lebih modern dibandingkan dengan warung, toko memiliki etalase sedangkan warung tidak memiliki etalase. Pembedaan ini bisa ditambah lagi, misalnya soal ukuran, posisi pembeli, dan lain-lain. Akan tetapi, pembedaan ini tidak akan memuaskan karena kata-kata itu telah bercampur baur.
Meski demikian, di antara berbagai kata itu kata warung termasuk kata yang banyak dipakai. Bila berikutnya kemudian kita mengenal warung kelontong, kemudian warung telepon, dan belakangan muncul warung internet, maka fungsi warung telah berubah banyak.
Dari hanya untuk tempat barter palawija, tempat menjual makanan (seperti disebut Raffles) menjadi tempat untuk berjualan barang kelontong (berdasarkan kata kelontong, maka warung ini berisi produk dari logam yang kemudian juga berisi produk berbahan baku plastik) hingga warung sebagai tempat berkomunikasi global menggunakan telepon ataupun internet. Keberadaan warung seperti yang dimiliki Kampung Seni Lerep sepertinya tinggal menunggu waktu. Keberadaan minimarket hingga menusuk ke pedesaan menjadi pesaing langsung dari warung-warung yang bertebaran di pinggir jalan hingga di dalam kampung. Warung yang merupakan pertahanan ekonomi rakyat kecil bisa musnah. Bila ini terjadi, warung tinggal kenangan.
RIWAYAT KULINER
Kompas, 2 Juli 2007
Pangan
SILANG BUDAYA KULINER JAWA
Oleh Andreas Maryoto
Meja makan di Jawa menjadi saksi persilangan budaya. Makanan yang ada di meja merupakan hasil persilangan budaya yang berlangsung mulus hingga mereka yang berada di samping meja makan akan puas seusai mengonsumsi sajian yang tersedia meski mungkin mereka memiliki latar belakang berbeda. Kuliner Jawa menyimpan riwayat pelangi budaya dari berbagai peradaban di dunia.
Kecenderungan intoleransi terhadap kemajemukan yang kini menjadi persoalan bangsa tidak ditemukan di meja makan di Jawa. Ratusan tahun persinggungan berbagai budaya dunia telah menghasilkan makanan-makanan khas di Pulau Jawa yang tanpa disadari telah menjadi simbol kerukunan dalam kemajemukan.
Bila kita pernah ikut kenduri di keluarga-keluarga di Jawa Tengah, kita akan menemukan pertemuan makanan-makanan yang unik. Di dalam wadah terbuat dari bambu yang disebut besek terkumpul berbagai makanan yang tidak semuanya berupa makanan lokal. Penyelenggara kenduri akan mengisi besek dengan nasi, sayur, lauk, buah, dan kadang roti untuk dibawa pulang para tamu.
Capcai
Sayur yang disajikan ada mi dan capcai. Lauk yang disajikan berupa rendang daging, kari daging, atau sate. Roti yang disajikan bervariasi dari roti manis sampai kadang kue isi daging.
Dari yang disajikan ini kita sudah bisa menerka pengaruh berbagai budaya dalam besek itu, mulai dari mi dan capcai, merupakan pengaruh budaya China. Rendang, kari, sate merupakan pengaruh India dan juga Arab, sedangkan roti merupakan pengaruh dari Eropa.
Di samping itu, bila kita berkunjung dalam perayaan pernikahan di Jawa Tengah, kita akan menemukan istilah yang unik, yaitu usdek. Ini tak terkait dengan konsep demokrasi terpimpinnya Presiden Soekarno tahun 1959, tetapi terkait dengan urutan penyajian makanan ketika perayaan itu berlangsung.
Usdek merupakan singkatan dari unjukan (minuman), snack (makanan pembuka, bisa juga sup/sop), daharan (nasi), es krim (penutup), dan kondur (alias saatnya para tetamu pulang). Dari urutan makanan itu terlihat jelas berbagai makanan yang merupakan pengaruh dari berbagai kebudayaan.
Urutan-urutan ini juga menunjukkan adanya pengaruh Eropa. Di Eropa dikenal table manner. Urutan seperti ini banyak ditemukan dalam pesta-pesta orang Eropa meski variasinya sangat berbeda. Orang Jawa tidak memiliki tradisi makan dengan urutan-urutan tertentu. Keberadaan makanan ringan dan es krim jelas menjadi bukti pengaruh Barat.
Persilangan budaya di Tanah Jawa telah menjadi kajian para ahli sejak awal abad ke-19 lalu. Temuan-temuan yang diduga "tidak bersifat lokal" telah membawa para ahli kepada konsep pertemuan budaya. Kedatangan Stamford Raffles ke Pulau Jawa pada 1811 menjadi awal temuan adanya Indianisasi atau "mutasi pertama" kebudayaan di tanah Jawa.
Kajian berikutnya memuat dugaan tentang adanya penduduk awal hingga pengaruh berbagai bangsa masuk ke Jawa. Pengaruh pertama berasal dari India yang diperkirakan mulai terjadi pada abad ke-4. Saat itu ada migrasi besar-besaran dari India menuju tanah Jawa.
Letak Pulau Jawa yang tersentuh oleh lalu lintas perdagangan China dan India menjadikan wilayah ini tersentuh oleh pengaruh China. Pengaruh Arab juga muncul ketika jalur rempah-rempah menuju Eropa masih berpusat di Semenanjung Arab, tepatnya di pintu masuk rempah-rempah, yaitu di Hadramaut (Yaman). Kedatangan bangsa Eropa pada abad ke-16 menjadikan pengaruh budaya Eropa masuk ke Pulau Jawa.
Dari berbagai pulau, Jawa merupakan tempat yang secara intens mendapat pengaruh dari berbagai kedatangan bangsa-bangsa di dunia itu. Beberapa ahli yang berupaya membuat irisan pengaruh-pengaruh budaya itu menunjukkan Pulau Jawa paling banyak mendapat paparan pengaruh kebudayaan itu. Hal ini juga bisa dilihat dari perkembangan agama, baik Hindu, Buddha, Islam, hingga Katolik yang sangat subur di Pulau Jawa.
Adalah Prof Denys Lombard, peneliti asal Perancis yang pada tahun 1990 memunculkan istilah silang budaya dalam buku Le Carrefour Javanais atau yang dikenal Nusa Jawa: Silang Budaya. Ia memperlihatkan berbagai asal-usul pengaruh dari wujud "geologi kebudayaan" di Pulau Jawa yang dipengaruhi berbagai kebudayaan, seperti India, China, Arab, dan Eropa.
Ia mengkaji berbagai aspek seperti kesenian, tradisi, pertanian, arsitektur, agama, dan lain-lain. Lombard secara jelas memperlihatkan kebudayaan di Pulau Jawa tidak lepas dari pengaruh-pengaruh dari luar itu, namun ternyata ia juga menemukan kenyataan "yang lokal" tetap masih ada.
Meski demikian, Denys sendiri kurang banyak mengkaji silang budaya di makanan. Catatan untuk persilangan budaya ataupun kisah asal-usul makanan ini memang agak sulit didapat. Di Indonesia catatan tentang kisah-kisah mengenai munculnya makanan sulit didapat. Kajian tentang hal ini juga masih langka dilakukan oleh kalangan akademisi.
Diskusi
Dalam sebuah diskusi Kelompok Food Insight yang diikuti oleh berbagai kalangan di Semarang, tiga mahasiswa Universitas Katolik Soegijapranata, yaitu Fransesco Limawan, Rosalia Devi, dan Alfonsus Dwianto, membuat penelitian awal tentang asal-usul makanan khas Semarang bernama loenpia (kadang diucapkan lumpia). Meski penelitian ini jauh dari kemungkinan temuan asal-usul loenpia di Semarang, paling tidak temuan mereka memberi gambaran mengenai asal-usul salah satu klan yang sukses mengangkat loenpia sejak puluhan tahun yang lalu.
Kisah loenpia dari klan ini berawal dari Tjoa Thay Yoe yang datang dari China ke Semarang, diperkirakan sebelum tahun 1900. Tjoa adalah seorang pedagang makanan yang ketika berjualan di pasar, ia bertemu dengan pedagang Wasih. Ia kaget ketika melihat kenyataan ada makanan yang hampir mirip yang diperdagangkannya. Namun, ada perbedaannya. Makanan yang dijual Wasih berisi udang dan kentang, sedangkan yang dijual Tjoa berisi daging babi dan rebung.
Mereka kemudian menikah dan melahirkan anak bernama Tjoa Po Nio. Generasi ini yang turun-temurun sukses memproduksi loenpia di Semarang dengan berbagai variasi. Hingga sekarang keturunan mereka telah sampai pada generasi ketiga dan keempat. Beberapa nama produsen loenpia-seperti Loenpia Gang Lombok, Loenpia Jalan Pemuda, Loenpia Mbak Lien, dan Loenpia Jalan Mataram-yang dikenal tidak hanya oleh warga Semarang tetapi juga oleh mereka yang berasal dari luar kota adalah generasi keturunan Tjoa.
Isi loenpia
Persilangan budaya tampak dari isi loenpia. Cara memasak, bentuk, dan nama merupakan ciri hidangan China, sedangkan rasa manis dan orak-arik sebagai isi loenpia merupakan ciri khas hidangan Jawa. Mereka juga tidak lagi menggunakan daging babi sebagai isi, tetapi diganti dengan daging ayam dan udang.
Di banyak tempat persilangan budaya pada makanan juga terjadi. Di Kabupaten Pekalongan kita bisa menemukan gulai kacang hijau. Aneh! Kita biasa menemukan bubur kacang hijau dengan rasa manis, tetapi di tempat itu dibuat gulai. Penduduk keturunan Arab yang berada di tempat itu telah membawa pengaruh penggulaian kacang hijau itu.
Kisah-kisah makanan itu menjadi bukti pertemuan budaya yang tidak saling menghilangkan. Pertemuan budaya saling memperkaya. Keberadaan "yang lokal" masih tetap ada meski berbagai pengaruh budaya dari luar masuk. Mereka yang datang silih berganti menambah berbagai variasi yang makin memperlihatkan betapa indah sebenarnya negeri ini, meski dari secuil makanan sekalipun.
Pangan
SILANG BUDAYA KULINER JAWA
Oleh Andreas Maryoto
Meja makan di Jawa menjadi saksi persilangan budaya. Makanan yang ada di meja merupakan hasil persilangan budaya yang berlangsung mulus hingga mereka yang berada di samping meja makan akan puas seusai mengonsumsi sajian yang tersedia meski mungkin mereka memiliki latar belakang berbeda. Kuliner Jawa menyimpan riwayat pelangi budaya dari berbagai peradaban di dunia.
Kecenderungan intoleransi terhadap kemajemukan yang kini menjadi persoalan bangsa tidak ditemukan di meja makan di Jawa. Ratusan tahun persinggungan berbagai budaya dunia telah menghasilkan makanan-makanan khas di Pulau Jawa yang tanpa disadari telah menjadi simbol kerukunan dalam kemajemukan.
Bila kita pernah ikut kenduri di keluarga-keluarga di Jawa Tengah, kita akan menemukan pertemuan makanan-makanan yang unik. Di dalam wadah terbuat dari bambu yang disebut besek terkumpul berbagai makanan yang tidak semuanya berupa makanan lokal. Penyelenggara kenduri akan mengisi besek dengan nasi, sayur, lauk, buah, dan kadang roti untuk dibawa pulang para tamu.
Capcai
Sayur yang disajikan ada mi dan capcai. Lauk yang disajikan berupa rendang daging, kari daging, atau sate. Roti yang disajikan bervariasi dari roti manis sampai kadang kue isi daging.
Dari yang disajikan ini kita sudah bisa menerka pengaruh berbagai budaya dalam besek itu, mulai dari mi dan capcai, merupakan pengaruh budaya China. Rendang, kari, sate merupakan pengaruh India dan juga Arab, sedangkan roti merupakan pengaruh dari Eropa.
Di samping itu, bila kita berkunjung dalam perayaan pernikahan di Jawa Tengah, kita akan menemukan istilah yang unik, yaitu usdek. Ini tak terkait dengan konsep demokrasi terpimpinnya Presiden Soekarno tahun 1959, tetapi terkait dengan urutan penyajian makanan ketika perayaan itu berlangsung.
Usdek merupakan singkatan dari unjukan (minuman), snack (makanan pembuka, bisa juga sup/sop), daharan (nasi), es krim (penutup), dan kondur (alias saatnya para tetamu pulang). Dari urutan makanan itu terlihat jelas berbagai makanan yang merupakan pengaruh dari berbagai kebudayaan.
Urutan-urutan ini juga menunjukkan adanya pengaruh Eropa. Di Eropa dikenal table manner. Urutan seperti ini banyak ditemukan dalam pesta-pesta orang Eropa meski variasinya sangat berbeda. Orang Jawa tidak memiliki tradisi makan dengan urutan-urutan tertentu. Keberadaan makanan ringan dan es krim jelas menjadi bukti pengaruh Barat.
Persilangan budaya di Tanah Jawa telah menjadi kajian para ahli sejak awal abad ke-19 lalu. Temuan-temuan yang diduga "tidak bersifat lokal" telah membawa para ahli kepada konsep pertemuan budaya. Kedatangan Stamford Raffles ke Pulau Jawa pada 1811 menjadi awal temuan adanya Indianisasi atau "mutasi pertama" kebudayaan di tanah Jawa.
Kajian berikutnya memuat dugaan tentang adanya penduduk awal hingga pengaruh berbagai bangsa masuk ke Jawa. Pengaruh pertama berasal dari India yang diperkirakan mulai terjadi pada abad ke-4. Saat itu ada migrasi besar-besaran dari India menuju tanah Jawa.
Letak Pulau Jawa yang tersentuh oleh lalu lintas perdagangan China dan India menjadikan wilayah ini tersentuh oleh pengaruh China. Pengaruh Arab juga muncul ketika jalur rempah-rempah menuju Eropa masih berpusat di Semenanjung Arab, tepatnya di pintu masuk rempah-rempah, yaitu di Hadramaut (Yaman). Kedatangan bangsa Eropa pada abad ke-16 menjadikan pengaruh budaya Eropa masuk ke Pulau Jawa.
Dari berbagai pulau, Jawa merupakan tempat yang secara intens mendapat pengaruh dari berbagai kedatangan bangsa-bangsa di dunia itu. Beberapa ahli yang berupaya membuat irisan pengaruh-pengaruh budaya itu menunjukkan Pulau Jawa paling banyak mendapat paparan pengaruh kebudayaan itu. Hal ini juga bisa dilihat dari perkembangan agama, baik Hindu, Buddha, Islam, hingga Katolik yang sangat subur di Pulau Jawa.
Adalah Prof Denys Lombard, peneliti asal Perancis yang pada tahun 1990 memunculkan istilah silang budaya dalam buku Le Carrefour Javanais atau yang dikenal Nusa Jawa: Silang Budaya. Ia memperlihatkan berbagai asal-usul pengaruh dari wujud "geologi kebudayaan" di Pulau Jawa yang dipengaruhi berbagai kebudayaan, seperti India, China, Arab, dan Eropa.
Ia mengkaji berbagai aspek seperti kesenian, tradisi, pertanian, arsitektur, agama, dan lain-lain. Lombard secara jelas memperlihatkan kebudayaan di Pulau Jawa tidak lepas dari pengaruh-pengaruh dari luar itu, namun ternyata ia juga menemukan kenyataan "yang lokal" tetap masih ada.
Meski demikian, Denys sendiri kurang banyak mengkaji silang budaya di makanan. Catatan untuk persilangan budaya ataupun kisah asal-usul makanan ini memang agak sulit didapat. Di Indonesia catatan tentang kisah-kisah mengenai munculnya makanan sulit didapat. Kajian tentang hal ini juga masih langka dilakukan oleh kalangan akademisi.
Diskusi
Dalam sebuah diskusi Kelompok Food Insight yang diikuti oleh berbagai kalangan di Semarang, tiga mahasiswa Universitas Katolik Soegijapranata, yaitu Fransesco Limawan, Rosalia Devi, dan Alfonsus Dwianto, membuat penelitian awal tentang asal-usul makanan khas Semarang bernama loenpia (kadang diucapkan lumpia). Meski penelitian ini jauh dari kemungkinan temuan asal-usul loenpia di Semarang, paling tidak temuan mereka memberi gambaran mengenai asal-usul salah satu klan yang sukses mengangkat loenpia sejak puluhan tahun yang lalu.
Kisah loenpia dari klan ini berawal dari Tjoa Thay Yoe yang datang dari China ke Semarang, diperkirakan sebelum tahun 1900. Tjoa adalah seorang pedagang makanan yang ketika berjualan di pasar, ia bertemu dengan pedagang Wasih. Ia kaget ketika melihat kenyataan ada makanan yang hampir mirip yang diperdagangkannya. Namun, ada perbedaannya. Makanan yang dijual Wasih berisi udang dan kentang, sedangkan yang dijual Tjoa berisi daging babi dan rebung.
Mereka kemudian menikah dan melahirkan anak bernama Tjoa Po Nio. Generasi ini yang turun-temurun sukses memproduksi loenpia di Semarang dengan berbagai variasi. Hingga sekarang keturunan mereka telah sampai pada generasi ketiga dan keempat. Beberapa nama produsen loenpia-seperti Loenpia Gang Lombok, Loenpia Jalan Pemuda, Loenpia Mbak Lien, dan Loenpia Jalan Mataram-yang dikenal tidak hanya oleh warga Semarang tetapi juga oleh mereka yang berasal dari luar kota adalah generasi keturunan Tjoa.
Isi loenpia
Persilangan budaya tampak dari isi loenpia. Cara memasak, bentuk, dan nama merupakan ciri hidangan China, sedangkan rasa manis dan orak-arik sebagai isi loenpia merupakan ciri khas hidangan Jawa. Mereka juga tidak lagi menggunakan daging babi sebagai isi, tetapi diganti dengan daging ayam dan udang.
Di banyak tempat persilangan budaya pada makanan juga terjadi. Di Kabupaten Pekalongan kita bisa menemukan gulai kacang hijau. Aneh! Kita biasa menemukan bubur kacang hijau dengan rasa manis, tetapi di tempat itu dibuat gulai. Penduduk keturunan Arab yang berada di tempat itu telah membawa pengaruh penggulaian kacang hijau itu.
Kisah-kisah makanan itu menjadi bukti pertemuan budaya yang tidak saling menghilangkan. Pertemuan budaya saling memperkaya. Keberadaan "yang lokal" masih tetap ada meski berbagai pengaruh budaya dari luar masuk. Mereka yang datang silih berganti menambah berbagai variasi yang makin memperlihatkan betapa indah sebenarnya negeri ini, meski dari secuil makanan sekalipun.
POLITIK PANGAN
Kompas, 6 Spetember 2007
Kekuasaan
POLITIK BERAS KERAJAAN MATARAM
Oleh Andreas Maryoto
Sudah sejak lama beras digunakan sebagai komoditas politik. Catatan yang lengkap soal itu setidaknya diketahui semasa Kerajaan Mataram, abad ke-16 sampai 18. Para raja yang berkuasa menyadari beras merupakan simbol stabilitas ekonomi dan politik. Jika terjadi masalah dengan produksi beras, pasti ada pula masalah dengan kekuasaan. Sebaliknya, kerajaan dan raja akan diagung-agungkan bila masalah beras bisa dikendalikan.
Harta, wanita, dan takhta. Tiga hal itulah yang sangat menonjol bila kita membaca dan mendalami Babad Tanah Jawi. Dari awal hingga akhir teks babad, ketiga hal itu selalu ada. Meski demikian, secara parsial dan terpisah-pisah, kita bisa meneliti berbagai aspek yang ada di Kerajaan Mataram, di luar ketiga masalah itu, seperti politik beras dan politik pangan.
Buku Babad Tanah Jawi yang digunakan untuk membahas politik beras Kerajaan Mataram adalah babad berbahasa Indonesia yang diterbitkan oleh Yayasan Lontar. Buku itu hasil penerjemahan Babad Tanah Jawi yang diterbitkan oleh Balai Pustaka pada tahun 1939. Babad ini disusun oleh Raden Ngabehi Yasadipura. Teks ini bertembang macapat dan beraksara Jawa. Penggunaan teks berbahasa Indonesia bisa memunculkan perdebatan karena transliterasi akan memunculkan "jarak" dengan naskah asli.
Pemilihan babad sebagai sumber kajian juga memunculkan perdebatan karena tidak sedikit mengandung mitos dan dongeng. Meski demikian, sejarawan HJ de Graf berpendapat, yang tertulis di Babad Tanah Jawi dapat dipercaya, khususnya cerita tentang peristiwa tahun 1600 sampai 1800-an.
Sejak awal berdirinya Kerajaan Mataram, beras telah menjadi komoditas politik. Keamanan pasokan beras merupakan salah satu sendi penyokong kekuasaan Ki Ageng Pemanahan, pendiri Kerajaan Mataram. Pada mulanya, Pemanahan mengalah mendapatkan tanah Mataram yang disebutkan masih berwujud hutan ketika mendirikan Mataram dibandingkan dengan daerah lain yang subur. Berkat kepemimpinannya Mataram bisa diubah menjadi kawasan pertanian. Mataram menjadi negeri yang makmur, banyak orang datang, sandang pangan murah dan sawah berlimpah.
Apabila penguasa zaman sekarang menggunakan indikator ekonomi, penguasa zaman dulu menggunakan beras sebagai indikator stabilitas ekonomi dan politik serta pencapaian kemakmuran. Sebaliknya, tanda-tanda keruntuhan sebuah rezim juga selalu terkait dengan morat-maritnya pasokan pangan.
Serbuan pasukan Trunajaya dari Madura mengakibatkan Mataram porak-poranda. Raja Amangkurat I terpaksa mengungsi hingga wafat. Situasi ini ditandai dengan banyak punggawa kekurangan pangan. Ketika itu hujan belum turun sehingga pangan sangat kurang. Negeri Mataram menjadi negeri yang amat menyedihkan.
Persoalan beras juga menjadi persoalan kewibawaan rezim berikutnya. Masa awal Raja Amangkurat II ketika kerajaan berpindah ibu kota ke Kartasura dirundung oleh masalah kewibawaan karena tak mampu menyediakan beras murah.
Dalam Babad Tanah Jawi itu disebutkan sang raja dirundung kesusahan karena banyak prajurit kecil yang sakit demam. Masalah bertambah lagi, harga pangan sangat mahal. Raja memandang harga pangan yang mahal akan mengakibatkan ia dipandang hina oleh rakyatnya. Kalau situasi tidak pulih, kerajaan akan dipandang rendah.
Adik Amangkurat II, yaitu Pangeran Puger, kemudian melakukan langkah yang kurang lebih kalau sekarang seperti memantau pasar dan kondisi masyarakat. Ia kemudian berganti busana, dari busana keraton ke busana rakyat jelata. Ia menyamar sebagai santri. Puger masuk-keluar pasar dan mengemis beras di pasar. Ia juga mendekati pasukan yang diketahui hanya makan gadung dan ubi sebagai pengganti nasi. Puger juga melihat petani yang bersusah payah, tetapi tidak dapat menikmati hasilnya.
Setelah memantau pasar, kemudian ia berdoa. Puger mendapat jalan untuk membuat harga pangan di negerinya kembali murah. Ia berkeliling ke semua pasar untuk menetapkan harga beras yang terbeli oleh masyarakat. Empat puluh hari setelah upaya itu, harga beras kembali murah. Petani tenang hatinya.Negeri Kartasura telah pulih. Sandang pangan kembali murah. Di samping fungsi beras dalam konteks stabilitas politik, ramalan-ramalan munculnya kekuasaan juga selalu terkait dengan beras. Kemunculan Raden Mas Said, yang lalu menjadi Mangkunegara I, disebutkan, bila ia tidak berkuasa, rezeki tanah Jawa akan berkurang. Akibatnya, orang Jawa tidak bisa makan karena tidak ada beras.
Penentuan letak pusat kerajaan juga mempertimbangkan pasokan beras. Saat VOC melalui Mayor JAB van Hohendorff menyarankan keraton dipindah dari Kartasura ke Desa Sala yang kemudian bernama Surakarta Hadiningrat, salah satu perhitungan pemilihan lokasi itu adalah kemudahan pasokan beras. Hohendorff mengatakan, ia memperkirakan, kalau di tempat itu berhasil dibangun negeri, padi dan beras tidak akan mahal lagi. Meskipun sawah di tempat itu tidak menghasilkan, tetapi hasil dari Ponorogo pasti akan mengalir ke tempat itu.
Taktik perang
Beras juga digunakan sebagai bagian dari strategi perang. Jauh sebelum Sultan Agung menyerbu Batavia, penaklukan sejumlah daerah oleh Mataram, seperti sejumlah kadipaten di wilayah timur, selalu memperhitungkan pasokan pangan bagi pasukan yang hendak menyerbu; di samping pengetahuan tentang jalan yang memadai.
Pasukan rahasia selalu diminta mencari daerah yang rata, aman, dan beras murah sebelum mereka melakukan penyerbuan. Perhitungan tempat yang dijadikan penyangga pangan selalu dilakukan. Jepara salah satu contoh yang dijadikan tempat untuk penyangga pangan.
Taktik isolasi pasokan logistik juga dilakukan sebagai bagian untuk menaklukan lawan. Pasukan Mataram mengisolasi musuh dari pasokan pangan sehingga musuh hanya makan seadanya sehingga mereka terserang penyakit. Hal ini dilakukan ketika mengepung pasukan yang berasal dari timur. Pasukan lawan tidak lagi makan nasi, tetapi bonggol pisang, umbi kunci, dan makanan yang tidak layak karena pasokan makanan ditutup. Pasukan timur itu mengalami demoralisasi sehingga malah berkelahi dan saling bunuh.
Cara ini kembali dilakukan ketika penguasa Mataram berkonflik dengan VOC di Kartasura. Untuk melawan VOC yang berada di loji, mereka mengisolasi loji hingga pasukan VOC kekurangan beras. Pasukan mereka lesu. Komandan pasukan VOC kemudian memilih menyerah hingga bisa mendapat pasokan pangan.
Kegagalan diplomasi
Meski demikian, Mataram gagal melihat beras sebagai komoditas untuk diplomasi. VOC bisa memanfaatkan beras untuk diplomasi. Ketika Pakubuwana I hendak menguasai Kartasura, ia bersekutu dengan VOC. Kesalahan diplomasi Pakubuwana I telah terjadi sejak awal ketika VOC meminta imbal jasa atas partisipasinya dalam penyerbuan ke Kartasura.
Permintaan VOC sangat sederhana. Pimpinan VOC menghadap Pakubuwana I dan menyatakan kalau pasukan VOC tidak akan meninggalkannya. Akan tetapi, ia memohon agar diberi beras 1.000 koyam setiap tahun untuk memberi makan prajurit VOC yang menjaga Pakubuwana I. Belum lagi Pakubuwana I menjawab, pimpinan VOC itu menulis surat sebagai tanda kesediaan raja. Raja seperti dipaksa menerima keinginan itu. Tembakan senapan dibunyikan sebagai tanda penghormatanterhadap perjanjian itu. Hal ini tidak disukai para adipati. Mereka sudah menduga sejak awal bahwa pelulusan permintaan itu akan membuat VOC makin kurang ajar.
Kelak memang permintaan VOC semakin menjadi-jadi danpersoalan kecil itu merepotkan di kemudian hari. Di samping permintaan pasokan pangan itu telah merepotkan ternyata permintaan lainnya makin banyak. Kita hanya bisa menduga sejak awal hal itu merupakan taktik VOC.
Pelajaran dari Mataram
Politik beras yang dilakukan Kerajaan Mataram semakin meyakinkan kita betapa beras memang komoditas yang sangat strategis. Setiap penguasa tidak bisa mengabaikan komoditas ini selama makanan pokok kita adalah beras.
Politik harga beras, meski tidak muncul secara eksplisit dalam teks babad, memperlihatkan kepada kita bahwa petani harus diberi hati. Namun, prajurit keraton dan abdi dalem juga tidak bisa dibiarkan mendapat berasdengan harga mahal. Dalam konteks ini, hanya penguasa yang secara disiplin bisa menjamin produksi beras dan menjaga stabilitas harga yang bisa aman berkuasa
Presiden Soeharto sebagai anak petani pada zaman Orde Baru memahami hal ini. Produksi beras dijamin dengan ketersediaan pupuk, benih, dan air. Ia juga disiplin dalam mengendalikan harga sehingga harga menguntungkan petani dan konsumen. Ia juga disiplin memantau harga. Pada masa Orde Baru, kantor kepresidenan selalu mendapat data harga setiap hari.
Apabila Soeharto akhirnya jatuh, pelajaran dari Mataram jelas menunjukkan kewibawaan pemerintah akan hancur begitu harga beras mahal. Penurunan Soeharto terjadi pada saat harga beras melambung tahun 1998.
Pemerintah sekarang cenderung abai dalam disiplin mengelola masalah perberasan. Petani tidak lagi mendapat jaminan harga pupuk, benih, dan pasokan air yang memadai. Pengendalian harga yang menguntungkan petani ataupun konsumen tak mampu dilakukan. Harga beras cenderung liar. Spekulasi mudah terjadi.
Pelajaran dari Mataram adalah: pemerintahan yang kuat terlihat dari kedisiplinannya dalam mengelola komoditas beras.
Kekuasaan
POLITIK BERAS KERAJAAN MATARAM
Oleh Andreas Maryoto
Sudah sejak lama beras digunakan sebagai komoditas politik. Catatan yang lengkap soal itu setidaknya diketahui semasa Kerajaan Mataram, abad ke-16 sampai 18. Para raja yang berkuasa menyadari beras merupakan simbol stabilitas ekonomi dan politik. Jika terjadi masalah dengan produksi beras, pasti ada pula masalah dengan kekuasaan. Sebaliknya, kerajaan dan raja akan diagung-agungkan bila masalah beras bisa dikendalikan.
Harta, wanita, dan takhta. Tiga hal itulah yang sangat menonjol bila kita membaca dan mendalami Babad Tanah Jawi. Dari awal hingga akhir teks babad, ketiga hal itu selalu ada. Meski demikian, secara parsial dan terpisah-pisah, kita bisa meneliti berbagai aspek yang ada di Kerajaan Mataram, di luar ketiga masalah itu, seperti politik beras dan politik pangan.
Buku Babad Tanah Jawi yang digunakan untuk membahas politik beras Kerajaan Mataram adalah babad berbahasa Indonesia yang diterbitkan oleh Yayasan Lontar. Buku itu hasil penerjemahan Babad Tanah Jawi yang diterbitkan oleh Balai Pustaka pada tahun 1939. Babad ini disusun oleh Raden Ngabehi Yasadipura. Teks ini bertembang macapat dan beraksara Jawa. Penggunaan teks berbahasa Indonesia bisa memunculkan perdebatan karena transliterasi akan memunculkan "jarak" dengan naskah asli.
Pemilihan babad sebagai sumber kajian juga memunculkan perdebatan karena tidak sedikit mengandung mitos dan dongeng. Meski demikian, sejarawan HJ de Graf berpendapat, yang tertulis di Babad Tanah Jawi dapat dipercaya, khususnya cerita tentang peristiwa tahun 1600 sampai 1800-an.
Sejak awal berdirinya Kerajaan Mataram, beras telah menjadi komoditas politik. Keamanan pasokan beras merupakan salah satu sendi penyokong kekuasaan Ki Ageng Pemanahan, pendiri Kerajaan Mataram. Pada mulanya, Pemanahan mengalah mendapatkan tanah Mataram yang disebutkan masih berwujud hutan ketika mendirikan Mataram dibandingkan dengan daerah lain yang subur. Berkat kepemimpinannya Mataram bisa diubah menjadi kawasan pertanian. Mataram menjadi negeri yang makmur, banyak orang datang, sandang pangan murah dan sawah berlimpah.
Apabila penguasa zaman sekarang menggunakan indikator ekonomi, penguasa zaman dulu menggunakan beras sebagai indikator stabilitas ekonomi dan politik serta pencapaian kemakmuran. Sebaliknya, tanda-tanda keruntuhan sebuah rezim juga selalu terkait dengan morat-maritnya pasokan pangan.
Serbuan pasukan Trunajaya dari Madura mengakibatkan Mataram porak-poranda. Raja Amangkurat I terpaksa mengungsi hingga wafat. Situasi ini ditandai dengan banyak punggawa kekurangan pangan. Ketika itu hujan belum turun sehingga pangan sangat kurang. Negeri Mataram menjadi negeri yang amat menyedihkan.
Persoalan beras juga menjadi persoalan kewibawaan rezim berikutnya. Masa awal Raja Amangkurat II ketika kerajaan berpindah ibu kota ke Kartasura dirundung oleh masalah kewibawaan karena tak mampu menyediakan beras murah.
Dalam Babad Tanah Jawi itu disebutkan sang raja dirundung kesusahan karena banyak prajurit kecil yang sakit demam. Masalah bertambah lagi, harga pangan sangat mahal. Raja memandang harga pangan yang mahal akan mengakibatkan ia dipandang hina oleh rakyatnya. Kalau situasi tidak pulih, kerajaan akan dipandang rendah.
Adik Amangkurat II, yaitu Pangeran Puger, kemudian melakukan langkah yang kurang lebih kalau sekarang seperti memantau pasar dan kondisi masyarakat. Ia kemudian berganti busana, dari busana keraton ke busana rakyat jelata. Ia menyamar sebagai santri. Puger masuk-keluar pasar dan mengemis beras di pasar. Ia juga mendekati pasukan yang diketahui hanya makan gadung dan ubi sebagai pengganti nasi. Puger juga melihat petani yang bersusah payah, tetapi tidak dapat menikmati hasilnya.
Setelah memantau pasar, kemudian ia berdoa. Puger mendapat jalan untuk membuat harga pangan di negerinya kembali murah. Ia berkeliling ke semua pasar untuk menetapkan harga beras yang terbeli oleh masyarakat. Empat puluh hari setelah upaya itu, harga beras kembali murah. Petani tenang hatinya.Negeri Kartasura telah pulih. Sandang pangan kembali murah. Di samping fungsi beras dalam konteks stabilitas politik, ramalan-ramalan munculnya kekuasaan juga selalu terkait dengan beras. Kemunculan Raden Mas Said, yang lalu menjadi Mangkunegara I, disebutkan, bila ia tidak berkuasa, rezeki tanah Jawa akan berkurang. Akibatnya, orang Jawa tidak bisa makan karena tidak ada beras.
Penentuan letak pusat kerajaan juga mempertimbangkan pasokan beras. Saat VOC melalui Mayor JAB van Hohendorff menyarankan keraton dipindah dari Kartasura ke Desa Sala yang kemudian bernama Surakarta Hadiningrat, salah satu perhitungan pemilihan lokasi itu adalah kemudahan pasokan beras. Hohendorff mengatakan, ia memperkirakan, kalau di tempat itu berhasil dibangun negeri, padi dan beras tidak akan mahal lagi. Meskipun sawah di tempat itu tidak menghasilkan, tetapi hasil dari Ponorogo pasti akan mengalir ke tempat itu.
Taktik perang
Beras juga digunakan sebagai bagian dari strategi perang. Jauh sebelum Sultan Agung menyerbu Batavia, penaklukan sejumlah daerah oleh Mataram, seperti sejumlah kadipaten di wilayah timur, selalu memperhitungkan pasokan pangan bagi pasukan yang hendak menyerbu; di samping pengetahuan tentang jalan yang memadai.
Pasukan rahasia selalu diminta mencari daerah yang rata, aman, dan beras murah sebelum mereka melakukan penyerbuan. Perhitungan tempat yang dijadikan penyangga pangan selalu dilakukan. Jepara salah satu contoh yang dijadikan tempat untuk penyangga pangan.
Taktik isolasi pasokan logistik juga dilakukan sebagai bagian untuk menaklukan lawan. Pasukan Mataram mengisolasi musuh dari pasokan pangan sehingga musuh hanya makan seadanya sehingga mereka terserang penyakit. Hal ini dilakukan ketika mengepung pasukan yang berasal dari timur. Pasukan lawan tidak lagi makan nasi, tetapi bonggol pisang, umbi kunci, dan makanan yang tidak layak karena pasokan makanan ditutup. Pasukan timur itu mengalami demoralisasi sehingga malah berkelahi dan saling bunuh.
Cara ini kembali dilakukan ketika penguasa Mataram berkonflik dengan VOC di Kartasura. Untuk melawan VOC yang berada di loji, mereka mengisolasi loji hingga pasukan VOC kekurangan beras. Pasukan mereka lesu. Komandan pasukan VOC kemudian memilih menyerah hingga bisa mendapat pasokan pangan.
Kegagalan diplomasi
Meski demikian, Mataram gagal melihat beras sebagai komoditas untuk diplomasi. VOC bisa memanfaatkan beras untuk diplomasi. Ketika Pakubuwana I hendak menguasai Kartasura, ia bersekutu dengan VOC. Kesalahan diplomasi Pakubuwana I telah terjadi sejak awal ketika VOC meminta imbal jasa atas partisipasinya dalam penyerbuan ke Kartasura.
Permintaan VOC sangat sederhana. Pimpinan VOC menghadap Pakubuwana I dan menyatakan kalau pasukan VOC tidak akan meninggalkannya. Akan tetapi, ia memohon agar diberi beras 1.000 koyam setiap tahun untuk memberi makan prajurit VOC yang menjaga Pakubuwana I. Belum lagi Pakubuwana I menjawab, pimpinan VOC itu menulis surat sebagai tanda kesediaan raja. Raja seperti dipaksa menerima keinginan itu. Tembakan senapan dibunyikan sebagai tanda penghormatanterhadap perjanjian itu. Hal ini tidak disukai para adipati. Mereka sudah menduga sejak awal bahwa pelulusan permintaan itu akan membuat VOC makin kurang ajar.
Kelak memang permintaan VOC semakin menjadi-jadi danpersoalan kecil itu merepotkan di kemudian hari. Di samping permintaan pasokan pangan itu telah merepotkan ternyata permintaan lainnya makin banyak. Kita hanya bisa menduga sejak awal hal itu merupakan taktik VOC.
Pelajaran dari Mataram
Politik beras yang dilakukan Kerajaan Mataram semakin meyakinkan kita betapa beras memang komoditas yang sangat strategis. Setiap penguasa tidak bisa mengabaikan komoditas ini selama makanan pokok kita adalah beras.
Politik harga beras, meski tidak muncul secara eksplisit dalam teks babad, memperlihatkan kepada kita bahwa petani harus diberi hati. Namun, prajurit keraton dan abdi dalem juga tidak bisa dibiarkan mendapat berasdengan harga mahal. Dalam konteks ini, hanya penguasa yang secara disiplin bisa menjamin produksi beras dan menjaga stabilitas harga yang bisa aman berkuasa
Presiden Soeharto sebagai anak petani pada zaman Orde Baru memahami hal ini. Produksi beras dijamin dengan ketersediaan pupuk, benih, dan air. Ia juga disiplin dalam mengendalikan harga sehingga harga menguntungkan petani dan konsumen. Ia juga disiplin memantau harga. Pada masa Orde Baru, kantor kepresidenan selalu mendapat data harga setiap hari.
Apabila Soeharto akhirnya jatuh, pelajaran dari Mataram jelas menunjukkan kewibawaan pemerintah akan hancur begitu harga beras mahal. Penurunan Soeharto terjadi pada saat harga beras melambung tahun 1998.
Pemerintah sekarang cenderung abai dalam disiplin mengelola masalah perberasan. Petani tidak lagi mendapat jaminan harga pupuk, benih, dan pasokan air yang memadai. Pengendalian harga yang menguntungkan petani ataupun konsumen tak mampu dilakukan. Harga beras cenderung liar. Spekulasi mudah terjadi.
Pelajaran dari Mataram adalah: pemerintahan yang kuat terlihat dari kedisiplinannya dalam mengelola komoditas beras.
RIWAYAT KULINER
Kompas, 15 Agustus 2007
Pangan
PERMEN JAHE, KISAH PANJANG KEMBANG GULA
Oleh Andreas Maryoto
Di antara tumpukan makanan ringan di sebuah rumah makan di Parakan, sebuah kota kecamatan di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, terdapat permen jahe. Mereka yang sudah berumur pasti akan terkejut ketika melihat permen yang di labelnya tertulis "Gember Bonbons". Permen bikinan Pasuruan, Jawa Timur, itu ternyata masih ditemukan di pasar sekaligus memiliki sejarah panjang.
Labelnya yang bergambar rimpang jahe dan bagian tepinya ada kotak-kotak kecil biru-putih makin mengingatkan orang pada permen yang masih dikenal luas beberapa tahun yang lalu. Penulisan merek dagang "Paberik Kembang Gula, SINA, Pasuruan" makin memastikan permen ini permen "masa lalu". SINA adalah produsen permen ini, yaitu PT Sindu Amrita.
Permen jahe memang merupakan permen yang tergolong kuno. Berbicara permen ini bukan hanya berbicara puluhan tahun lalu, tetapi ratusan tahun. Setidaknya permen ini sudah tercatat di dalam buku Island of Java karya John Joseph Stockdale, pelancong berkebangsaan Inggris, yang menyebutkan, pada tahun 1778 Belanda mengirim sebanyak 10.000 pon (atau sekitar 5.000 kilogram) produk yang disebut candied ginger dari Batavia ke Eropa. Makanan ini digemari di Eropa karena menyembuhkan kembung atau dalam istilah ilmiah disebut flatulensi.
Keberadaan permen dalam kehidupan masyarakat Indonesia, terutama di Pulau Jawa, sulit untuk ditelusuri asal usulnya. Kita hanya bisa menduga, seperti yang diungkapkan Prof Denys Lombard, yang menyebutkan gaya hidup Belanda mulai diserap oleh penduduk Nusantara sekitar pertengahan abad ke-19 ketika sejumlah priayi diangkat menjadi pejabat dan mulai mengenyam pendidikan Belanda. Permen sangat mungkin bagian dari gaya hidup itu. Kesulitan untuk melacak juga akibat pengelompokan makanan ini menjadi rancu karena banyak variasi produk jenis ini. Di kalangan orang Jawa dikenal berbagai makanan bersumber dari gula, seperti permen, kembang gula, gulali, bonbon, manisan, harum manis, loli, dan ting-ting. Pengelompokan makanan ringan yang manis, berdasar dari kamus, mungkin bisa menolong meski tidak tepat benar. Kelompok makanan ini disebut gula- gula. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia karya Badudu-Zain, kata gula-gula berarti macam-macam penganan atau manisan dari gula. Cakupan dalam kelompok ini sangat luas sekali, seluruh makanan yang bersumber dari gula. Dalam bahasa Inggris istilah yang tepat untuk ini adalah confectionary. Sedangkan dalam bahasa Belanda disebut bonbon.
Kembang gula sendiri dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia itu adalah makanan yang terbuat dari gula. Orang Jawa menyebut makanan manis ini lebih singkat mbanggulo. Penjelasan ini pasti tidak memuaskan karena menjadi rancu dengan gula-gula di atas. Meski demikian, pencarian padanan kosakata ini di dalam bahasa Inggris menemukan istilah yang tepat untuk ini adalah candy, sedangkan dalam bahasa Belanda disebut lollie. Jadi berdasarkan pemadanan itu, maka kembang gula merupakan salah satu jenis dari gula-gula.
Bila di Indonesia dikenal ada nama permen, maka sebenarnya permen adalah salah satu jenis kembang gula yang terasa pedas di lidah. Kata permen sendiri kemungkinan terkait dengan dengan peppermint, permen pedas karena ada kandungan minyak peppermint. Peppermint adalah senyawa aromatik yang berasal dari daun tanaman yang menghasilkan mentol, yaitu Menthas arvensis yang biasanya digunakan untuk memberi rasa pada makanan, pasta gigi, dan obat- obatan. Orang Belanda menyebut makanan ini dengan sebutan peppermunt.
Orang Indonesia, terutama orang Jawa, kemungkinan kesulitan untuk mengatakan peppermint hingga muncul kata permen. Dalam perkembangannya, istilah ini menjadi rancu karena semua makanan ringan yang manis dimasukkan dalam permen, seperti permen jahe, permen coklat, dan permen karet.
Dengan memahami berbagai istilah itu, maka dugaan munculnya kembang gula di Nusantara terkait dengan pendirian pabrik gula. Pabrik gula pertama berada di Batavia, yang sekarang bernama Jakarta pada 1700-an. Pada tahun 1710 tercatat 131 penggilingan tebu di Batavia. Di wilayah bagian selatan Batavia didirikan pabrik gula yang masih jauh dari penggunaan mesin dan uap air panas untuk produksi gula.
Saat itu, pabrik gula digerakkan oleh tenaga kerbau atau manusia. Tenaga ini akan memutar dua silinder. Di tengah silinder itu dimasukkan tebu. Dari pemerasan ini dihasilkan cairan. Cairan ini kemudian dikeringkan dengan dimasak hingga menjadi kental.
Ada tiga kategori gula berdasarkan tingkat keputihannya. Gula kualitas pertama yang paling putih diekspor ke Eropa. Kualitas yang kedua dikirim ke India Barat (yang dimaksud adalah bagian barat India), dan kualitas ketiga atau yang paling coklat dikirim ke Jepang. Di antara produk yang diekspor itulah terdapat permen jahe alias candied ginger.
Kembali ke soal asal usul kembang gula alias permen. Buku kecil dengan tebal 34 halaman milik kolektor asal Semarang, Handoko, berjudul Atoerannnja Membikin Permen (Kembang Goela) karya orang yang bernama Radius yang terbit tahun 1936, bisa sedikit membantu pelacakan soal permen alias kembang gula.
Dari klaim buku tersebut dengan menyebutkan "Boekoe-boekoe dalem bahasa Melajoe jang sanggoep menjokoepi itoe keinginan, toroet taoe kita sampe sekarang belon ada," kita bisa menduga industri kembang gula masih dikuasai kelompok elite yang paham bahasa Belanda. Industri permen belum menjadi industri rumahan. Dengan informasi itu pula, kita menduga teknologi permen dibawa oleh orang Belanda.
Buku kecil ini juga menginformasikan jenis-jenis kembang gula yang ada saat itu, mulai dari bonbon, permen strong pepermunt, grip, permen kenari, permen kopi, permen busa, permen gombal, dan pastiles. Dari buku tersebut juga diketahui, saat itu sudah terjadi kerancuan istilah antara permen dan kembang gula.
Kembali ke permen jahe. Kembang gula ini masih dapat ditemukan di berbagai tempat meski mulai tidak gampang untuk mendapatkannya. Dulupembungkus kembang gula ini berasal dari kertas minyak. Belakangan kemudian menggunakan plastik tetapi masih sederhana. Sekarang kemasannya berupa kemasan plastik cetakan. Permen jahe juga ditemukan dengan pembungkus bagian dalam seperti agar-agar. Kita bisa memakan pembungkus itu yang terasa lembut.
Kembang gula yang lain yang tergolong tua adalah kembang gula asem. Catatan tentang kembang gula ini masih sangat sedikit. Akan tetapi, keberadaan pohon asem sendiri menarik banyak perhatian para pelancong dari Barat ketika berada di Nusantara. Selain John Joseph Stockdale yang mencatat keberadaan pohon asem itu adalah Albert S Bickmore, pengelana asal Amerika Serikat, dalam buku Travels in The East Indian Archipelago (1868).
Bickmore memang tidak menceritakan soal kembang gula asem itu, tetapi ia bercerita tentang banyaknya pohon asem di pinggir jalan yang digunakan untuk peneduh di sepanjang jalan di Surabaya. Sejumlah jalan di banyak kota, bahkan di Jakarta, masih ditemukan keberadaan pohon asem ini.
Pohon asem yang melimpah itu kemungkinan mengilhami orang untuk membikin kembang gula asem. Hingga sekarang kita masih bisa menemui kembang gula asem ini dari yang tradisional, yaitu gula dicampur asem, kita bisa merasakan kekasaran gulanya, hingga yang sudah berupa kembang gula cetakan.
Permen, benda kecil yang ternyata memiliki catatan sejarah. Pengetahuan mengenai permen
bukan hanya mengungkap tentang makanan ringan itu, tetapi juga tentang sebuah gaya hidup.
Pangan
PERMEN JAHE, KISAH PANJANG KEMBANG GULA
Oleh Andreas Maryoto
Di antara tumpukan makanan ringan di sebuah rumah makan di Parakan, sebuah kota kecamatan di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, terdapat permen jahe. Mereka yang sudah berumur pasti akan terkejut ketika melihat permen yang di labelnya tertulis "Gember Bonbons". Permen bikinan Pasuruan, Jawa Timur, itu ternyata masih ditemukan di pasar sekaligus memiliki sejarah panjang.
Labelnya yang bergambar rimpang jahe dan bagian tepinya ada kotak-kotak kecil biru-putih makin mengingatkan orang pada permen yang masih dikenal luas beberapa tahun yang lalu. Penulisan merek dagang "Paberik Kembang Gula, SINA, Pasuruan" makin memastikan permen ini permen "masa lalu". SINA adalah produsen permen ini, yaitu PT Sindu Amrita.
Permen jahe memang merupakan permen yang tergolong kuno. Berbicara permen ini bukan hanya berbicara puluhan tahun lalu, tetapi ratusan tahun. Setidaknya permen ini sudah tercatat di dalam buku Island of Java karya John Joseph Stockdale, pelancong berkebangsaan Inggris, yang menyebutkan, pada tahun 1778 Belanda mengirim sebanyak 10.000 pon (atau sekitar 5.000 kilogram) produk yang disebut candied ginger dari Batavia ke Eropa. Makanan ini digemari di Eropa karena menyembuhkan kembung atau dalam istilah ilmiah disebut flatulensi.
Keberadaan permen dalam kehidupan masyarakat Indonesia, terutama di Pulau Jawa, sulit untuk ditelusuri asal usulnya. Kita hanya bisa menduga, seperti yang diungkapkan Prof Denys Lombard, yang menyebutkan gaya hidup Belanda mulai diserap oleh penduduk Nusantara sekitar pertengahan abad ke-19 ketika sejumlah priayi diangkat menjadi pejabat dan mulai mengenyam pendidikan Belanda. Permen sangat mungkin bagian dari gaya hidup itu. Kesulitan untuk melacak juga akibat pengelompokan makanan ini menjadi rancu karena banyak variasi produk jenis ini. Di kalangan orang Jawa dikenal berbagai makanan bersumber dari gula, seperti permen, kembang gula, gulali, bonbon, manisan, harum manis, loli, dan ting-ting. Pengelompokan makanan ringan yang manis, berdasar dari kamus, mungkin bisa menolong meski tidak tepat benar. Kelompok makanan ini disebut gula- gula. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia karya Badudu-Zain, kata gula-gula berarti macam-macam penganan atau manisan dari gula. Cakupan dalam kelompok ini sangat luas sekali, seluruh makanan yang bersumber dari gula. Dalam bahasa Inggris istilah yang tepat untuk ini adalah confectionary. Sedangkan dalam bahasa Belanda disebut bonbon.
Kembang gula sendiri dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia itu adalah makanan yang terbuat dari gula. Orang Jawa menyebut makanan manis ini lebih singkat mbanggulo. Penjelasan ini pasti tidak memuaskan karena menjadi rancu dengan gula-gula di atas. Meski demikian, pencarian padanan kosakata ini di dalam bahasa Inggris menemukan istilah yang tepat untuk ini adalah candy, sedangkan dalam bahasa Belanda disebut lollie. Jadi berdasarkan pemadanan itu, maka kembang gula merupakan salah satu jenis dari gula-gula.
Bila di Indonesia dikenal ada nama permen, maka sebenarnya permen adalah salah satu jenis kembang gula yang terasa pedas di lidah. Kata permen sendiri kemungkinan terkait dengan dengan peppermint, permen pedas karena ada kandungan minyak peppermint. Peppermint adalah senyawa aromatik yang berasal dari daun tanaman yang menghasilkan mentol, yaitu Menthas arvensis yang biasanya digunakan untuk memberi rasa pada makanan, pasta gigi, dan obat- obatan. Orang Belanda menyebut makanan ini dengan sebutan peppermunt.
Orang Indonesia, terutama orang Jawa, kemungkinan kesulitan untuk mengatakan peppermint hingga muncul kata permen. Dalam perkembangannya, istilah ini menjadi rancu karena semua makanan ringan yang manis dimasukkan dalam permen, seperti permen jahe, permen coklat, dan permen karet.
Dengan memahami berbagai istilah itu, maka dugaan munculnya kembang gula di Nusantara terkait dengan pendirian pabrik gula. Pabrik gula pertama berada di Batavia, yang sekarang bernama Jakarta pada 1700-an. Pada tahun 1710 tercatat 131 penggilingan tebu di Batavia. Di wilayah bagian selatan Batavia didirikan pabrik gula yang masih jauh dari penggunaan mesin dan uap air panas untuk produksi gula.
Saat itu, pabrik gula digerakkan oleh tenaga kerbau atau manusia. Tenaga ini akan memutar dua silinder. Di tengah silinder itu dimasukkan tebu. Dari pemerasan ini dihasilkan cairan. Cairan ini kemudian dikeringkan dengan dimasak hingga menjadi kental.
Ada tiga kategori gula berdasarkan tingkat keputihannya. Gula kualitas pertama yang paling putih diekspor ke Eropa. Kualitas yang kedua dikirim ke India Barat (yang dimaksud adalah bagian barat India), dan kualitas ketiga atau yang paling coklat dikirim ke Jepang. Di antara produk yang diekspor itulah terdapat permen jahe alias candied ginger.
Kembali ke soal asal usul kembang gula alias permen. Buku kecil dengan tebal 34 halaman milik kolektor asal Semarang, Handoko, berjudul Atoerannnja Membikin Permen (Kembang Goela) karya orang yang bernama Radius yang terbit tahun 1936, bisa sedikit membantu pelacakan soal permen alias kembang gula.
Dari klaim buku tersebut dengan menyebutkan "Boekoe-boekoe dalem bahasa Melajoe jang sanggoep menjokoepi itoe keinginan, toroet taoe kita sampe sekarang belon ada," kita bisa menduga industri kembang gula masih dikuasai kelompok elite yang paham bahasa Belanda. Industri permen belum menjadi industri rumahan. Dengan informasi itu pula, kita menduga teknologi permen dibawa oleh orang Belanda.
Buku kecil ini juga menginformasikan jenis-jenis kembang gula yang ada saat itu, mulai dari bonbon, permen strong pepermunt, grip, permen kenari, permen kopi, permen busa, permen gombal, dan pastiles. Dari buku tersebut juga diketahui, saat itu sudah terjadi kerancuan istilah antara permen dan kembang gula.
Kembali ke permen jahe. Kembang gula ini masih dapat ditemukan di berbagai tempat meski mulai tidak gampang untuk mendapatkannya. Dulupembungkus kembang gula ini berasal dari kertas minyak. Belakangan kemudian menggunakan plastik tetapi masih sederhana. Sekarang kemasannya berupa kemasan plastik cetakan. Permen jahe juga ditemukan dengan pembungkus bagian dalam seperti agar-agar. Kita bisa memakan pembungkus itu yang terasa lembut.
Kembang gula yang lain yang tergolong tua adalah kembang gula asem. Catatan tentang kembang gula ini masih sangat sedikit. Akan tetapi, keberadaan pohon asem sendiri menarik banyak perhatian para pelancong dari Barat ketika berada di Nusantara. Selain John Joseph Stockdale yang mencatat keberadaan pohon asem itu adalah Albert S Bickmore, pengelana asal Amerika Serikat, dalam buku Travels in The East Indian Archipelago (1868).
Bickmore memang tidak menceritakan soal kembang gula asem itu, tetapi ia bercerita tentang banyaknya pohon asem di pinggir jalan yang digunakan untuk peneduh di sepanjang jalan di Surabaya. Sejumlah jalan di banyak kota, bahkan di Jakarta, masih ditemukan keberadaan pohon asem ini.
Pohon asem yang melimpah itu kemungkinan mengilhami orang untuk membikin kembang gula asem. Hingga sekarang kita masih bisa menemui kembang gula asem ini dari yang tradisional, yaitu gula dicampur asem, kita bisa merasakan kekasaran gulanya, hingga yang sudah berupa kembang gula cetakan.
Permen, benda kecil yang ternyata memiliki catatan sejarah. Pengetahuan mengenai permen
bukan hanya mengungkap tentang makanan ringan itu, tetapi juga tentang sebuah gaya hidup.
SEJARAH PERTANIAN
Kompas, 26 Juli 2007
Sejarah
PANORAMA SAWAH DALAM PERSPEKTIF SEJARAH NUSANTARA
Oleh Andreas Maryoto
Siswa-siswa sekolah dasar masih saja diajari oleh gurunya untuk menggambar sawah dilengkapi gunung sebagai latar belakang setiap kali ada pelajaran menggambar. Guru hendak memperlihatkan pesona pedesaan dengan gambaran sawah dan gunung itu. Bertahun-tahun pesona panorama sawah juga memukau wisatawan untuk sekadar menonton hamparan rumpun padi.
Perkembangan dunia seni lukis sudah jauh dan cepat. Aliran-aliran yang ada makin rumit dipahami oleh kaum awam, tetapi di kios-kios seni hingga galeri kita masih bisa menemukan lukisan panorama sawah itu. Salah satunya kios lukisan di Bandara Achmad Yani, Semarang, Jawa Tengah, yang menjual sekitar sepuluh panorama sawah.
Dalam Jambore Seni Rupa Nasional XI yang berlangsung di Pasar Seni Ancol, Agustus-September 2006 lalu juga ada pelukis yang memamerkan panorama sawah. Lukisan seperti ini ternyata masih banyak digemari oleh warga kota.
Kenangan akan suasana pedesaan sangat mungkin menjadi dorongan untuk mengoleksi lukisan itu. Namun agak sulit untuk menjelaskan, mengapa guru sekarang masih saja memberi contoh gambar sawah saat pelajaran menggambar? Sepertinya sudah menjadi kebiasaan, mengawali pelajaran melukis selalu dengan panorama sawah.
Panorama sawah dengan berbagai variasinya sudah muncul sejak lama. Pada relief Candi Borobudur yang berasal dari abad IX Masehi terdapat gambar seorang petani sedang membajak sawah dengan tangan kiri memegang tangkai bajak yang ditarik sepasang kerbau.
Gambaran tentang sawah juga terdapat di dalam sejumlah kakawin semasa Mataram Hindu yang diperkirakan berpusat di Jawa bagian tengah-selatan hingga masa Majapahit di Jawa bagian timur. Meski demikian, gambaran khas pedesaan di Jawa ini jarang sekali muncul karena kakawin lebih merupakan produk sastra keraton. Otomatis gambaran kecemerlangan keraton lebih banyak muncul.
Di dalam buku Kalangwan, PJ Zoetmoelder merinci gambaran keadaan pedesaan seperti yang disebut di dalam sejumlah kakawin. Panorama sawah terlaporkan seperti ketika raja melakukan perjalanan ke luar keraton. Ia melewati jalan yang bertepi sawah. Raja melihat sejumlah orang sedang bekerja di sawah, anak- anak menggembalakan kerbau, dan terlihat lumbung-lumbung padi.
Pada zaman Majapahit, lukisan panorama sawah bisa dilihat di sejumlah relief candi-candi semasa Majapahit seperti yang dipamerkan di Museum Nasional (Juni-Juli). Relief tersebut memperlihatkan panorama sawah pada masa itu. Hamparan sawah dan dangau terlihat di salah satu prasasti. Ada juga tampak pohon kelapa di dekat sawah. Areal sawah dan beberapa pohon kelapa memang masih banyak ditemukan di Pulau Jawa. Keberadaan pohon kelapa dengan sawah menarik untuk dikaji lebih lanjut.
Informasi ketika kerajaan membuka sawah dan memberikan hak kepada rakyat untuk mengelola juga bisa ditemukan di beberapa kitab, misalnya Kitab Negarakertagama karya Mpu Prapanca.
Marcopolo
Informasi tentang panorama sawah kemudian muncul saat masa kedatangan orang-orang Eropa. Informasi umum mengenai Pulau Jawa dari para pengelana Eropa awal mulai dari Marcopolo dan Nicolo Conti hingga para peneliti Belanda, Thomas Stamford Raffles, dan lain-lain. Informasi ini telah memukau berbagai kalangan di Eropa.
Meski pada tahun 1786 telah ada buku panduan wisata bagi pegawai VOC yang mendarat di Batavia, tetapi panorama Pulau Jawa, termasuk di dalamnya panorama sawah itu, mulai dijual sebagai daya tarik wisata bagi kaum kebanyakan ketika situasi keamanan di Hindia Belanda makin membaik dan berbagai perbaikan dilakukan sekitar akhir abad ke-19. Beberapa kalangan di Eropa membuka industri pariwisata dengan menawarkan paket wisata ke Hindia Belanda. Panorama sawah juga menjadi jualan agen wisata di Eropa untuk datang ke Nusantara. Mereka menyebut tanah ini dengan mooie Indie. Salah satu ciri mooie Indie itu adalah panorama sawah. "Undangan" itu ternyata laku terjual. Eksotisme Pulau Jawa sangat laku dijual sehingga jalur kapal Eropa-Jawa meningkat pesat.
Segala puji diberikan kepada Jawa karena eksotismenya itu. Buku-buku lama diterbitkan kembali untuk menggali informasi tentang keelokan Jawa. Buku-buku baru diterbitkan dan dilengkapi dengan berbagai gambar yang membuat orangEropa penasaran untuk datang ke Jawa. Dua buku itu, yaitu Java, the Garden of the East karya ER Scidmore (1897) dan Java Peagant karya HW Ponder (1930), adalah contoh dari buku-buku yang mencantumkan gambar panorama sawah.
Kenangan alam pedesaan dengan ikon sawah tentu saja melekat di kalangan orang Belanda yang lahir di tanah ini. Setidaknya ini terlihat dalam karya Rogier Boon, desainer grafis, kelahiran Meester Cornelis, yang sekarang bernama Jatinegara, tahun 1937, yang sempat pulang ke Belanda dan melakukan perjalanan kembali ke Indonesia pada 1973.
Meski ia seorang desainer grafis, dalam perjalanan tahun 1973 itu ia sempat memotret sawah dan petani yang tengah berjalan membawa cangkul dengan latar belakang gunung. Di samping itu, eksotisme pedesaan juga terdapat dalam karya grafisnya berjudul De Indische Tuin atau Kebun Hindia. Karya Boon ini sempat dipamerkan di Rumah Seni Yaitu, Semarang, awal Juli.
Kenangan tentang panorama sawah terus saja melekat hingga masa-masa berikutnya. Pada tahun 1980-an, di Pulau Jawa kita masih banyak wisatawan asing yang melihat menurut mereka "pemandangan aneh" berupa hamparan tanaman dengan latar belakang gunung itu. Waktu itu biasanya rombongan wisata terpaksa harus menghentikan busnya di pinggir jalan dan turun karena para penumpangnya ini melihat panorama sawah.
Perubahan lingkungan terus terjadi hingga di banyak tempat panorama sawah juga berubah. Rombongan wisatawan yang mengagumi sawah itu sangat jarang dijumpai lagi di Pulau Jawa. Akan tetapi, kita masih bisa melihatnya di Pulau Bali. Areal persawahan dan kegiatan petani masih memukau wisatawan sehingga banyak kalangan menilai bila sawah hilang dari Pulau Bali, maka habislah nilai jual wisata Bali.
Merusak usaha tani
Tidak salah bila keelokan panorama sawah itu sendiri juga digunakan para diplomat saat berunding mengenai perlindungan petani di tengah perdagangan beras internasional. Adalah Jepang yang sejak lima tahun lalu mengawali penilaian budidaya padi tidak hanya dari aspek ekonomi saja, tetapi dari aspek- lainnya seperti aspek perlindungan alam, aspek kultural, dan aspek pariwisata.
Menurut para diplomat itu, liberalisasi perdagangan beras akan merusak usaha tani padi karena petani tidak mendapat insentif harga ketika menanam padi. Bila usaha tani padi rusak,dampak ikutannya adalah aspek pariwisata dalam usaha tani padi akan hancur. Tidak ada lagi orang yang mau menikmati panorama sawah karena lingkungannya sudah rusak. Untuk itu, usaha tani padi harus dilindungi.
Kekhawatiran mereka sangat beralasan. Involusi sosial ekonomi di dalam usaha tani padi sungguh mencemaskan dan memprihatinkan. Pada saat orang luar masih terkagum dengan keindahan sawah, maka pada saat itu pula petani dipastikan sedih ketika menatap areal sawahnya.
Dulu anak petani bisa mengenyam pendidikan tinggi. Beberapa tahun lalu di Universitas Gadjah Mada banyak ditemukan anak petani yang berprestasi hebat di perguruan tinggi itu. Usaha tani padi sekarang tidak mampu lagi membawa anak-anak petani menaiki tangga perguruan tinggi di samping biaya pendidikan memang makin mahal. Ini hanya satu contoh betapa usaha tani padi tidak lagi mampu menopang kebutuhan hidup keluarga petani.
Panorama sawah yang elok itu makin lama makin semu karena sawah di Jawa dengan segala kehidupan sosial ekonominya tengah menimbun banyak masalah. Seperti dikatakan peneliti Prof WF Wertheim, ketimpangan yang semakin besar di Jawa hanya tinggal menunggu "tutupnya meledak".
Wisatawan bisa saja terkagum- kagum oleh panorama sawah, tetapi sebenarnya air mata petani saat itu mengalir. Petani dibiarkan sendiri dilindas oleh kebijakan impor beras, permainan distribusi pupuk, impor benih yang berisiko, dan juga fasilitas irigasi yang terus rusak nyaris tanpa perbaikan.
Sejarah
PANORAMA SAWAH DALAM PERSPEKTIF SEJARAH NUSANTARA
Oleh Andreas Maryoto
Siswa-siswa sekolah dasar masih saja diajari oleh gurunya untuk menggambar sawah dilengkapi gunung sebagai latar belakang setiap kali ada pelajaran menggambar. Guru hendak memperlihatkan pesona pedesaan dengan gambaran sawah dan gunung itu. Bertahun-tahun pesona panorama sawah juga memukau wisatawan untuk sekadar menonton hamparan rumpun padi.
Perkembangan dunia seni lukis sudah jauh dan cepat. Aliran-aliran yang ada makin rumit dipahami oleh kaum awam, tetapi di kios-kios seni hingga galeri kita masih bisa menemukan lukisan panorama sawah itu. Salah satunya kios lukisan di Bandara Achmad Yani, Semarang, Jawa Tengah, yang menjual sekitar sepuluh panorama sawah.
Dalam Jambore Seni Rupa Nasional XI yang berlangsung di Pasar Seni Ancol, Agustus-September 2006 lalu juga ada pelukis yang memamerkan panorama sawah. Lukisan seperti ini ternyata masih banyak digemari oleh warga kota.
Kenangan akan suasana pedesaan sangat mungkin menjadi dorongan untuk mengoleksi lukisan itu. Namun agak sulit untuk menjelaskan, mengapa guru sekarang masih saja memberi contoh gambar sawah saat pelajaran menggambar? Sepertinya sudah menjadi kebiasaan, mengawali pelajaran melukis selalu dengan panorama sawah.
Panorama sawah dengan berbagai variasinya sudah muncul sejak lama. Pada relief Candi Borobudur yang berasal dari abad IX Masehi terdapat gambar seorang petani sedang membajak sawah dengan tangan kiri memegang tangkai bajak yang ditarik sepasang kerbau.
Gambaran tentang sawah juga terdapat di dalam sejumlah kakawin semasa Mataram Hindu yang diperkirakan berpusat di Jawa bagian tengah-selatan hingga masa Majapahit di Jawa bagian timur. Meski demikian, gambaran khas pedesaan di Jawa ini jarang sekali muncul karena kakawin lebih merupakan produk sastra keraton. Otomatis gambaran kecemerlangan keraton lebih banyak muncul.
Di dalam buku Kalangwan, PJ Zoetmoelder merinci gambaran keadaan pedesaan seperti yang disebut di dalam sejumlah kakawin. Panorama sawah terlaporkan seperti ketika raja melakukan perjalanan ke luar keraton. Ia melewati jalan yang bertepi sawah. Raja melihat sejumlah orang sedang bekerja di sawah, anak- anak menggembalakan kerbau, dan terlihat lumbung-lumbung padi.
Pada zaman Majapahit, lukisan panorama sawah bisa dilihat di sejumlah relief candi-candi semasa Majapahit seperti yang dipamerkan di Museum Nasional (Juni-Juli). Relief tersebut memperlihatkan panorama sawah pada masa itu. Hamparan sawah dan dangau terlihat di salah satu prasasti. Ada juga tampak pohon kelapa di dekat sawah. Areal sawah dan beberapa pohon kelapa memang masih banyak ditemukan di Pulau Jawa. Keberadaan pohon kelapa dengan sawah menarik untuk dikaji lebih lanjut.
Informasi ketika kerajaan membuka sawah dan memberikan hak kepada rakyat untuk mengelola juga bisa ditemukan di beberapa kitab, misalnya Kitab Negarakertagama karya Mpu Prapanca.
Marcopolo
Informasi tentang panorama sawah kemudian muncul saat masa kedatangan orang-orang Eropa. Informasi umum mengenai Pulau Jawa dari para pengelana Eropa awal mulai dari Marcopolo dan Nicolo Conti hingga para peneliti Belanda, Thomas Stamford Raffles, dan lain-lain. Informasi ini telah memukau berbagai kalangan di Eropa.
Meski pada tahun 1786 telah ada buku panduan wisata bagi pegawai VOC yang mendarat di Batavia, tetapi panorama Pulau Jawa, termasuk di dalamnya panorama sawah itu, mulai dijual sebagai daya tarik wisata bagi kaum kebanyakan ketika situasi keamanan di Hindia Belanda makin membaik dan berbagai perbaikan dilakukan sekitar akhir abad ke-19. Beberapa kalangan di Eropa membuka industri pariwisata dengan menawarkan paket wisata ke Hindia Belanda. Panorama sawah juga menjadi jualan agen wisata di Eropa untuk datang ke Nusantara. Mereka menyebut tanah ini dengan mooie Indie. Salah satu ciri mooie Indie itu adalah panorama sawah. "Undangan" itu ternyata laku terjual. Eksotisme Pulau Jawa sangat laku dijual sehingga jalur kapal Eropa-Jawa meningkat pesat.
Segala puji diberikan kepada Jawa karena eksotismenya itu. Buku-buku lama diterbitkan kembali untuk menggali informasi tentang keelokan Jawa. Buku-buku baru diterbitkan dan dilengkapi dengan berbagai gambar yang membuat orangEropa penasaran untuk datang ke Jawa. Dua buku itu, yaitu Java, the Garden of the East karya ER Scidmore (1897) dan Java Peagant karya HW Ponder (1930), adalah contoh dari buku-buku yang mencantumkan gambar panorama sawah.
Kenangan alam pedesaan dengan ikon sawah tentu saja melekat di kalangan orang Belanda yang lahir di tanah ini. Setidaknya ini terlihat dalam karya Rogier Boon, desainer grafis, kelahiran Meester Cornelis, yang sekarang bernama Jatinegara, tahun 1937, yang sempat pulang ke Belanda dan melakukan perjalanan kembali ke Indonesia pada 1973.
Meski ia seorang desainer grafis, dalam perjalanan tahun 1973 itu ia sempat memotret sawah dan petani yang tengah berjalan membawa cangkul dengan latar belakang gunung. Di samping itu, eksotisme pedesaan juga terdapat dalam karya grafisnya berjudul De Indische Tuin atau Kebun Hindia. Karya Boon ini sempat dipamerkan di Rumah Seni Yaitu, Semarang, awal Juli.
Kenangan tentang panorama sawah terus saja melekat hingga masa-masa berikutnya. Pada tahun 1980-an, di Pulau Jawa kita masih banyak wisatawan asing yang melihat menurut mereka "pemandangan aneh" berupa hamparan tanaman dengan latar belakang gunung itu. Waktu itu biasanya rombongan wisata terpaksa harus menghentikan busnya di pinggir jalan dan turun karena para penumpangnya ini melihat panorama sawah.
Perubahan lingkungan terus terjadi hingga di banyak tempat panorama sawah juga berubah. Rombongan wisatawan yang mengagumi sawah itu sangat jarang dijumpai lagi di Pulau Jawa. Akan tetapi, kita masih bisa melihatnya di Pulau Bali. Areal persawahan dan kegiatan petani masih memukau wisatawan sehingga banyak kalangan menilai bila sawah hilang dari Pulau Bali, maka habislah nilai jual wisata Bali.
Merusak usaha tani
Tidak salah bila keelokan panorama sawah itu sendiri juga digunakan para diplomat saat berunding mengenai perlindungan petani di tengah perdagangan beras internasional. Adalah Jepang yang sejak lima tahun lalu mengawali penilaian budidaya padi tidak hanya dari aspek ekonomi saja, tetapi dari aspek- lainnya seperti aspek perlindungan alam, aspek kultural, dan aspek pariwisata.
Menurut para diplomat itu, liberalisasi perdagangan beras akan merusak usaha tani padi karena petani tidak mendapat insentif harga ketika menanam padi. Bila usaha tani padi rusak,dampak ikutannya adalah aspek pariwisata dalam usaha tani padi akan hancur. Tidak ada lagi orang yang mau menikmati panorama sawah karena lingkungannya sudah rusak. Untuk itu, usaha tani padi harus dilindungi.
Kekhawatiran mereka sangat beralasan. Involusi sosial ekonomi di dalam usaha tani padi sungguh mencemaskan dan memprihatinkan. Pada saat orang luar masih terkagum dengan keindahan sawah, maka pada saat itu pula petani dipastikan sedih ketika menatap areal sawahnya.
Dulu anak petani bisa mengenyam pendidikan tinggi. Beberapa tahun lalu di Universitas Gadjah Mada banyak ditemukan anak petani yang berprestasi hebat di perguruan tinggi itu. Usaha tani padi sekarang tidak mampu lagi membawa anak-anak petani menaiki tangga perguruan tinggi di samping biaya pendidikan memang makin mahal. Ini hanya satu contoh betapa usaha tani padi tidak lagi mampu menopang kebutuhan hidup keluarga petani.
Panorama sawah yang elok itu makin lama makin semu karena sawah di Jawa dengan segala kehidupan sosial ekonominya tengah menimbun banyak masalah. Seperti dikatakan peneliti Prof WF Wertheim, ketimpangan yang semakin besar di Jawa hanya tinggal menunggu "tutupnya meledak".
Wisatawan bisa saja terkagum- kagum oleh panorama sawah, tetapi sebenarnya air mata petani saat itu mengalir. Petani dibiarkan sendiri dilindas oleh kebijakan impor beras, permainan distribusi pupuk, impor benih yang berisiko, dan juga fasilitas irigasi yang terus rusak nyaris tanpa perbaikan.
Langganan:
Postingan (Atom)