Senin, 18 Agustus 2008

RIWAYAT KULINER

Kompas 9 Juni 2008
BON MAKANAN TERPANJANG ADA DI ACEH
Oleh Andreas Maryoto
Kadang bon makanan dianggap sepele. Bukti pengambilan makanan itu, dan juga menjadi bukti pembayaran, kadang dibuang percuma. Paling banter kalau kita mengajak relasi makanan siang atau malam terkait urusan dinas, bon makanan itu baru dirawat sesuai dengan "harkat dan martabatnya", untuk kemudian diuangkan kembali ke kantor. Padahal, bon makanan menyimpan banyak kisah. Sejak kapan bon makanan digunakan? Tidak ada yang mengetahui secara pasti. Sangat mungkin munculnya bon makanan terkait dengan munculnya restoran. Di salah satu literatur, jika kemunculan restoran dikaitkan dengan munculnya penginapan, kita harus meninjau hingga 18 abad sebelum masehi di tanah Mediterania. Di Indonesia, nama "bon" berasal dari bahasa Belanda. Dalam kamus Kramers' Nieuw Engelsch Woordenboek (1917), "bon" berarti tiket untuk pembayaran makanan seperti sup. Arti kedua "bon" dalam kamus itu adalah cek atau voucher untuk pembayaran uang. Sudah pasti bahwa sekarang bon menjadi bukti pembayaran untuk makanan karena maknanya makin luas. Yang penting, bon tetap menjadi bukti pengambilan barang atau pembayaran. Ketika penulis berjalan hingga ke pelosok di berbagai daerah di Sumatera bagian utara, seperti Kepulauan Riau, Sumatera Utara, dan Nanggroe Aceh Darussalam, muncul ide untuk mengumpulkan bon makanan. Adalah keunikan-keunikan yang muncul dalam bon makanan itu yang menjadi alasan penulis mengumpulkan bon makanan dan menganalisis keunikan yang muncul dalam secuil kertas itu. Sebenarnya, bila kita menyepelekan bon makanan, itu tidaklah mengherankan karena kadang kita perlu dan kadang tidak diperlukan. Akan tetapi, kalau pemilik rumah makan menyepelekan, agak aneh! Saking terbiasa menyepelekan bon makanan, mereka kadang tidak siap untuk menyediakan bon makanan, hingga kadang tergagap-gagap bila pembeli memintanya. Penulis pernah mengalami hal ini di Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau. Seusai makan di sebuah rumah makan, penulis minta bon makanan. Mereka kaget. Mereka bingung, hingga penulis harus menunggu sekitar 10 menit hanya untuk mendapatkan bon makanan. Ketika bon didapat, di dalamnya pun hanya tertulis, "1 Piring Nasi + Teh". Sangat sederhana dan tidak lengkap. Rumah makan ini mungkin tak terbiasa dengan permintaan bon makanan. Akan tetapi, ada juga rumah makan yang sengaja menulis makanan yang dibeli dalam bon seenaknya sendiri. Penulis mengalami kejadian ini di Kota Sabang, NAD, dan Berastagi, Sumut. Di bon rumah makan di Kota Sabang itu tertulis "3-makan malam" sedangkan di rumah makan di Berastagi tertulis, "2 org makan + minum". Bon yang digunakan pun bon cetakan kosong yang bisa dibeli kodian di toko alat tulis. Bon kodian ini bukan hanya untuk bon makanan, tetapi untuk transaksi barang apa pun. Kadang menjengkelkan, tetapi kadang bikin geli saja. Untuk menghibur, penulis mengingat pepatah, "Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya". Meski seenaknya, mereka tetap mencantumkan identitas berikut alamat dengan menggunakan stempel rumah makan itu. Meski demikian, banyak rumah makan tradisional yang selalu mencantumkan identitas dengan jelas. Selain alamat dan nomor telepon, gambar rumah adat ada di bagian atas bon makanan, mulai dari rumah adat Batak, rumah adat Minang, hingga rumah adat Aceh. Penggunaan rumah adat itu untuk menegaskan rumah makan itu spesifik menu daerah. Identitas rumah makan itu ada yang detail alias jelimet dengan berbagai ornamen, tetapi ada juga yang simbolis seperti di beberapa rumah makan yang hanya memunculkan ujung rumah gadang yang mirip tanduk kerbau. Meski hanya secuil, gambar tanduk kerbau itu sudah cukup untuk menyatakan itu rumah makan minang. "Kami mencantumkan gambar rumah khas Aceh untuk menegaskan rumah makan kami menyediakan makanan khas Aceh," kata Sela yang mengelola Rumah Makan Khas Aceh Rayeuk I. Rumah makan ini mencantumkan gambar rumah adat secara detail.Unik Isi berbagai bon makanan pun sangat unik. Isi standar dari bon itu adalah tanggal transaksi, alamat tujuan nota diberikan, nomor nota, banyaknya makanan, menu, hingga harga dan jumlah pembayaran. Di samping itu, tidak sedikit tambahan isi dalam nota menjadikan bon makanan itu unik. Beberapa rumah makan di Aceh mencantumkan kata "panjar" atau "pembayaran I" di atas jumlah pembayaran. Tambahan ini kemungkinan untuk makanan yang dipesan atau tidak dimakan di tempat sehingga pembeli harus membayar uang muka terlebih dahulu. Rumah makan tradisional lebih memberi sentuhan pelayanan dan keakraban dengan mencantumkan kalimat seper- ti "Motto Kami 'Kepuasan Anda Kebahagiaan Kami'", "Anda puas beri tahu teman, Anda kurang puas beri tahu kami," dan "Ndang tumagon halak, adong do hita (Kalau ada di tempat kita, mengapa di tempat lain)". Sebaliknya dengan bon di rumah makan modern (Istilah ini kurang tepat. Istilah ini hanya untuk menunjukkan rumah makan yang menyediakan menu populer) lebih banyak memberi kesan urusan jual beli semata dengan mencantumkan kalimat, "Barang yang sudah dibeli tidak dapat dikembalikan!" Paling banter hanya ucapan "terima kasih". Tiap-tiap suku memiliki kekhasan masing-masing dalam pencantuman identitas rumah makan yang tecermin dalam nota. Rumah makan toba biasanya menggunakan gambar rumah adat dan juga kalimat-kalimat khas Toba di dalam nota. Rumah makan yang diusahakan oleh orang beretnis Tionghoa tidak sedikit menggunakan angka untuk nama rumah makan, seperti 8 dan 9. Beberapa restoran Tionghoa juga mencantumkan menu makanan dengan huruf China. "Bon makanan menjadi perwujudan politik identitas. Restoran bukan hanya untuk tempat makan, tetapi juga menjadi arena perpanjangan identitas," kata Ketua Program Studi Antropologi Sosial Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Medan Ichwan Azhari. Ia menambahkan, politik identitas perlu dikukuhkan di tempat-tempat dengan tingkat heterogenitas yang kuat. Politik ini dilakukan ketika berhadapan dengan etnik lain. Bila identitas seperti di dalam bon makanan banyak ditemukan di Sumatera, itu karena kota-kota di Sumatera sangat heterogen.Bervariasi Ukuran bon makanan juga bervariasi. Ada yang sangat pendek, sekitar 10 sentimeter, dan ada yang tergolong sangat panjang. Anehnya, semakin modern menu makanan yang disajikan, makin pendek pula ukuran bon makanan. Bahkan, ada bon rumah makan modern yang hanya mencantumkan nilai makanan tanpa menyebut menu makanan. Mungkin semakin modern berarti semakin efisien. Dari puluhan bon makanan yang terkumpul, ternyata bon makanan terpanjang ditemukan di Aceh, tepatnya di Rumah Makan Khas Aceh Rayeuk I di Jalan Banda Aceh-Medan Km 1 Lueang Bata, Kota Banda Aceh. Panjang bon makanan mencapai 33 sentimeter. "Kami terpaksa membuat bon panjang karena menunya banyak. Hurufnya juga besar-besar agar terlihat," kata Sela menceritakan asal muasal pembuatan nota yang panjang itu. Namun, kalau diukur dari jumlah menu yang disajikan, bon makanan terpanjang ada di Rumah Makan Aceh Spesifik II di Jalan T Hasan Dek No 14, Kota Banda Aceh, dengan menu makanan dan minuman sebanyak 38 buah. Apabila pemilik rumah makan tidak memiliki bon makanan dengan identitas yang komplet, sebenarnya ia sendiri akan rugi. Identitas rumah makan pada bon makanan paling tidak akan mengingatkan orang mengenai nama rumah makan itu. Kedua, orang yang ingin kembali ke rumah makan itu akan mudah mengingat kalau pemilik mencantumkan alamat dan nomor telepon dengan jelas. Orang bisa mengingat kekhasan rumah makan itu jika pemilik mencantumkan menu makan yang disediakan dalam bon makanan. Pelanggan akan mudah teringat dengan menu khas rumah makan jika nama itu tercantum di nota. Suatu saat pembeli lupa, bon itu bisa dibuka, hingga ia akan terkenang dengan menu yang namanya kadang sulit diingat dan aneh. Coba saja, bagaimana Anda bisa mudah mengingat nama-nama menu di rumah makan Aceh, seperti sie reuboh, gule pliek, dan keumamah. Anggapan berikut ini tidak sepenuhnya benar, tetapi tanpa disadari kadang muncul dalam benak, bon makanan dari sebuah rumah makan yang dibuat seadanya akan memberi kesan bahwa menu makanan dan pelayanan di rumah makan itu juga seadanya. Silakan dicek!

Minggu, 17 Agustus 2008

POLITIK PANGAN

Kompas 15 Juli 2008
Kepemimpinan
Soekarno Menghadapi Krisis Pangan
Oleh Andreas Maryoto

Sejarah kepemimpinan di negeri ini bisa memberi banyak inspirasi. Kisah hidup dan juga perjuangan seseorang ketika menghadapi masalah bisa menjadi cermin bagi kita. Di antara rentang waktu hidupnya, pengalaman saat-saat menghadapi krisis mungkin yang paling banyak dicari untuk diambil hikmahnya.
Keputusan-keputusan dan pandangan hidup presiden RI pertama, Soekarno, telah banyak digali. Salah satu yang belum banyak digali adalah pandangan dan keputusan Soekarno ketika menghadapi krisis pangan. Hal ini menjadi aktual ketika dunia (dan juga Indonesia) tengah menghadapi krisis pangan.
Setidaknya ada tiga babak yang bisa dipelajari dari Soekarno ketika menghadapi krisis pangan, mulai dari Soekarno muda hingga diturunkan sebagai presiden pada tahun 1967.
Babak pertama
Babak pertama ketika Soekarno menjadi aktivis politik selepas mahasiswa. Sejumlah tulisannya, yang diterbitkan menjadi buku berjudul Di Bawah Bendera Revolusi, menyiratkan kegelisahannya terhadap rakyat yang kesulitan pangan pada tahun 1932-1933.
Soekarno membaca penderitaan rakyat melalui sejumlah media, seperti Darmokondo, Pertja Selatan, Aksi, Siang Po, Pewarta Deli, dan Sin Po.
Ia juga mengutip beberapa berita surat kabar dan majalah itu dalam beberapa tulisannya. Kutipan-kutipan itu memperlihatkan betapa rakyat menderita karena kekurangan pangan. Ia mengutip Pewarta Deli (7 Desember 1932), ”Di kota sering ada orang jang menjamperi pintu bui, minta dirawat dibui sadja, sebab merasa tidak kuat sengsara. Di bui misih kenjang makan, sedang di luar belum tentu sekali sehari….” Sementara dari Sin Po (27 Maret 1933) ia mengutip, ”Menjuri ajam sebab lapar. Dihukum djuga sembilan bulan.”
Dalam babak ini Soekarno tidak banyak melakukan aksi. Ia lebih banyak memotret penderitaan masyarakat yang sejak awal memang tertancap dalam batinnya. Keprihatinan seperti ini muncul yang di banyak buku diakuinya karena latar belakang keluarganya yang diakui miskin.
Cerita mengenai pertemuannya dengan petani bernama Kang Marhaen di Bandung selatan makin menunjukkan keberpihakannya. Nama Marhaen sendiri akhirnya dipakai oleh Soekarno untuk mencirikan petani Indonesia yang miskin tanpa tanah.
Di samping itu, di antara berbagai diskusi yang dilakukan setiap malam Minggu dalam pengasingan di Bengkulu (1938-1942), Soekarno memunculkan topik persoalan pangan. Salah satu topik yang sempat diperdebatkan adalah, ”Mana jang lebih baik, beras atau djagung, dan mengapa?”
Babak kedua Soekarno menghadapi krisis pangan adalah ketika ia ”bekerja sama” dengan Jepang menghadapi masalah ekonomi. ”Kerja sama” yang acap kali dituduh oleh banyak kalangan sebagai berkolaborasi dan tidak nasionalis itu mengharuskan Soekarno mencari akal di tengah upaya Jepang untuk mengambil beras milik rakyat sebagai logistik perang.
Masalah pertama
Masalah pertama yang muncul tak lama setelah Jepang mendarat adalah pasokan pangan bagi mereka. Ketika itu Soekarno berada di Padang, seperti dalam Bung Karno Penjambung Lidah Rakjat. Pasukan Jepang mengaku menghadapi persoalan beras yang rumit. Jepang meminta bantuan Soekarno sehingga bukan jalan kekerasan yang ditempuh.
Soekarno berpikir, lebih baik menyediakan beras itu dibanding menolaknya. Ia beralasan, bila permintaan itu ditolak, siksa akan menimpa rakyat. Ia kemudian meminta para saudagar beras agar menyediakan beras itu. Dalam waktu singkat, beras bisa didapat dan ia mengatakan, Jepang tidak kelaparan dan rakyat terhindar dari siksa.
Saat itu kesulitan pangan muncul di mana-mana. Jepang berusaha merampas beras milik rakyat. Akibatnya, hanya segelintir orang yang bisa memiliki beras. Setiap kali ada rakyat yang menyimpan beras, Jepang berusaha merampasnya.
Ketika di Jakarta, Soekarno yang telah menjadi Ketua Pusat Tenaga Rakyat (Putera) terdorong untuk meringankan penderitaan rakyat. Mengetahui masalah itu, Soekarno berpikir keras untuk mencari cara meringankan penderitaan rakyat.
”Aku berhasil mengumpulkan sedjumlah besar biji papaja dan membagikannja kepada setiap orang masing-masing dua butir. Buah-buahan jang enak ini kemudian tumbuh di setiap pendjuru pulau,” katanya menyebut salah satu upaya mengurangi penderitaan rakyat.
Melalui radio yang dilengkapi dengan pengeras suara (yang sengaja dibuat Jepang agar rakyat mendengarkan seruan Soekarno) di berbagai desa, Soekarno mengimbau rakyat agar memproduksi pangan selain beras.
”Saudara-saudara kaum wanita, dalam waktu saudara jang terluang, kerdjakanlah seperti jang dikerdjakan oleh Ibu Inggit dan saja sendiri. Tanamlah djagung. Di halaman muka saudara sendiri saudara dapat menanamnya tjukup untuk menambah kebutuhan keluarga saudara,” katanya. Menurut Soekarno, imbauannya ini manjur. ”Dan di setiap halaman bertunaslah buah djagung. Usaha ini ada ketolongannya,” katanya.
Pada masa menjelang akhir kepemimpinan Soekarno, 1960-an, ia juga menghadapi krisis pangan yang berat. Babak ketiga ini memperlihatkan Soekarno gagal menangani krisis pangan yang terjadi pada masa itu.
Dalam buku Bung Karno Penjambung Lidah Rakjat dikisahkan, di antara kesibukan-kesibukannya pada masa itu, Soekarno juga mempelajari angka- angka terakhir produksi beras.
Mengenai masalah pangan yang muncul saat itu, Soekarno beralasan, ”Dalam peperangan melawan kelaparan, produksi beras kami meningkat dua kali lipat, tetapi di samping itu pemerintah harus mengimpor lebih dari sejuta ton beras seharga hampir 1 juta dollar AS setahun. Ini akibat dari meningkatnya jumlah penduduk yang tidak seimbang dengan pertambahan produksi beras.”
Ia juga beralasan, pada zaman Belanda penduduk makan nasi sehari, tetapi setelah penjajahan, penduduk memerlukan makan tiga kali sehari. ”Setiap kemajuan menciptakan lebih banyak persoalan yang memusingkan kepala,” katanya.
Soekarno juga mulai menghadapi para spekulan. Saat itu Soekarno pun tak segan untuk menghadapi mereka. Ia mengatakan, ”Baru-baru ini aku mengeluarkan ancaman hukuman mati terhadap pengacau ekonomi. Seorang pemilik penggilingan padi menaikkan harga beras hingga membubung tinggi dengan melakukan penumpukan sebanyak enam ribu ton. Apabila nanti ternyata bersalah, maka aku, aku sendiri, akan menandatangani hukuman matinya.”
Krisis pangan yang melanda tidak mendorong Soekarno membuat program bantuan. Ia tetap berpendapat, ”menderita adalah memperkuat diri”. Ia menambahkan, ”Aku harus memberi makanan jiwa rakyatku, tidak saja memberi makan perutnya. Kalau aku menggunakan semua uang untuk membeli beras, mungkin aku dapat memerangi kelaparan mereka. Tapi, tidak. Apabila aku memperoleh uang lima dollar AS, aku harus mengeluarkan 2,5 dollar AS untuk tulang punggungnya. Dan mendidik suatu bangsa adalah sangat kompleks.”
Kemerosotan
Menurut Ketua Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial Universitas Negeri Medan Ichwan Azhari, awal dari krisis pangan saat itu adalah involusi atau kemerosotan pertanian yang telah terjadi sejak 1950-an, tetapi tidak ditangani pemerintah. Fragmentasi lahan mulai terjadi hingga produktivitas lahan merosot. Krisis pangan dinilai sebagai akibat dari masalah itu.
Masalah itu memuncak pada tahun 1960-an. Ichwan mengatakan, Soekarno tidak mengambil langkah strategis, tetapi malah terjebak pada berbagai retorika politik untuk mempertahankan kekuasaannya. Akibatnya, energi yang ada bukan untuk mencari cara menyelamatkan tekanan pertanian, tetapi malah membuat retorika politik.
”Retorika tidak mengimpor beras memang memperlihatkan sebuah upaya untuk kemandirian pangan. Semangat tidak mengimpor memang tinggi, tetapi tidak ada upaya untuk menyelamatkan lumbung padi. Dari sisi strategi, relatif tak ada penanganan yang memadai terhadap krisis pangan,” katanya.
Di luar berbagai spekulasi soal penyebab peristiwa G30S tanggal 30 September 1965 hingga kemudian Soekarno diturunkan dari kekuasaannya 1967, masalah pangan (khususnya beras) saat itu memang sangat berat. Inflasi kelompok makanan mencapai 685,36 persen. Harga beras naik 900 persen.
Soekarno terkesan sangat percaya diri dengan kebijakannya di tengah antrean-antrean rakyat yang menanti jatah beras. Soekarno sempat memarahi wartawan ketika ia melihat foto yang memperlihatkan rakyat tengah berebut beras. Soekarno diturunkan di tengah krisis pangan yang berat. (ANDREAS MARYOTO)